Jadi, kenapa harus ribut?
Saya tahu, menyebut Purwokerto sebagai kota itu salah, tidak akurat dan tidak sesuai dengan struktur pemerintahan. Tapi di luar itu semua, saya mulai bertanya: lalu kenapa? Apakah tiba-tiba batas wilayah bergeser? Atau apakah kita sebagai warga lokal jadi kehilangan identitas? Rasanya tidak.
Yang terjadi justru sebaliknya: komunikasi jadi lebih sederhana, lebih mudah dipahami, dan lebih cepat nyambung. Orang tidak perlu membuka Google Maps hanya untuk memastikan apakah mereka sedang berada di kota atau kecamatan.
Dan jujur saja, daripada saya capek menjelaskan hal yang sama berulang-ulang, yang ujungnya sering dibalas dengan “oh gitu ya, tapi yaudah sih”, lebih baik energi itu dipakai untuk hal lain yang lebih produktif.
Berdamai dengan “kesalahan” yang terlalu umum
Akhirnya saya sampai di satu titik: berdamai. Bukan berarti saya jadi tidak tahu atau tidak peduli. Saya tetap paham bahwa Purwokerto adalah kecamatan. Kalau ditanya dalam konteks serius atau formal, saya juga akan menjawab dengan benar.
Tapi untuk percakapan sehari-hari? Sudahlah. Kalau orang mau menyebutnya Kota Purwokerto, silakan. Saya bahkan mungkin akan ikut-ikutan. Bukan karena ikut salah, tapi karena memilih tidak memperpanjang sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.
Kadang, menjadi benar itu melelahkan kalau tidak diiringi dengan kebijaksanaan memilih kapan harus bicara. Dan untuk urusan ini, saya rasa kita semua boleh sedikit lebih santai.
Jadi, ya, selamat datang di Kota Purwokerto, atau Kecamatan Purwokerto, kalau kamu lagi ingin akurat. Pilih saja sesuai kebutuhan. Tidak perlu diperdebatkan panjang-panjang.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















