Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Purbalingga, Kabupaten yang Harusnya Kaya karena Industri Ekspor, tapi Malah Miskin, Apanya yang Salah?

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
28 Juni 2025
A A
Alun-Alun Purbalingga Tetap Bermasalah: Masih Tak Ramah bagi PKL dan Tak Kunjung Ada Solusi

Alun-Alun Purbalingga Tetap Bermasalah: Masih Tak Ramah bagi PKL dan Tak Kunjung Ada Solusi (Yitno Annafi via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Purbalingga seharusnya mustahil miskin melihat potensinya. Tapi, realitas jauh lebih nyata ketimbang prediksi dan analisis potensi

Dalam hidup, kita sering kali dihadapkan pada sebuah paradoks. Misalnya, ada orang pintar tapi kariernya biasa-biasa aja. Padahal, biasanya orang pintar selalu punya kesempatan lebih untuk mendapatkan karier yang cemerlang. Atau sebaliknya, sosok yang dianggap bodoh, nakal, dan nggak punya keterampilan, malah punya karier yang mentereng di perusahaan ternama. Yah ada faktor keberuntungan dan hal-hal lain di luar kalkuasi yang kadang bisa menjadi penentu nasib seseorang. Nah situasi yang sama juga berlaku untuk sebuah daerah. 

Di Jawa Tengah, ada beberapa daerah yang punya potensi bagus, mulai dari lokasi yang strategis, industrialisasi yang berkembang, dan kekayaan alam yang berlimpah. Tapi sayangnya, hal itu tidak mampu menjadikan daerah tersebut kaya. Sebaliknya mereka tenggelam dalam keadaan miskin. Nah salah satu daerah yang punya predikat seperti ini adalah Purbalingga.

Purbalingga adalah sebuah paradoks tentang daerah industri yang nggak memperlihatkan gemerlapnya kekayaan sebuah daerah. Pasalnya begini, di sana, terdapat beberapa industri berorientasi ekspor yang harusnya bisa jadi penggerak ekonomi daerah.

Di sana berdiri beberapa industri rambut dan bulu mata palsu yang orientasinya sudah ekspor. Setidaknya terdapat 19 perusahaan berasal dari penanaman modal asing (PMA) dan 10 penanaman modal dalam negeri (PMDN) di industri ini. Penyerapan tenaga kerjanya pun sebenarnya cukup signifikan.

Setidaknya industri ini mampu menyerap lebih dari 40 ribu tenaga kerja di perusahaan inti dan 23 ribu di perusahaan plasma (penyedia bahan baku atau sub kontraktor). Dari industri ini saja, Purbalingga menjadi magnet investasi yang signifikan.

Industri logam Purbalingga, dan lainnya

Apakah hanya itu saja? Tentu tidak. Purbalingga juga dikenal punya industri logam (knalpot) yang setidaknya didukung oleh 178 unit usaha. Setiap tahunnya mereka dapat memproduksi ratusan ribu knalpot yang jangkauannya adalah pasar nasional.

Purbalingga juga punya sektor pertanian yang tumbuh cukup baik, mulai dari padi, tanaman seperti hortikultura (stroberi, duku, kapulaga), serta perkebunan kelapa dan lada juga memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB.

Baca Juga:

Enaknya Hidup di Kecamatan Kembaran Banyumas: Dekat Kota, tapi Masih Asri dan Banyak Makanan Enak

Mahasiswa Baru Wajib Tahu, Fakultas Teknik Unsoed itu Bukan di Purwokerto, tapi di Purbalingga!

Tapi keseluruhan catatan di atas tidak mampu mendorong Purbalingga sebagai kabupaten yang baik dari sisi ekonomi. Kita mulai dari sisi pertumbuhan ekonominya. Nah data dari BPS menyebutkan kalau pertumbuhan ekonomi di daerah yang dijuluki Kota Perwira ini hanya 4,55 persen pada tahun 2024. Pertumbuhan ini sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan provinsi yaitu 4,90 persen. Padahal pada tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonominya sebenarnya sempat naik di angka 5 persen

Indikator lain

Indikator lain yang bisa dianalisis mengenai lesunya ekonomi Purbalingga itu dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang tergolong rendah, yaitu 33,36 juta per tahun. Jadi, sederhananya, rata-rata per individu di purbalingga itu menghasilkan pendapatan 33,36 juta per tahun atau setara 2.7 juta per bulan.

Angka ini tampak positif kalau dibandingkan dengan UMK Purbalingga yang berada di angka 2,3 juta, tapi ingat, itu nilai rata-rata ya. Kalau dilihat dari cakupan provinsi, angka ini sangat rendah. Bahkan pada periode sebelumnya PDRB per kapita daerah ini sempat di angka 20-an juta.

Angka PDRB yang rendah mengindikasikan kalau nilai tambah yang dihasilkan per individu masih kecil. Kondisi seperti ini biasanya terjadi di sebuah daerah yang industri padat karyanya memiliki tingkat upah yang mepet dengan UMK, sehingga keuntungannya lebih banyak dinikmati oleh pemilik modal atau mengalir ke luar daerah. Selain itu, bisa jadi, angka 33,36 juta itu ditopang oleh pendapatan segelintir orang di daerah tersebut kan?

Soalnya gini, dengan PDRB per kapita segitu, pengeluaran tahunannya pun tentu minim. Data dari BPS Purbalingga menyebutkan kalau pengeluaran per kapita warga Purbalingga Rp11,34 juta/tahun. Nah kira-kira pengeluarannya berapa ratus ribu per bulan tuh.

Angka kemiskinan yang memprihatinkan

Untuk memvalidasi bahwa daerah ini memang kategori miskin, nggak afdal rasanya kalau nggak melihat tingkat kemiskinannya. Setidaknya pada tahun 2024, tingkat kemiskinan di daerah ini tuh 14,18 persen, bahkan tahun sebelumnya sempat hampir menyentuh angka 15 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dari tingkat rata-rata kemiskinan provinsi dan nasional. Ini membuat Purbalingga sempat masuk dalam daftar 5 daerah termiskin di Jawa Tengah.

Bayangin, kamu punya industri ekspor di dalamnya, tapi penghunimu di dalam malah kebanyakan miskin. Paradoks nggak tuh.

Situasi ekonomi yang nggak ideal ini pada akhirnya berpengaruh juga pada Indeks Pembangunan Manusia di Purbalingga yaitu di angka 70,99. Kategori yang sebenarnya nggak buruk-buruk amat tapi tertinggal, bahkan dengan daerah nggak kreatif seperti Kendal yang IPM-nya di angka 74,34. Paling kentara adalah angka rata-rata lama sekolah di daerah ini hanya 7,36 tahun.

Artinya rata-rata penduduknya nggak tamat SMA (9 tahun). Ini mengindikasikan perlunya investasi besar dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusianya. Tapi ya sulit, lah wong pendapatan penduduknya hanya fokus untuk makan sehari-hari.

Pemerintah Purbalingga semestinya sudah tahu tentang ini

Jadi alur kronologis mengapa Purbalingga ini sebenarnya bisa kaya tapi malah miskin itu sederhana begini, tingkat pendapatan yang rendah ditambah angka kemiskinan yang tinggi membuat sektor ekonomi baru sulit tumbuh di daerah tersebut. Pengeluaran per kapita yang rendah menandakan kalau orang Purbalingga itu nggak doyan jajan. Sehingga sektor usaha dan pariwisata pun sulit untuk dikembangkan.

Yah wajar pengeluarannya rendah, kan upahnya juga kecil. Lapangan kerjanya pun hanya bertumpu pada industri besar yang nggak didorong melakukan hilirisasi industri turunan yang bisa membuka lapangan kerja baru.

Purbalingga bisa lepas dari lingkaran setan ini kalau, pemerintah melakukan intervensi ketat terhadap komponen pendapatan. Ini akan mendorong masyarakat akan menetap di Purbalingga karena punya ekspektasi pendapatan yang memadai. Jadi mereka nggak memilih merantau.

Di sisi lain, langkah yang perlu dibarengi adalah mendorong kualitas pendidikan sehingga produktivitas pun jadi naik. Kemudian mengembangkan sektor informal seperti UMKM dan pariwisata supaya menarik wisatawan untuk banyak berkunjung ke Purbalingga.

Semua rekomendasi di atas saya rasa sudah dipahami dengan baik oleh para pejabat daerah setempat. Tinggal mau diterapkan atau tidak.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menghitung Gaji dan Biaya Hidup yang Masuk Akal untuk Hidup Enak dan Layak Di Malang 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Juni 2025 oleh

Tags: ekspor purbalinggaindustri knalpotindustri logampurbalingga
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Purbalingga Masa Kini Menjadi Kabupaten yang Tidak Ramah (Unsplash)

Purbalingga Masa Kini Menjadi Kabupaten yang Tidak Ramah

27 November 2023
Melihat Persaingan Sengit Teh Kota dan Teh Desa di Purbalingga, Siapa Jawaranya?  Mojok.co

Melihat Persaingan Sengit Teh Kota dan Teh Desa di Purbalingga, Siapa Jawaranya? 

6 Desember 2023
Bobotsari, Kecamatan di Kabupaten Purbalingga yang Lebih Maju Dibanding Pusat Kotanya Mojok.co

Bobotsari, Kecamatan di Kabupaten Purbalingga yang Lebih Maju Dibanding Pusat Kotanya

7 Desember 2023
Kecamatan Sumbang, Jalur Alternatif Purbalingga-Purwokerto yang Mulai Dilalui Bus dan Kondisinya Nggak Terurus

Kecamatan Sumbang, Jalur Alternatif Purbalingga-Purwokerto yang Kondisinya Nggak Terurus

16 Juni 2023
Kalimanah, Kecamatan di Purbalingga yang Lebih Lengkap Fasilitasnya daripada Pusat Kota

Kalimanah, Kecamatan di Purbalingga yang Lebih Lengkap Fasilitasnya daripada Pusat Kota

10 April 2024
4 Keunikan UIN SAIZU Purwokerto yang Nggak Ada di Kampus Lain purwasera uin saizu

Hal-hal Menyebalkan yang Hanya Bisa Dipahami Mahasiswa UIN SAIZU Purwokerto

22 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.