In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku

In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku Mojok.co

In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku (unsplash.com)

Jangan buru-buru membayangkan betapa enak mendapat warisan. Asal tahu saja, sebelum warisan itu benar-benar jadi milik kita, ada banyak hal yang perlu diurus. Apalagi kalau warisannya berupa rumah. 

Mempertahankan rumah warisan itu butuh biaya yang tidak sedikit. Ada biaya perawatan, pajak, hingga pemeliharaan lingungan. Itu baru soal biaya, belum lagi kalau ada sengketa kalau ahli warisnya ada banyak. Intinya, dapat rumah warisan tidak seindah bayangan kalian. 

Sementara, kalau mau dijual ternyata susah laku, apalagi in this economy. Namanya rumah waris, sudah pasti bekas. Belum tentu setiap bagian rumah kondisinya baik. Kalau mau dijual dalam kondisi yang sangat baik demi menaikkan harga jual, butuh renovasi. Sedangkan renovasi, butuh uang. Nggak semua ahli waris mau dan mampu untuk patungan.

Terlalu banyak ahli waris bikin ribet

Budenya ibu saya nggak punya anak. Suami dan saudara-saudaranya telah wafat. Beliau memiliki rumah. Walhasil ketika wafat, yang menjadi ahli waris rumahnya adalah para keponakannya. Sementara, keponakannya ada 20 orang lebih.

Almarhumah budenya ibu saya, meninggalkan rumah yang letaknya di kawasan elite Jakarta Timur. Rumahnya cukup luas. Untuk biaya lingkungannya saja bisa sampai ratusan ribu per bulan.

Berbeda jauh dengan lingkungan rumah saya yang iuran RT-nya hanya Rp30.000 per bulan. Belum lagi pajaknya. Itu mengapa, mengurus rumah waris tersebut terasa cukup berat bagi keluarga.

Bukannya meringankan, terlalu banyak ahli waris malah bikin tambah ribet. Sekedar membantu membersihkan rumah atau patungan untuk biaya, sulit. Ujung-ujungnya, yang rela aja yang turun tangan.

Sebenarnya nggak bisa disalahkan juga. Kondisi tiap ahli waris beda. Ada yang tinggalnya di luar kota, ada yang untuk hidupnya pas-pasan. Yah meskipun, banyak juga yang nggak peduli dan menuntut untuk cepat dijual aja. Biar, bisa dapat uang warisan.

Menjual rumah warisan pun nggak bisa asal, perlu mempersiapkan banyak dokumen

Pilihan terbaik soal rumah waris, memang dijual. Namun, menjual rumah juga nggak mudah. Langkah awal, berkaitan dengan pengurusan dokumen. Semakin memakan tenaga dan waktu karena ahli warisnya nggak semua tinggal di kota yang sama.

Apalagi karena ahli warisnya sampai 20 lebih, butuh ke pengadilan untuk menetapkan siapa saja ahli waris yang pantas secara hukum dan agama. Harus ada ahli waris yang mau repot dan berkorban. Kalau semua cuma mau terima beres, pada akhirnya rumah tersebut hanya akan jadi rumah terbengkalai.

Minimal, dokumen yang diperlukan untuk mengurusnya adalah akta kematian pewaris dan surat turun waris. Permasalahannya, dokumen penyerta untuk mengurus surat turun waris itu banyak. Mulai dari KTP ahli waris, akta kelahiran, bahkan bisa sampai surat nikah.

Mengumpulkan berkas-berkas tersebut kedengarannya mudah, tapi kendala pasti ada. Dokumen hilang salah satu kendalanya. Tambah ribet, kalau kasusnya turun waris, lalu turun waris lagi.

Rumah yang masih ditempati biasanya menimbulkan persoalan baru

Lain hal dengan rumah peninggalan almarhumah nenek saya. Nenek saya sudah lama wafat. Tapi, karena ditinggali oleh uak saya dan keluarganya, rumah tersebut nggak kunjung dijual.

Niat awalnya, mau dipertahankan dan dibeli oleh uak saya. Belum sempat terlaksana, uak saya wafat. Sedangkan anak-anaknya, nggak ada niat membeli rumah tersebut sebagaimana niat orang tuanya.

Saat ditempati oleh uak saya, ahli waris lain memang nggak perlu mengeluarkan biaya. Semua ditanggung keluarga uak saya sebagai konsekuensi mereka tinggal di sana. Tapi, tetap aja ada dramanya. Mereka yang tinggal di sana merasa sudah  banyak berkorban. Untungnya, konflik masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Permasalahan paling utama, rumah tersebut jadi tertunda lama untuk dijual dan dibagi warisnya. Sedangkan, yang diuntungkan hanya satu pihak. Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun jatuh waris, rumah tersebut diputuskan dijual dengan kondisi apa adanya.

Menjual rumah warisan butuh keburuntungan sekarang ini

Namanya juga rumah lama, kondisinya usang dan perlu renovasi. Tapi, karena nggak ada biaya, diputuskan dijual apa adanya. Kami skeptis bisa mendapatkan harga yang baik, karena kondisi rumah yang apa adanya dan lokasinya di perkampungan.

Beruntungnya nggak lama setelah banner rumah dijual dipasangkan, ada beberapa penawaran masuk. Penawaran paling tinggi datang dari tetangga sebelah rumah. Mereka tertarik membeli rumah tersebut karena katanya membawa hoki.

Entah sumbernya dari mana, mereka berkali-kali menegaskan kalau rumah tersebut membawa keberuntungan bagi mereka. Mereka berharap jangan sampai rumah tersebut dibeli orang lain. Sampai saat ini saya berkesimpulan kalau rumah almarhumah nenek saya itu laku karena terbantu takhayul.

Sekarang, penampakan rumah dijual sangat sering saya temui. Mulai dari yang dekat rumah saya di kawasan Jakarta Timur, sampai saat saya pergi ke kawasan Jabodetabek lainnya. Selalu ada aja rumah dijual. Mulai dari yang bagus, bobrok, sederhana, sampai mewah. 

Kalau lihat kondisinya, saya yakin, banyak di antaranya merupakan rumah waris yang belum laku-laku. Saya yakin juga kalau rumah-rumah itu mengalami salah satu persoalan yang saya sebutkan di atas. 

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pembagian Warisan Bisa Bikin Kaya Mendadak Sekaligus Tiba-tiba Kehilangan Saudara.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version