Cerita ini bermula ketika saya akan menjalankan magang kampus. Jarak antara tempat magang dan rumah yang cukup jauh mengharuskan saya mengendarai motor sendiri.
Demi menaati peraturan dan keselamatan diri agar tidak ditilang, saya memutuskan untuk membuat SIM C. Niat awal saya sebenarnya sederhana. Mau nembak sim C saja alias pakai calo. Alasannya simpel, takut tidak lulus yang berujung ribet.
Akan tetapi, niat ini berhenti ditengah jalan. Setelah cari-cari informasi ke beberapa teman dan tetangga, nembak SIM C ternyata tidak murah, harus bayar Rp800.000 hingga Rp1 juta.
Angka tersebut tergolong fantastis untuk sebuah kartu lisensi berkendara. Kalimat ini bukan berarti saya meremehkan nilai SIM ya. Saya menyadari bahwa SIM itu sangat penting. Kartu ini merupakan tanda bahwa pengendara sudah memenuhi syarat untuk bisa berkendara di jalan raya, dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Namun, tetap saja, bagi kaum mendang-mending, rasanya eman banget harus mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membuat SIM, padahal masih ada alternatif lain untuk mendapatkannya.
Setelah menghitung ulang estimasi biaya operasional, biaya resmi pembuatan SIM C lewat jalur resmi, mulai dari tes kesehatan, psikologi, hingga penerbitan sebenarnya hanya habis di angka Rp200.000-an. Selisih sekitar Rp600.000 itu jelas angka yang cukup besar. Dari situ saya berujar dalam hati, Rp600.000 bisa dipakai buat beli dimsum, gacoan, dan bakso sepuasnya. Jadi ya mending saya tes secara resmi saja lah.
Memantapkan diri untuk tes SIM C tanpa nembak
Dengan bekal cerita kakak saya yang beberapa tahun lalu pernah tes SIM resmi, saya memantapkan diri untuk tes secara langsung. FYI, ujian pertama dimulai dengan tes kesehatan dan psikologi. Untuk tahap awal ini prosesnya cepat dan lancar jaya. Tidak sampai 1 jam tes ini sudah saya lalui.
Setelah lulus, saya diarahkan untuk datang ke Satuan Penyelenggaraan Administrasi Surat Izin Mengemudi (Satpas) untuk melanjutkan tes selanjutnya. Sebagai informasi, tempat tes psikologi SIM di Bojonegoro berada di luar Satpas ya lur.
Sampai Satpas saya diarahkan untuk ambil antrian dan ambil foto untuk SIM, setelahnya langsung disuruh pulang. Bingung dong, kok cuma gini? Dari sinilah saya tau, mengapa banyak orang yang memilih nembak SIM daripada tes resmi. Saat memasuki tahap tes komputer atau tes teori, di sini proses pembuatan SIM mulai melambat drastis.
Karena jumlah pemohon yang membludak, jangan pernah berharap bisa langsung tes teori di hari yang sama. Petugas memberikan jadwal bahwa saya baru bisa mengikuti tes komputer pada minggu depan. Jadi, konsep “serba hari ini” yang saya bayangkan langsung gugur seketika.
Berhasil tes teori setelah mengulang
Satu minggu kemudian, saya datang sesuai jadwal untuk tes teori. Dan, tebak apa yang terjadi? Saya gagal di percobaan pertama. Karena tidak mau mengulanginya lagi minggu depannya. Saya memutuskan untuk maraton menonton tutorial soal-soal tes teori SIM C di YouTube sepanjang malam.
Beruntung, sistem mengizinkan untuk mencoba lagi di hari berikutnya. Lewat jalur belajar kbeut semalam via YouTube, pada percobaan berikutnya akhirnya saya lulus dengan nilai 90, mantap kan!
Akan tetapi, kemenangan kecil itu belum ada apa-apanya dibandingkan tes praktik yang menguras tenaga dan emosi. Pada tes praktik inilah angka akumulasi bolak-balik saya genap menjadi enam kali.
Jalur yang disediakan bukan cuma rute meliuk-liuk angka 8 atau huruf S yang legendaris itu, tetapi ada juga sesi ujian tes parkir. Uniknya, lokasi tes parkir ini bukan dilakukan di dalam area simulasi tertutup di Satgas, melainkan mengambil setting langsung di tepi jalan raya depan kantor tersebut.
Orang Bojonegoro pasti tidak heran jika ada segerombol orang-orang yang memakai rompi hijau atau oren yang mengelilingi Alun-alun Bojonegoro. Nah itulah yang saya lakukan.
Ketentuan tes praktik tidak dijelaskan secara rinci dan bikin geleng-geleng kepala
Sebelum mulai mengelilingi alun-alun untuk tes praktik lanjutan, petugas melakukan pengecekan lampu, STNK dan TBPKP (Tanda Bukti Pelunasan Kewajiban Pembayaran) yang dipasang di sebelah STNK itu lho. Di mana ketentuan ini tidak diberitahukan sebelumnya. Alhasil, beberapa orang yang tidak tahu terpaksa harus mengundurkan diri dan datang lagi keesokan harinya.
Bahkan, ketika saya minta solusi kepada petugas bahwa saya lupa mencetak TBPKP baru sebab membayar pajak lewat online, petugasnya cuma bilang, “Yo ndang dicetak to.” Sebagai orang yang pertama kali bikin SIM dan masih kurang paham alurnya tentu bingung. Apalagi tidak diberikan penjelasan sama sekali sebelumnya. Akhirnya, saya cuma bisa pasrah dan pinjam motor kepada orang random. Beruntung ada orang baik yang mau membantu.
Back to story, setelah saya menyelesaikan tes praktik tersebut, ternyata saya tidak langsung lulus. Semua peserta yang gagal tidak diberitahu apa kesalahannya. Bahkan, petugas tidak memberikan briefing secara mendetail mengenai aturan-aturan kecil saat memarkir kendaraan.
Padahal, hal-hal sepele itulah yang justru menjadi penentu kelulusan. Mulai dari detail di mana posisi helm harus diletakkan, bagaimana posisi kunci kontak, hingga keharusan mengunci stang kendaraan saat mesin dimatikan.
Pelajaran dari bikin SIM tanpa nembak
Semua peserta hanya bisa menggali informasi dari peserta yang sudah lolos. Karena tidak ada solusi lagi, giliran tanya petugas mengenai ketentuannya, beliau-beliau ini cuma bilang, “Lihat o YouTube, mosok ngono ae nggak ceto.” Padahal, tidak ada video resmi yang menyediakan ketentuan tes praktik parkir tersebut. Saya jadi teringat istilah “rakyat bantu rakyat”. Karena memang petugasnya tidak memberikan penjelasan sama sekali, giliran ditanya jawabannya jutek.
Dari semua rangkaian drama bolak-balik 6 kali demi mendapatkan SIM ini, saya menarik satu kesimpulan yang cukup kontemplatif. Pilihan dalam membuat SIM sebenarnya sederhana dan murni masalah kompromi personal.
Jika kamu adalah tipe orang yang sangat sibuk, tidak punya banyak waktu luang untuk bolak-balik mengurusnya, dan punya dana lebih, jujur jalur resmi ini lumayan menantang.
Prosesnya memang memakan waktu berpekan-pekan dan memaksa kita untuk bersabar. Tapi, buat saya, bolak-balik 6 kali demi mengamankan selisih Rp600 ribu itu cukup worth it. Setidaknya, ada rasa bangga tersendiri saat SIM itu jadi dan didapat dari perjuangan.
Penulis: Rohmatul Hidayah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mengurus STNK Hilang Lebih Menjengkelkan daripada Kehilangan Itu Sendiri.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.