Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kuliah di Kampus Unggulan Belum Tentu Sukses, tapi UKT Terasa Nggak Sia-sia karena Fasilitasnya Layak

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
20 Juni 2025
A A
Kuliah di Kampus Unggulan Belum Tentu Sukses, tapi UKT Terasa Nggak Sia-sia karena Fasilitasnya Layak Mojok.co

Kuliah di Kampus Unggulan Belum Tentu Sukses, tapi UKT Terasa Nggak Sia-sia karena Fasilitasnya Layak (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak orang berpendapat, tidak masalah bagi seseorang tidak masuk kampus unggulan atau kampus top di Indonesia. Toh, pada akhirnya, lulus dari kampus unggulan juga belum tentu langsung dapat kerja. Pendapat tersebut memang tidak salah dan cukup relevan dengan kondisi sekarang ini. 

Akan tetapi, lebih bijak kalau kita tidak menutup mata terhadap berbagai kelebihan yang dimiliki kampus unggulan. Misal, kampus unggulan punya jaringan relasi yang lebih luas dan fasilitas kuliah lebih lengkap. Tidak terkecuali, alat praktik dan laboratorium yang memadai. 

Fasilitas semacam itu bukan sekadar pelengkap. Fasilitas itu jadi faktor penting dalam proses belajar mahasiswa. Terutama di jurusan-jurusan yang menuntut keterampilan teknis. Mahasiswa dari kampus top tentu akan lebih terbiasa bersentuhan langsung dengan teknologi dan peralatan terkini yang membuat mereka lebih siap ketika terjun ke dunia kerja.

Bukan berarti mahasiswa dari kampus lain tidak bisa bersaing. Namun, sulit memungkiri, mereka yang berasal dari kampus kurang beken sering kali harus bekerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan akibat minimnya fasilitas penunjang tersebut. 

Jadi, alih-alih sekadar membandingkan “kampus top vs bukan”, akan lebih sehat jika kita memahami bahwa kualitas pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh ekosistem pendukungnya. Dan, dalam hal ini, kampus unggulan memang punya kelebihan. Mahasiswa yang membayar UKT pun terasa lebih ikhlas dan tidak sia-sia karena kembali dalam bentuk yang sepadan. 

Kampus, tapi fasilitasnya nggak lengkap

Kampus unggulan atau kampus top biasanya identik dengan kampus negeri. Faktanya, tidak sedikit kampus swasta yang justru lebih mending dari segi fasilitas, program pembelajaran, hingga kemitraan dengan dunia industri. Kampus-kampus ini lebih berani berinvestasi besar dalam laboratorium, teknologi terbaru, dan sistem pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Persoalannya, belakangan ini menjamur kampus-kampus baru yang hadir bukan dengan visi pendidikan yang kuat, melainkan sekadar menjual harapan. Mereka biasanya mengklaim akan mencetak lulusan unggul yang bisa langsung kerja, tapi tidak menyediakan fasilitas yang layak, seperti laboratorium yang mendukung. Bahkan, kadang tenaga pengajarnya pun masih minim dengan pengalaman praktik.

Padahal, bagaimana mahasiswa bisa berkembang jika dari awal kampusnya sendiri tidak mampu menyediakan alat untuk bertumbuh? Mahasiswa yang unggul bukan muncul karena motivasi semata, tapi juga karena didukung oleh lingkungan belajar yang sehat dan sumber daya yang memadai. Tanpa itu semua, kuliah bukan jadi jalan menuju masa depan, tapi sekadar rutinitas empat tahun yang penuh kekurangan bahkan kesia-siaan.

Baca Juga:

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Proses kuliah bisa terhambat

Bertambahnya jumlah kampus baru memang membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengecap pendidikan tinggi. Namun, tanpa dibarengi dengan penyediaan fasilitas yang memadai, ini justru berpotensi menimbulkan persoalan baru. Berdasarkan cerita beberapa rekan yang mengambil jurusan teknik di salah satu kampus swasta, mereka kerap dihadapkan pada keterbatasan alat praktik. Bahkan, mereka sampai harus membayangkan sendiri bentuk dan cara kerja mesin yang tidak tersedia. 

Situasi serupa juga dialami mahasiswa jurusan kesehatan yang hanya bisa mempelajari anatomi lewat gambar dua dimensi. Mahasiswa komunikasi yang belajar produksi video semata dari teori, tanpa pernah benar-benar menyentuh peralatan produksi secara langsung.

Tidak mengejutkan jika keterbatasan alat praktik memaksa mahasiswa untuk “melancong akademik” ke kampus lain. Namun, proses peminjaman alat ini jauh dari kata sederhana. Mahasiswa sering kali harus melewati prosedur administratif yang berbelit dan menyita waktu. Belum lagi harus merogoh kocek tambahan untuk sekadar bisa mengakses peralatan yang seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran di kampus sendiri. 

Ironisnya, di tengah mahasiswa yang berjuang keras karena keterbatasan fasilitas, pihak kampus tetap gencar mempromosikan diri seolah memiliki semua fasilitas penunjang yang dibutuhkan lengkap, modern, dan siap bahkan siap direkrut kerja.

Kampus unggulan memang tidak bisa dianggap remeh

Pada akhirnya, kampus unggulan memang tidak bisa diremehkan begitu saja. Meski tidak serta-merta menjamin kesuksesan, keberadaan fasilitas yang lengkap, dosen berpengalaman, dan ekosistem belajar mendukung membuat kampus semacam ini memiliki nilai lebih. 

Kampus unggulan memberi peluang lebih besar bagi mahasiswa untuk tumbuh dan berkembang, baik secara akademik maupun keterampilan praktis. Ketika dunia kerja menuntut kesiapan teknis dan mental, lulusan dari kampus yang sudah terbiasa dengan fasilitas memadai tentu punya langkah awal yang lebih mantap.

Oleh sebab itu, memilih kampus bukan perkara sepele. Layaknya memilih pasangan hidup, butuh pertimbangan soal “bibit, bebet, dan bobot”. Mulai dari reputasi institusi, kualitas pembelajaran, hingga kelengkapan alat praktik. Jangan mudah terbujuk oleh brosur kinclong atau slogan bombastis yang ujung-ujungnya cuma pencitraan. 

Kuliah di kampus yang fasilitasnya terbatas bukan cuma menyulitkan proses belajar, tapi juga bisa menguras waktu dan biaya tanpa hasil yang sepadan. Eman-eman jika setelah lulus yang tersisa hanya penyesalan karena merasa tidak memiliki cukup bekal untuk menghadapi dunia kerja yang penuh tantangan dan gebrakan ini.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Gagal Seleksi Masuk UGM Nggak Bikin Dunia Kalian Berakhir dan Hidup Kalian Akan Tetap Baik-baik Saja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2025 oleh

Tags: Kampuskampus unggulan
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Kampus Bukan Tempat untuk Main Tentara-tentaraan

Kampus Bukan Tempat untuk Main Tentara-tentaraan

14 Mei 2023
Fakta Pahit Jurusan Arkeologi yang Memikat tapi Sepi Peminat

Fakta Pahit Jurusan Arkeologi yang Memikat tapi Sepi Peminat

9 Januari 2023
Prilly Latuconsina Jadi Dosen Praktisi UGM, Apa Itu Dosen Praktisi Terminal Mojok

Prilly Latuconsina Jadi Dosen Praktisi UGM, Apa Itu Dosen Praktisi?

29 September 2022
Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau (Unsplash.com)

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau

3 Oktober 2022
CFD Universitas Negeri Malang (UM): Bukan Cuma Bikin Sehat, tapi Juga Bikin Sambat

CFD Universitas Negeri Malang (UM): Bukan Cuma Bikin Sehat, tapi Juga Bikin Sambat

3 Desember 2023
Timses Calon Ketua BEM Adalah Profesi yang Nggak Sia-sia terminal mojok.co

Timses Calon Ketua BEM Adalah Profesi yang Nggak Sia-sia

5 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

12 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal Mojok.co

Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal

14 Maret 2026
Bisnis Mobil Rental: Keuntungannya Selangit, Risikonya Juga Selangit rental mobil

Rental Mobil demi Gengsi Saat Pulang Kampung Lebaran Adalah Keputusan yang Goblok

12 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.