Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Porsi Soto di Jawa Sedikit Bukan Berarti Orang Jawa Pelit, Simak 4 Alasan Ini!

Tiara Uci oleh Tiara Uci
12 September 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Setelah perdebatan bubur diaduk atau tidak diaduk mereda, kini netizen di Twitter meributkan porsi soto di Jawa dan kebiasaan makan orang Sumatra. Perdebatan ini sampai trending di Twitter. Ini berawal dari satu orang Sumatra yang mengeluh kalau soto di Jawa terutama Jawa Tengah dagingnya cuma empat iris.

Kemudian, ini disusul oleh komentar orang lain yang mengatakan bahwa orang Sumatra terbiasa makan bermewah-mewahan, lauknya empat sampai lima macam dan pantang makan tidak enak. Pokoknya, orang Sumatra itu tidak pelit soal makanan. Sebagai orang Jawa yang sejak lahir sampai dewasa tinggal di Jawa, dibesarkan oleh ibu dan bapak Jawa, tanpa blesteran suku mana pun, saya ingin meluruskan perihal soto dan lauk makanan kami yang katanya sedikit itu.

ADVERTISEMENT

Pertama, soto di Jawa banyak variannya. Di antaranya ada Soto Kudus, Soto Sokaraja, Soto Pekalongan, Soto Sulung Surabaya, Soto Lamongan, dan masih banyak lagi. Isiannya pun bermacam-macam tidak hanya suwir ayam, ada soto isi daging, isi jeroan, bahkan di Banyuwangi soto isi rujak, namanya rujak soto. Jadi, mengatakan soto di Jawa hanya isi ayam empat suwir itu generalisasi yang keliru. Ada banyak, kok, warung soto di Jawa yang suwiran ayamnya lebih dari empat. Hehehe.

Bagi kalian orang Sumatra yang kebetulan merantau di Jawa, sudah sewajarnya sampeyan beradaptasi dengan makanan di Jawa. Masa kami yang orang Jawa justru diminta beradaptasi dengan selera pendatang? Kan, nggak begitu, dong. Pepatahnya kan berbunyi, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Bukan, di mana bumi di pijak, di situ orang Sumatra dijunjung.

Kedua, orang Jawa terbiasa makan sedikit. Ini berlaku untuk semua jenis makanan, tidak hanya soto. Jika mau bukti, silakan datang ke angkringan dan ambil saja nasi kucing. Porsinya sekepal tangan bayi dan diisi teri tiga biji. Namun, bagi perempuan Jawa seperti saya, makan dua bungkus nasi kucing sudah kenyang. Untuk mas-mas, biasanya mereka makan empat bungkus nasi kucing, ditambah tiga tusuk sate, dan segelas kopi sudah merasa kenyang. Setidaknya itu yang sering saya lihat di angkringan.

Meskipun tetap ada warung yang menyediakan nasi dalam porsi besar, biasanya kami menyebutnya nasi porsi kuli. Di Jawa, kuli artinya pekerja bangunan, sebuah profesi yang mengandalkan kemampuan fisik. Menjadi kuli dianggap memiliki tubuh yang membutuhkan jumlah kalori lebih besar sehingga porsi makan nasi kuli dibuat lebih banyak.

Saat masih berkuliah, saya bersama teman-teman dan mahasiswa misquen lain sering sekali membeli makan di warung porsi kuli ini. Biasalah, mahasiswa kampung, uang minim, tapi butuh kalori banyak. Siasat bertahan hidup paling mujarab adalah beli nasi porsi kuli. Pasalnya, kami hanya perlu membeli makan satu kali untuk sarapan pagi sekaligus makan siang. Hehehe.

Ketiga, sebagai orang Jawa, kami memang terbiasa makan dengan satu lauk di atas piring. Misalkan makan pecel lauknya telur saja, tidak ada ayam, ikan, apalagi daging yang disajikan di atas piring secara bersamaan. Mentok, nasi pecel lauk telur tambahannya tempe atau peyek. Karena terbiasa seperti itu sejak kecil, ketika dewasa dan kebetulan membeli nasi padang, saya juga tidak pernah membeli dengan lauk lebih dari satu.

Baca Juga:

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

7 macam soto paling nyeleneh yang nggak ada salahnya dicicipi sekali seumur hidup

Akan tetapi, semua itu kami lakukan bukan karena kami pelit. Sebagai orang Jawa, kami dididik untuk gemi dan laku tirakat. Maksudnya, memakan sesuatu secukupnya dan tidak berlebihan. Tapi harus digaris bawahi, kami tidak pelit makanan apalagi kepada orang lain. Di Jawa, makan dengan menu satu lauk dan apa adanya hanya berlaku bagi individu atau orang dalam satu keluarga tersebut.

Untuk orang lain, kami bersikap sebaliknya. Silakan perhatikan nasi berkat yang umum disediakan orang Jawa saat selametan (hajatan). Dalam nasi berkat, kita akan bertemu ragam lauk dan sayur. Biasanya ada ayam, tahu-tempe bumbu bali, serundeng daging, sambel goreng ati yang dibumbu bersama irisan kentang. Tidak ketinggalan kami berikan pencuci mulut, entah pisang atau makanan ringan berupa jajan pasar.

Jarang sekali ada orang Jawa yang memberi nasi selametan isinya hanya nasi sayur dan lauk telur. Bagi kami, memuliakan orang lain itu penting apalagi tamu. Orang Jawa ketika ada tamu, segala makanan yang dia punya akan dikeluarkan. Meskipun kami sering berkata, “Maaf adanya hanya ini, silakan dimakan,” itu basa-basi saja, pura-pura merendah, padahal di meja akan kalian dapati beraneka ragam jajanan dan minuman.

Orang Jawa memang terbiasa menggunakan kata-kata merendah seperti, “Mampir di gubuk saya,” padahal rumahnya besar. “Monggo didahar seadanya,” (silakan dimakan seadanya) padahal hidangannya mewah.

Sepertinya, attitude seperti ini warisan raja Jawa zaman dulu yang meminta rakyatnya untuk selalu merendahkan diri. Jalan saja kami disuruh merangkak, kok. Akhirnya, ini kebawa sampai sekarang, kesannya jadi hobi banget merendah.

Keempat, sebagai orang Jawa, saya mewakili pedagang makanan yang jualan dengan porsi lauk soto dalam jumlah sedikit, ingin meminta maaf kepada pembeli, kalau hidangan kami dirasa kurang banyak. Tak lupa, kami meminta pada orang yang beli soto seharga Rp5 ribu di Jawa Tengah, tapi minta lauk banyak, tolong untuk dipikirkan ulang, ya. Kalau Rp5 ribu dapat soto dengan suwiran ayam satu ekor, warungnya bangkrut dong, ah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2021 oleh

Tags: Makananpilihan redaksiSoto di JawaSumatra
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Gang 41 Ngaliyan Semarang, Gang Sempit yang Jadi Pintu Doraemon Mahasiswa UIN Walisongo

Gang 41 Ngaliyan Semarang, Gang Sempit yang Jadi Pintu Doraemon Mahasiswa UIN Walisongo

2 November 2023
5 Kebohongan tentang Kota Semarang yang Telanjur Dipercaya

5 Kebohongan tentang Kota Semarang yang Telanjur Dipercaya

18 Agustus 2022
Kenapa Banyak Kucing Berdatangan setelah Kita Memberi Makan Kucing Liar_ terminal mojok

Kenapa Banyak Kucing Berdatangan setelah Kita Memberi Makan Kucing Liar?

26 September 2021
Kisah Nelangsa Baliho Kepak Sayap Kebhinekaan terminal mojok.co

Baliho di Jogja Angkuh Mengotori Pandangan ketika Alam Sudah Murka

29 Maret 2022
Ahmad Dhani dan Kenangan tentang Kontroversi Konyol Lagu Satu terminal mojok

Ahmad Dhani dan Kenangan tentang Kontroversi Konyol Lagu Satu

7 November 2021
Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

12 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.