Kuliah di politeknik memiliki atmosfer yang sangat berbeda dibanding kampus non-politeknik. Sejak semester awal, ritme hidup sudah diset untuk akrab dengan bau pupuk kandang, dinginnya laboratorium praktikum, atau lumpur di sawah.
Tidak ada perdebatan yang panjang, yang ada hanyalah target yang harus selesai tepat waktu. Di tengah rutinitas itu, ada satu tradisi yang bagi banyak mahasiswa universitas dianggap harga mati. Tapi bagi kami, penghuni kampus vokasi, sering kali hanya menjadi angin lalu yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Ketidakhadiran pengalaman ini sering memicu stigma bahwa kami adalah lulusan yang kering akan empati. Padahal fokus kami sejak awal memang berlari kencang pada praktik kerja lapangan (PKL) yang menuntut totalitas.
Obsesi pada kemampuan dunia industri
Di politeknik, kami dididik untuk menjadi mesin yang efisien. Standar keberhasilan diukur dari seberapa mahir kami mengoperasikan mesin, seberapa bersih kode program yang dibuat, atau seberapa akurat hasil analisis di laboratorium. Saya menghabiskan hampir seluruh waktu luang di kebun praktikum dan laboratorium, berusaha mengasah skill agar ketika lulus nanti, tidak ada perusahaan yang meragukan kompetensi.
Bagi saya, penguasaan teknis adalah bentuk pengabdian paling jujur yang bisa saya tawarkan kepada masa depan.
Kami terbiasa dengan bahasa instruksi dan alat-alat bertegangan tinggi. Ketika mahasiswa lain mungkin menghabiskan waktu berdiskusi tentang dinamika sosial di posko KKN, kami justru sedang bergelut dengan deadline laporan teknis atau perbaikan sistem yang rusak.
Saya tidak menafikan pentingnya kehidupan sosial, tetapi waktu kami sudah habis terkuras untuk memastikan bahwa ketika kami terjun ke dunia kerja, kami tidak menjadi beban bagi industri. Banyak pihak menganggap bahwa tanpa KKN, kontribusi sosial kami tidak ada. Padahal, bagi kami, ketepatan solusi teknis adalah cara kami melayani dunia.
Mengartikan ulang pengabdian
Pengabdian tidak harus selalu berwujud tidur di rumah warga selama satu bulan atau melakukan pengecatan gapura desa. Sebagai mahasiswa politeknik, cara kami mengabdi memang berbeda. Jika mahasiswa universitas membawa narasi pemberdayaan masyarakat melalui interaksi sosial, kami membawa solusi teknis yang pragmatis. Membantu membetulkan instalasi listrik desa saat PKL atau memperbaiki sistem digital UMKM adalah bentuk pengabdian nyata, meski tidak dibungkus dalam formalitas laporan KKN.
Masalahnya, kami sering kali gagal mengomunikasikan hal ini dengan cara yang manusiawi. Kami terlalu sibuk dengan hasil, sehingga sering dianggap sebagai kelompok yang lebih memilih untuk bersembunyi di ruang kerja. Padahal, setiap kali kami mampu menyederhanakan masalah rumit menjadi sebuah solusi teknis yang bisa dirasakan orang lain, di sanalah letak pengabdian kami yang sebenarnya.
Menolak stigma mahasiswa politeknik gagal sosial
Saya sadar, absen dari KKN memang membuat saya kehilangan kesempatan belajar berkomunikasi dengan masyarakat awam secara luwes. Namun, bukan berarti saya tidak memiliki jiwa sosial. Lulusan politeknik disiapkan untuk menjadi pemecah masalah di lapangan.
Jika memang pengabdian adalah tentang memberikan manfaat bagi orang banyak, maka keahlian teknis yang saya miliki adalah senjata utama saya. Mungkin bentuk pengabdian saya tidak terlihat seperti KKN pada umumnya, tetapi bukan berarti saya tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, tidak pernah KKN bukan berarti lulusan politeknik minim empati, itu hanyalah cerminan bahwa bentuk pengabdian kita memiliki jalur yang berbeda, yang lebih berorientasi pada solusi konkret daripada sekadar seremonial.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
