Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Program Pojok Baca Kelas di Sekolah Cuma Basa-Basi, Ujung-ujungnya Jadi Pojok Tidur Siswa

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
4 April 2024
A A
Program Pojok Baca Kelas di Sekolah Cuma Basa-Basi, Ujung-ujungnya Jadi Pojok Tidur Siswa

Program Pojok Baca Kelas di Sekolah Cuma Basa-Basi, Ujung-ujungnya Jadi Pojok Tidur Siswa (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir tahun lalu, di sekolah tempat saya mengajar tiba-tiba ada program pojok baca. Hadirnya program ini sangat mendadak sekali sebenarnya. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba kepala sekolah menginstruksikan wali kelas dan siswa untuk segera bikin pojok baca di kelas masing-masing. 

Usut punya usut, ternyata karena ada instruksi langsung dari cabang dinas pendidikan. Alhasil, setiap wali kelas dan siswa buru-buru bikin pojok baca di kelas semenarik mungkin. Dari sini saja sebenarnya sudah kelihatan kalau program ini sekadar hasil instruksi atau suruhan alias paksaan. Bukan keinginan hati sekolah karena siswanya mulai suka membaca. 

ADVERTISEMENT

Pojok Baca Kelas hanya formalitas di sekolah

Program pojok baca ini adalah program yang ditujukan pada siswa di setiap kelas agar menyulap pojok kelasnya menjadi pojok baca. Dengan kata lain, pojok kelasnya dialokasikan menjadi tempat membaca. “Bullshit” kata saya dalam hati. Sebab, tak secuil pun harapan untuk siswa bisa membaca di pojok itu berhasil. 

Dari latar belakang program pojok baca kelas ini diterapkan saja sudah menunjukkan kalau program ini hanya formalitas ikut perintah atasan. Formalitas dalam artian sekolah hanya memenuhi arahan dari atasan tanpa benar-benar mengerti maksud dari program ini yang sebenarnya.

Pasalnya, meskipun ada pojok baca, saya sebagai pengajar tak pernah satu pun melihat siswa membaca di pojok kelasnya itu. Pojok itu hanya menjadi hiasan dinding yang dibuat gemerlap tanpa orang. Pojok kelas yang disebut pojok baca itu hanya menjadi hiasan dan foto-foto saja. Nggak pernah beneran dipakai siswa untuk membaca buku. Kenapa?

Ruang kelas tidak nyaman untuk jadi tempat membaca

Menurut saya, alasan kenapa siswa enggan membaca buku di pojok baca kelas ya karena ruang kelas memang nggak nyaman dibuat tempat baca buku. Apalagi ruang kelas di sekolah saya, di Bangkalan Madura. Sudah cuaca panas, tak ada AC pula. Paling mentok di kelas hanya ada 3 kipas angin. Jelas nggak ngaruh sama suhu kota Bangkalan Madura yang wadadaw panasnya. Gerah lah.

Padahal kalau mau jujur, membaca adalah aktivitas yang perlu kenyamanan agar konsentrasi terjaga. Belum lagi, ruang kelas biasanya ramai dan riuh. Mana bisa siswa membaca dalam kondisi yang begitu riuh kayak pasar, kan?

Makanya beberapa siswa yang suka membaca biasanya ke perpustakaan untuk mendapat tempat baca yang nyaman. Kalau di perpustakaan sekolah saya, selain tempatnya sepi dan hening, juga ada 2 AC yang sangat sejuk. Sehingga, lokasinya sangat ideal untuk menjadi tempat membaca para siswa. 

Baca Juga:

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

Herannya, perpustakaan yang sudah sebegitu nyaman saja masih sepi dari aktivitas siswa baca buku, kok ini sok ngide bikin program pojok baca di setiap kelas. Ya jelas makin nggak laku lah. Program yang nggak tes pasar dulu ya begini ini. 

Menurut saya, seharusnya ditanamkan dulu gairah membacanya, baru dibuat pojok baca. Sehingga, pojok baca kelas hadir sebagai respons atas kebutuhan siswa yang kekurangan tempat untuk membaca, karena banyak siswa yang udah mulai suka baca.

ADVERTISEMENT

Saya yakin alasan-alasan ini nggak pernah dipikirkan pembuat program dari atas. Soalnya sekolah hanya fokus menjalankan perintah atasan saja, tanpa memikirkan efektifitas dan keberlanjutan programnya. Apa namanya kalau bukan formalitas?

Lebih dari itu, persoalan literasi di sekolah bukan hal yang menjadi prioritas. Sekolah lebih fokus pada hasil siswa yang bisa tembus ke perguruan tinggi, daripada menghasilkan siswa yang berliterasi dan berwawasan. Paling tidak itu yang saya rasakan sebagai guru sejauh ini.

Hanya sedikit guru yang aktif memotivasi siswa untuk membaca

Ironisnya, hanya sedikit guru yang benar-benar mau memotivasi siswa untuk memaksimalkan pojok baca kelas sebagai tempat membaca. Berdasarkan pengamatan pribadi saya, paling mentok hanya guru Bahasa Indonesia yang terhitung cukup konsisten memotivasi siswa agar mau membaca buku di pojok baca. Guru yang lain, hampir nihil. Yaaa gimana mau memotivasi siswa buat baca, wong gurunya saja banyak yang jarang baca. Katanya sih nggak sempet karena kesibukan orang dewasa. Preeettt. 

Dari sini saya melihat semacam sebuah mitos di sekolah kalau memotivasi siswa untuk membaca buku itu hanya urusan guru Bahasa Indonesia saja. Guru yang lain nggak usah ikut-ikut. Aneh. 

Pojok tidur berkedok pojok baca kelas di sekolah

Kesimpulannya, program pojok baca dadakan di sekolah ini hanya menjadi pojok tidur. Kasarnya, program ini adalah program pojok tidur yang berkedok pojok baca. Bagaimana tidak, setiap saya mengajar di kelas, SELALU saja ada yang tidur di pojok baca.

Parahnya, saya justru TIDAK PERNAH melihat ada siswa yang membaca di pojok baca. Jadi, saya rasa tidak berlebihan kalau program ini lebih tepat disebut sebagai pojok tidur daripada pojok baca. Ya kan, Bapak/Ibu?

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Perpustakaan Sekolah Sepi Bukan karena Minat Baca Rendah, tetapi (Dibikin) Nggak Bisa ke Perpustakaan!

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 April 2024 oleh

Tags: anak sekolahBaca Bukubudaya membacakelasMembaca Bukupojok baca kelasruang kelasSekolah
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

Buku 'Semesta Murakami' Adalah Kitab Penting untuk Penulis terminal mojok.co

Bukan Ajang Pamer, #Favoritebookchallenge Itu Usaha Menebar Gemar Membaca

28 Agustus 2020
4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi Guru, Sebaiknya Cari Profesi Lain kalau Nggak Ingin Menyesal Seumur Hidup Mojok.co

4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi Guru, Sebaiknya Cari Profesi Lain kalau Nggak Ingin Menyesal Seumur Hidup

29 Mei 2024
iPusnas Justru Bikin Saya Malas Baca karena Antrean Peminjamnya sampai Ribuan!

iPusnas Justru Bikin Saya Malas Baca Buku karena Antrean Peminjamnya sampai Ribuan!

20 November 2023
Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Materinya Itu-itu Saja, Kenapa Pelajaran Olahraga Tidak Semembosankan PKn?

4 Juli 2020
Toyota Sienta, Mobil yang Nggak Cocok untuk Antar Anak ke Sekolah

Toyota Sienta, Mobil yang Nggak Cocok untuk Antar Anak ke Sekolah

23 April 2022
impresi

Tak Perlulah Terlalu Berprestasi, Karena Impresi Awal Adalah Kunci

24 Mei 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Selain rumah makan Padang, usaha fotokopi juga identik dengan orang Minang Mojok.co

Selain rumah makan Padang, usaha fotokopi juga identik dengan orang Minang

23 Agustus 2026
Trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen (Unsplash)

Yang perlu kamu ketahui tentang trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen

26 Agustus 2026
iPhone HP bapak-bapak? Bapak-bapak nggak mampu beli iPhone! (Unsplash)

Kok bisa iPhone disebut hp bapak-bapak? Padahal banyak bapak-bapak yang nggak mampu beli iPhone

21 Agustus 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Modal 20 ribu rupiah, kamu bisa makan tiga kali sehari di Ngaglik, Jogjakarta

26 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.