Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pocong Ternyata Bisa Bersuara, Bunyinya “Iuk Iuk”

Ila Nuraeni Badriyah oleh Ila Nuraeni Badriyah
18 Juni 2020
A A
pocong

Pocong Ternyata Bisa Bersuara, Bunyinya "Iuk Iuk"

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu hantu dengan kearifan lokal khas Indonesia adalah pocong. Kadang juga disebut ‘jumping candy’ karena tampilannya yang dibungkus kek permen walau gak ada manis-manisnya. Hantu ini biasanya menampakkan diri hanya dengan diam dan menatap ke arah korban yang lagi apes. Ada juga kesaksian yang mengatakan dia bisa terbang. Tidak jauh berbeda dengan spesies hantu centil yang doyan cekikikan.

Namun siapa sangka ternyata dia bisa bersuara. Saya dan keempat sahabat saya adalah saksinya malam itu. Januari 2009, kami yang merupakan mahasiswa semester dua di salah satu universitas negeri di Bandung mengikuti study tour ke pantai Pangandaran. Kami kembali ke Bandung setelah melakukan study tour selama dua hari satu malam. Tiga bus terparkir di luar halaman kampus, menurunkan para mahasiswa untuk kembali pulang ke rumah atau kost masing-masing.

Wajah-wajah lelah menghiasi kepulangan kami malam itu. Satu per satu teman-teman seangkatan kami pulang. Suasana di depan kampus semakin sepi karena sudah lewat tengah malam.

Saya dan Nenden yang berasal dari Bandung tidak memungkinkan pulang ke rumah. Sementara Indah, Nani dan Nuy yang berasal dari tiga kota berbeda tinggal di kost-kostan sekitar kampus yang jaraknya saling berjauhan. Kami berlima berunding akan bermalam di mana.

Pilihan pertama adalah kostan Nani yang berada di tepat di seberang kampus. Sesampainya di gerbang kost, kami harus memikirkan opsi lain karena gerbangnya dikunci. Minta tolong teman sekamarnya buat buka gerbang udah nggak memungkinkan.

Kostan Indah dan Nuy tidak masuk opsi karena jaraknya yang jauh dari kampus dan peraturan kost yang nggak memperbolehkan penghuni pulang tengah malam. Apalagi bawa ughtea-ughtea yang suka bikin keributan kayak kami. Bisa-bisa besok lusa mereka diusir sama ibu kost.

“Ya udah ke masjid kampus aja yuk!” Nenden yang paling berani di antara kami memberikan ide brilian yang langsung kami amini karena tak sabar ingin segera melepas penat.

Kami berlima berjalan beriringan ke arah masjid kampus. Suara binatang malam mengiringi perjalanan kami. Tak ada tanda-tanda kehadiran manusia lain. Sepi.

Baca Juga:

3 Alasan Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

Misteri Makam Pesinden di Pusat Kabupaten Sleman yang Tidak Disadari oleh Pengguna Jalan

Sesampainya di lantai dua masjid kampus khusus akhwat, kami berubah pikiran. Dengan kondisi masjid yang aksesnya terbuka, kami nggak yakin bisa tidur nyenyak.

Sambil memikirkan tempat lain yang bisa disatroni untuk bisa bermalam saat itu, kami kembali berjalan empet-empetan ke arah gerbang kampus.
Saya yang paling imut dan penakut di antara mereka, menggenggam tangan Indah lebih kencang, bersembunyi di balik Nenden yang tampak tak ada rasa takut dari raut wajahnya.

Kami tak bersuara sedikit pun. Yang terdengar hanya derap langkah kami berlima yang sudah mulai lelah dan putus asa. Namun masih berusaha tetap tenang hingga sesuatu yang berada di pos satpam depan aula membuat kami terkesiap.

Sesuatu berwarna putih tampak maju mundur kagak syantik. Kami berjalan lebih pelan sementara Nenden memastikan apa yang sebenarnya ada di sana.

“Manusia itu gaes. Perempuan pake kerudung putih. Tapi dia nunduk.” Ujar Nenden setengah berbisik.

“Ngapain malem-malem di pos satpam?” Tanya Nani.

“Napak nggak dia?” Sambung Indah.

Tak ada yang menjawab pertanyaan mereka. Hening.

Kami akhirnya mempercepat langkah supaya cepat sampai gerbang kampus. Melewati pos satpam dimana perempuan misterius itu duduk sendirian.

Gerbang kampus akhirnya nampak. Nuy yang sedari tadi tidak banyak bicara akhirnya buka suara. “Gaes, aku coba hubungi akang yang tinggal di sekre Ika Darma Ayu ya. Siapa tahu kita bisa nginep di sana.”

Singkat cerita, kami akhirnya diizinkan menginap di sekre Ikatan Mahasiswa Indramayu, Alhamdulillah. Walaupun harus melewati pemukiman warga yang sunyi senyap. Kami memberanikan diri karena sudah nggak ada pilihan lain.

Sekre tersebut berbentuk rumah satu lantai. Dihuni tetap oleh tiga orang kakang anggota ikatan mahasiswa. Namun pada malam itu hanya ada dua orang akang di sana. Ruangan pertama yang kami lewati adalah ruang tamu. Ke arah kiri adalah ruang TV.

Di samping kanan ruang TV berjajar dua kamar. Sementara kamar mandi terletak paling belakang. Kami saat itu dipersilakan bermalam di kamar pertama. Sementara dua akang tersebut begadang nonton bola di ruang TV depan kamar kami.

Sebelum tidur kami bersih-bersih dulu ke kamar mandi yang auranya lumayan bikin merinding karena terletak paling belakang dan gelap.
Alih-alih tidur cepat, kami para ughtea malah ribut curhat soal pengalaman study tour dengan kelompok masing-masing. Curhat dan ngeghibah adalah ritual wajib sebelum tidur ketika ciwi-ciwi nginep bareng. Gak heran rasa kantuk jadi hilang.

Indah dengan bersemangat menceritakan pengalaman dengan kelompoknya mengunjungi goa di bibir pantai.

“Tau nggak? Di dalam goa ada batu-batu gitu. Aneh-aneh bentuknya. Malah ada yang mirip pocong! Hahaha”

“Hahaha…” Kami menyambut cerita Indah dengan gelak tawa.

“Iuk iuk …” suara aneh mirip suara tikus tapi bukan tikus terdengar dari arah lemari di sudut kanan kamar sukses membuat kami semua terdiam.

“Ih suara apa itu?” Saya merangsek tidur ke dekat Nani.

“Iuk iuk …” suara itu terdengar lagi.

Kami yakin itu bukan tikus atau hewan lain karena gak ada suara gaduh setelahnya. Lagipula suaranya aneh. Kali pertama bagi kami mendengar suara semacam itu.

“Udah yuk tidur, kita berisik kayaknya.” Ujar Nenden. Kami sama-sama menyadari ada yang merasa terganggu dengan kebisingan yang kami buat.

Beberapa hari kemudian, di sela-sela waktu menunggu dosen Nuy mengingatkan kembali kejadian malam itu. “Gaes, masih ingat gak suara aneh waktu kita nginep di sekre?” Ucapnya dengan mimik wajah tegang tapi bersiap memberi kejutan.

“Pleaseee jangan bilang kalo itu …” Saya memotong Nuy yang hendak bercerita.

“Di situ tuh memang ‘ada’.” Kami mendengarkan dengan seksama.

“Jadi suatu malam Akang A lagi begadang ngerjain tugas. Sementara Akang B udah tidur pulas. Lagi asik ngetik, eh ada pocong lagi berdiri di atas Akang B yang lagi tidur dooong!”

“Huwaaaa …” Reflek saya teriak.

“Di kamar itu?”

“Iya. Kamar tempat kita nginep kemarin.”

Kebayang nggak sih semalaman kami tidur dilihatin pocong itu? Dia mungkin bersuara karena merasa tersinggung namanya disebut. Iuk iuk pertama kalo diartikan mungkin kayak gini: “Apelo nyebut-nyebut gue??”, Sementara iuk iuk kedua: “Kalo kagak tidur juga gua tampakin nih. Dasar manusia gak ada akhlak!”

Mulai saat itu, kami punya nama panggilan lain untuk si ‘jumping candy’, yaitu ‘iuk iuk’.

BACA JUGA Kok Bisa Sih Takut Sama Pocong? Dia Kan Cuma Hantu yang Pengin Dibukain Talinya Doang atau tulisan Ila Nuraeni Badriyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2020 oleh

Tags: malam jumatpocongsuara pocong
Ila Nuraeni Badriyah

Ila Nuraeni Badriyah

Emak introvert yang hobi baca buku, baca tingkah laku serta baca situasi dan kondisi.

ArtikelTerkait

Persatuan Dukun Nusantara yang Bikin Bingung Cuma dari Namanya terminal mojok.co

Berbeda-beda tapi Tetap Hantu Juga

11 Februari 2020
6 Cara Ampuh Mengusir Pocong, Dijamin Minggat!

6 Cara Ampuh Mengusir Pocong, Dijamin Minggat!

16 Desember 2022
kakek tua

#MALAMJUMAT Kakek Tua di Rumah Kayu Jati

5 Desember 2019
Pengalaman Membonceng Teman yang Mendadak Kesurupan. Kapok, deh! terminal mojok.co

Pengalaman Membonceng Teman yang Mendadak Kesurupan. Kapok, deh!

18 Desember 2020
Bahkan Deddy Corbuzier dan Romi Rafael pun Skeptis dengan Hal Gaib tidak percaya santet hipnotis gendam hantu penampakan horor terminal mojok.co

Pesantren Saya dan Keluarga Tak Kasat Mata yang Meneror tiap Malam Ganjil

27 Mei 2020
Rekomendasi 7 Film Pocong Paling Seram. Jangan Nonton Sendirian! Terminal Mojok

Rekomendasi 7 Film Pocong Paling Seram. Jangan Nonton Sendirian!

5 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warteg, Gambaran Soal Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar Mojok.co

Warteg, Representasi Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar

9 Juni 2026
Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat Mojok.co

Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat

12 Juni 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Sebelum KKN, Pahami bahwa Hal-Hal Menyebalkan dalam KKN yang Kebanyakan Datang dari Teman Satu Posko

14 Juni 2026
Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online Mojok.co

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

9 Juni 2026
Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak (Unsplash)

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

14 Juni 2026
Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.