Akhirnya saya pindah kos lagi. Setelah setahunan ngekos di kos LV, kali ini saya memutuskan untuk pindah ke kos campur. Tentu, keputusan ini saya ambil demi menjaga sisa kewarasan. Terutama setelah sering berdamai dengan fasilitas bobrok dan suara desahan yang bocor di jam-jam rawan iman.
Kenapa saya milih kos campur? Ya tentu aja, selain harganya yang relatif murah, kos campur menawarkan fasilitas yang jauh lebih bagus daripada kos LV saya sebelumnya. Selain itu, lokasinya pun strategis. Akses ke minimarket dan rumah makan sangat mudah. Saya yakin, hidup pasti akan lebih tenang dan bahagia.
Ya, itu harapan awal saya. Emang bener sih murah, fasilitasnya pun jauh lebih bagus. Tapi kalau bikin bahagia sih nggak deh kayaknya. Karena ternyata, nasib sial masih aja menimpa saya. Saya malah di hadapkan dengan bertubi-tubi masalah. Yang tadinya pengen tenang dan bahagia, di kos campur saya malah resah dan sengsara.
Perilaku Penghuni Kos yang Bikin Mual
Lagi dan lagi, saya kembali terhantam soal kebersihan. Bedanya, kali ini datang dengan cara yang jauh lebih brutal. Kalau kos LV saya dulu kotor karena bangunannya yang emang nggak kerawat. Kos campur ini justru keliatan menjijikan karena perilaku penghuninya. Dari segi fasilitas sebenarnya nggak ada masalah lo. Bahkan terbilang cukup bagus.
Dari segi kamar deh, kos ini punya kamar yang bersih dan kasurnya sangat nyaman. Secara visual pun kos ini juga enak di pandang. Ya.. punya banyak keunggulan deh daripada kos LV saya dulu. Nggak ada kesan horor atau tanda-tanda bencana. Setidaknya, itu sih yang keliatan di permukaan. Sampai akhirnya ada satu hal yang meruntuhkan semuanya.
Di toilet, saya justru sering banget nemuin pembalut. Masalahnya, pembalut itu kerap dibiarkan tergeletak gitu aja. Tak jarang juga ada yang dibuang ke kloset hingga menyumbat saluran air. Dari situlah timbul bau menyengat dan membuat toilet terasa menjijikkan. Akibatnya, setiap hendak masuk kamar mandi, sekarang saya terbiasa mengintip dulu buat mastiin kondisinya.
Parahnya lagi, belum lama ini saya nemuin pembalut di pojokan toilet. Darahnya masih membekas dan berceceran di lantai. Niat saya yang tadinya mau buang air besar pun langsung saya urungkan. Maaf, saya nggak tahan sama bentuk dan baunya. Nggak tinggal diam, di grup kos, saya langsung menanyakan kepemilikan dan meminta agar segera dibersihkan. Tetapi, nihil respon. Sampai keesokan harinya pembalut itu masih ada. Akhirnya, sambil misuh-misuh, ya terpaksa saya dan kawan saya membersihkan toilet dan membuang pembalut itu sendiri.
Saya bingung deh, kok ada ya yang dengan santainya buang barang ini sembarangan? Padahal selain najis, ini juga punya dampak buruk bagi kesehatan lo. Jadi, izinkan saya sedikit mengingatkan, khususnya buat cewek yang ngekos di kos campur dengan kamar mandi luar. Tolong jaga kebersihan pembalut kalian dengan lebih bertanggung jawab ya cantik. Toh sangat nggak etis kalau sampai berserakan dan membiarkan orang lain yang membersihkannya.
Kos Campur dan Seni Kehilangan Barang
Sejak pindah ke kos campur, saya jadi akrab banget sama konsep kehilangan. Lucunya, sebelum kejadian ini, pas banget saya lagi baca opini di Mojok tentang aturan tak tertulis di kos campur. Ada satu pembahasan soal jemuran yang berpotensi hilang jika di jemur di luar kamar. Waktu itu saya cuma mikir, “ah emang iya?”
Eh benar aja, ternyata tulisan itu lebih mirip ramalan. Di kos LV, jemuran saya aman dan nggak pernah bermasalah. Lah sampai di kos campur malah sebaliknya. Dalam waktu satu minggu aja, saya udah dua kali kehilangan jemuran. Dua baju saya lenyap digondol maling.
Dan ternyata bukan cuma saya aja yang ngalamin hal ini. Seorang kawan juga kehilangan satu kaosnya. Bahkan di tempat jemuran yang sama dengan saya. Bedanya, saat itu dia melapor ke pemilik kos dan seluruh kamar pun digeledah. Nah, ini satu alasan kenapa saya malas banget melapor waktu itu.
Soalnya waktu penggeledahan, kos langsung ribut dan suasana jadi kacau. Kaos yang hilang akhirnya emang ketemu sih. Ternyata dicolong penghuni lain. Nggak tau deh dia nyolong buat apa. Yang saya tau, waktu digeledah kaos itu diumpetin di bawah kasur. Akhirnya, penghuni itu pun langsung diusir begitu aja.
Nggak hanya itu, masalah kehilangan juga merambah ke alat makan. Saya dan kawan kos saya terbiasa menaruh alat makan di meja dapur depan kamar kami. Tanpa sadar, barang-barang itu hilang satu per satu. Dari piring yang tadinya ada enam, sekarang tinggal empat, sendok dari delapan tinggal dua, dan hanya gelas yang aman. Itu pun karena disimpan di kamar dan emang sering kami pakai.
Iuran Dapur yang Bikin Emosi
Waktu di kos LV, urusan iuran tuh jarang banget jadi sumber konflik. Lah di kos campur, iuran justru terasa timpang dan sering memancing emosi. Komplek kos saya tuh terbagi jadi tiga bagian. Masing-masing punya dapurnya sendiri. Saya dan dua kawan tinggal di komplek pertama dengan harga kamar yang lebih murah. Kami pun rutin iuran untuk membeli perlengkapan dapur.
Masalahnya, ada beberapa penghuni dari komplek lain yang dengan santainya ikut memakai kebutuhan dapur kami. Padahal mereka nggak pernah ikut iuran. Air dan gas yang kami beli dipakai tanpa rasa bersalah. Ya nggak heran kalau galon sering banget habis.
Puncaknya terjadi sekitar dua minggu lalu. Seorang cewek dan cowok yang berpasangan terlihat santai memasak di dapur kami. Teman saya yang melihat langsung menegur. Jelas karena nggak terima. Wajar aja, gas dan minyak goreng kami kembali habis terlalu cepat. Padahal baru aja beli.
Lucunya, teguran itu malah dibalas dengan sikap nggak terima. Mereka berdalih kalau dapur tersebut adalah dapur umum. Ya, secara teknis emang benar. Tapi sejak awal udah ada aturan bahwa siapa pun yang memakai dapur wajib ikut iuran. Masalahnya, dua orang ini nggak pernah dan nggak mau iuran di komplek kami. Sehingga adu argumen pun terjadi hingga suasana memanas. Akhirnya kami protes di grup kos, dan pemilik kos turun tangan untuk menegaskan ulang aturan dapur.
Sebenarnya nggak masalah kalau penghuni komplek lain pengen makai dapur kami, tapi minimal ya iuran. Masalahnya, banyak beberapa orang kalau ditarikin iuran tuh ngeles mulu. Ada yang bilang nanti lah, bilang nggak punya duit lah, pake duit kita dulu lah. Akhirnya, di kos campur ini banyak orang yang terima enaknya doang. Nggak ikut iuran, tapi makai alat dan kebutuhan dapur seenaknya. Hal kecil inilah yg bikin ribut tiap hari.
BACA JUGA: Pengalaman Saya sebagai “Anak Baik-baik” Tinggal di Kos LV Jogja yang Penuh Drama
Privasi yang Nggak Pernah Jelas Batasnya
Pindah ke kos campur juga membawa persoalan privasi yang belum pernah saya alami sebelumnya. Di kos LV, meski sering denger desahan, penghuninya aslinya tuh laki-laki semua. Jadinya, batas privasi rasanya cukup jelas. Di kos campur, jelas penghuni pasti campur antara laki-laki dan perempuan. Akibatnya, momen-momen canggung kerap muncul tanpa aba-aba.
Misalnya nih, saya tuh sering banget berpapasan sama cewek yang baru aja selesai mandi. Masalahnya, mereka biasanya keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk aja. Beberapa penghuni cewek lain juga terbiasa keluar kamar hanya mengenakan celana pendek dan pakaian yang minim. Sebenarnya itu hak mereka sih. Namun situasi seperti ini kerap menciptakan rasa kikuk yang sulit dihindari.
Pernah juga nih, satu momen saat saya hendak mau mandi. Saya melihat pintu kamar mandi tidak terkunci. Tentu, saya langsung masuk gitu aja. Eh ternyata di dalam ada cewek yang sedang mandi juga. Dia teriak, saya pun ikut teriak dong karena kaget. Mendengar itu, teman-temannya dateng semua. Saya pun langsung minta maaf. Takutnya pada salah paham dan mengira saya mengintip atau melakukan hal aneh lainnya. Malu banget sih.
Nggak hanya itu, masalah privasi juga bersinggungan dengan urusan jemuran. Rasanya, di kos campur menjemur pakaian di dalam kamar jauh lebih aman deh. Selain berpotensi hilang, jemuran di luar tuh nimbulin rasa nggak nyaman. Ya karena jemuran bercampur antara cowok dan cewek, dari pakaian biasa sampai pakaian dalam.
Melihat berbagai jenis pakaian dalam bergelantungan di area kos, jelas bukan pemandangan yang menyenangkan. Dari celana dalam sampai BH, semuanya terbuka begitu aja. Bagi sebagian orang mungkin ini hal sepele. Namun bagi saya, kondisi seperti ini justru mempertegas betapa tipisnya batas privasi di kos campur.
Tenang yang Nggak Pernah Datang
Seperti yang udah saya bilang di awal. Alasan saya pindah kos tuh sederhana banget, pengen hidup tenang. Saya capek sama bobroknya kos sebelumnya. Saya capek sama kebisingan suara desahan yang muncul di jam-jam malam. Jadi, pindah kos adalah solusi paling masuk akal buat saya. Minimal, tidur bisa jadi lebih damai deh.
Eh ternyata saya hanya berpindah dari mulut harimau ke mulut buaya. Begitu pindah ke kos campur, masalahnya justru makin beragam. Bukan cuma satu, tapi datang barengan. Soal kebersihan, barang hilang, iuran yang nggak adil, sampai urusan privasi. Baru beres satu urusan, eh udah disambut masalah lain.
Akhirnya, bukannya lebih nyaman, hidup saya sekarang justru dihiasi drama yang membuat pusing tujuh keliling. Kalau dipikir-pikir, tiap masalah itu sebenarnya receh lo. Tapi karena datang terus tanpa jeda, rasanya jadi capek banget. Terutama masalah pembalut ya, bisa-bisa sakit mental saya, kalau tiap hari harus buangin pembalut orang.
Ya pada akhirnya saya jadi sadar. Pindah kos nggak selalu bikin hidup saya berubah. Kadang cuma ganti tempat, tapi malah ketemu drama yang lain. Dulu berisik, sekarang ribet. Dan ujung-ujungnya, ketenangan yang saya cari sampai sekarang belum saya dapat. Apes, apes.
Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Fenomena Kos LV di Jogja, Dicari karena Bebas Bawa Pacar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















