Pesan Moral dari Lagu Anak, "Johny Johny Yes Papa" – Terminal Mojok

Pesan Moral dari Lagu Anak, “Johny Johny Yes Papa”

Artikel

Avatar

Di pagi hari, saat matahari masih begitu malu-malunya menyapukan sinar lembutnya pada embun-embun dedaunan, saya memperhatikan anak saya yang sedang asyik menonton video YouTube bersama dengan adiknya. Mereka tampak akrab berbagi tontonan dari layar hape milik ibunya, hingga terhanyut dalam kemerduan nada irama lagu yang mereka dengar.

Saya pun menjadi penasaran untuk mengintip dan mendengarkan video yang sedang mereka putar. Dalam tayangan video lagu yang versi aslinya berbahasa Inggris tersebut, tampak pasangan suami isteri yang sedang asik masyuk makan junk food di dapur pada waktu malam hari. Di tengah keasyikan mereka ngemil malam, tiba-tiba kedua anak mereka muncul dari balik pintu dapur.

Mommy, Daddy!” kedua anak itu memanggil mereka dari belakang dengan irama lagu.

Yes, Children?!” jawaban yang berirama dari kedua orang yang dipanggil ayah ibu itu spontan seraya melirik ke arah panggilan.

Eating junk food?” si anak menyelidik.

No, Children,” mencoba nge-prank si anak dengan menghapus sisa makanan di mulut mereka.

Are You sure?” si anak memburu.

Yes, Children,” keduanya mencoba berkelit.

Open your mouth!” si anak meminta bukti.

“Hahaha,” jawab keduanya bersahutan sehingga tampak seluruh makanan dari dalam mulut mereka.

Begitulah lagu ini diputar secara berulang-ulang dengan alur yang mirip tapi dengan pelaku yang berbeda-beda. Terkadang pelakunya adalah si ayah, terkadang berganti peran dengan si ibu, dan terkadang malah si anak sendiri. Namun secara keseluruhan, gambaran ceritanya sama, ada seseorang yang berbohong, ada yang menyelidiki, dan pada akhirnya terbongkar.

Dari lagu anak-anak yang tampak sepele ini, menurut saya terdapat pelajaran-pelajaran berharga yang patut untuk diulas. Khususnya jika mengaitkan pesan di dalamnya dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti ada hubungan yang begitu dekat. Berikut ini pelajaran atau pesan moral yang dapat diambil dari lagu anak Johny Johny Yes Papa tersebut.

Pertama, pentingnya tidak meremehkan setiap kesalahan

Makan kue di malam hari, mungkin saja itu merupakan hal yang sepele dan bukan sebuah kesalahan besar yang patut diungkap. Namun persoalannya menjadi lain, jika sebelumnya telah terdapat kesepakatan pada sebuah keluarga bahwa mereka tidak akan ngemil lagi setelah sikat gigi. Mereka yang ngeyel, bersikeras tetap ngemil di malam hari ini sama saja mencederai kesepakatan yang telah dibuat. Dan manakala tidak memiliki alasan khusus yang sifatnya mendesak, seperti tidak mampu menahan rasa lapar di malam hari, maka sekadar makan junk food saja dapat dianggap sebagai sebuah kesalahan fatal.

Dan tidak hanya itu, tindakan menutupi aksi makan junk food di malam hari dengan kebohongan juga merupakan tindakan yang kian memperburuk keadaan. Dalam lagu ini seakan memberikan pesan bahwa jangan sampai menutupi kesalahan sekecil apa pun dengan kebohongan. Sebab dengan berani mengakui kesalahan yang kecil, seseorang akan terlatih untuk berani bertanggung jawab atas setiap kesalahan yang diperbuat.

Baca Juga:  Masyarakat Desa dan Anggapan Anak Kuliahan Pasti Bisa Melakukan Apa Saja

Kedua, pentingnya mengungkap kesalahan orang lain dengan cara yang arif

Dalam video lagu tersebut terdapat adegan seseorang yang mencoba mengungkap kesalahan orang lain dengan menyanyikan lagu dan nyatanya juga dijawab melalui lagu oleh pihak yang dituduh bersalah. Lagu berbalas lagu. Lirik demi lirik mereka dendangkan hingga akhirnya mengarah pada satu kesimpulan bahwa seseorang telah berbuat kesalahan dan ia pun mengakuinya sebab temuan barang bukti di dalam mulut pelakunya.

Kisah tersebut tidak jauh berbeda dengan kasus-kasus dalam kehidupan nyata, di mana seseorang yang “bernyanyi” untuk menunjukkan kesalahan orang lain akan berbalas “nyanyian” alibi untuk menutup aib pelakunya. Nyanyian-nyanyian tersebut tidak lain adalah tuduhan dan pembelaan dari masing-masing pihak. Hingga pada akhirnya akan menentukan keadaan seseorang tersebut dinyatakan bersalah atau tidak berdasarkan fakta data yang disajikan.

Ketiga, latihan menjadi detektif dan pengamat kebijakan publik

Lagu ini secara tidak langsung mengajari siapa saja untuk menjadi penyidik atau detektif mulai dari hal yang sederhana dan dari ruang lingkup yang terkecil, yakni makanan dan keluarga mereka sendiri. Si anak diajari untuk menelusuri kesalahan orang tuanya yang telah melanggar aturan dan komitmen yang mereka buat bersama. Hal ini seakan mengajarkan bahwa masing-masing anggota keluarga berkesempatan untuk mengungkap kesalahan anggota yang lainnya berdasarkan data atau bukti yang dapat mereka temukan.

Jika pola ini telah terbentuk dengan baik dalam sebuah keluarga dan terus berkembang pada ruang lingkup yang lebih luas, misalnya kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka hampir dapat dipastikan akan memunculkan kepekaan siapa saja terhadap realita sosial yang terjadi di sekeliling mereka. Mereka akan mampu mengamati mana saja di antara masyarakat yang telah patuh terhadap peraturan. Mereka akan mampu mengungkap mana di antara pemangku kekuasaan yang telah merealisasikan kebijakan-kebijakan yang dulu dijanjikan. Pada posisi ini, maka secara tidak langsung mereka telah mengisi peran penting sebagai pengamat kebijakan publik.

Keempat, menegakkan hukum dengan tidak pandang bulu.

Video lagu yang mempertontonkan adegan anak yang berani menegur kesalahan orang tuanya ini merupakan sebuah simbol bahwa mereka yang muda, yang ‘kecil’ berhak untuk mengungkap kesalahan mereka yang lebih ‘besar’ jika nyata-nyata terbukti berbuat kesalahan. Dan dalam versi yang sebaliknya, pihak yang lebih senior pun dapat menyoroti kesalahan mereka yang lebih muda, tanpa memandang adanya ikatan yang dekat dari hubungan mereka. Bagi mereka, keadilan ibarat yang tergambar dalam lagu Nasida Ria, yang salah dihukum salah~

Jika hal demikian dapat terwujud dalam tatanan sebuah keluarga, maka tentu akan terbentuk kontrol sosial bagi setiap anggotanya. Tidak ada satu pun pihak dari anggota keluarga yang merasa paling kuat dan paling benar sendiri. Sebab semua pihak punya potensi berbuat kesalahan, berkesempatan untuk mengingatkan, dan kewajiban untuk mengakui kesalahan. Meski pada awalnya mereka harus berkelit dengan kebohongan.

Baca Juga:  "I'm Done", Gue Capek dan Mencoba Mengakhiri Ini

Pihak yang telah terbukti berbuat kesalahan harus diposisikan sebagai pihak yang bersalah. Dalam kasus pada lagu ini, mereka yang posisinya sebagai orang terdekat dan orang baik-baik ternyata juga dapat berposisi sebagai pesakitan. Hal ini karena melanggar komitmen yang dibentuk dan disepakati bersama, yakni makan snack di malam hari setelah gosok gigi. Dan mereka bukannya langsung mengakui kesalahan itu, tapi justru menutupinya dengan kebohongan.

Saya meyakini seandainya budaya penegakan keadilan dalam lingkup keluarga ini terus dikembangkan pada ranah yang lebih luas, maka keberadaan hukum pun tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Siapa saja yang bersalah tetap akan dianggap bersalah di depan hukum. Entah mereka berposisi sebagai masyarakat, pejabat, keluarga, atau sahabat karib sendiri.

Kelima, sepandai apa pun menyimpan kebohongan suatu saat pasti akan terungkap

Saya begitu senang dengan alur cerita dari lagu anak ini yang nyatanya adalah happy ending, di mana pihak yang bersalah pasti akan kalah melalui perdebatan lagu. Siapa yang berbohong pasti akan terungkap kebohongannya dan menertawai kesalahannya sendiri.

Namun amatlah disayangkan, lagu ini begitu kontras dengan realita pelaku kejahatan saat ini. Di mana mereka yang bersalah dapat berkompromi dengan penegak hukum dan menyembunyikan kesalahan mereka di balik baju kekuasaan. Lantaran memiliki privilige, mereka pun akhirnya aman untuk melanggengkan kejahatan itu.

Barangkali mereka telah lupa bahwa hukum lapuk yang mampu mereka siasati saat ini hanyalah serpihan partikel dari hukum sejati yang akan mereka hadapi kelak. Mereka tentu akan menghadapi hukum sejati yang akan mengungkap dan mengadili siapa saja. Mungkin saja mereka telah lalai akan keberadaan malaikat pencatat amal yang tidak pernah bosan mencatat amal perbuatan siapa saja, meski yang mereka perbuat hanya sekadar rebahan.

Betapa luar biasanya tugas para malaikat ini. Mereka yang sedang rebahan pun dicatat, apalagi mereka yang jelas-jelas beraktivitas dan melakukan kasus kejahatan yang berimbas kerugian pada orang lain. Pasti para malaikat itu akan makin bersemangat kegirangan untuk mencatatnya. “Ini jelas salah, seharusnya ini yang benar,” gumam mereka. Percaya atau tidak, tinggal ditunggu saja tanggal mainnya. Atau kalau meminjam istilahnya Gus Dur, biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan.

Bagaimana? Ternyata dari lagu anak ini yang kelihatan sederhana ini terdapat pesan yang begitu kental, kan? Silakan, barangkali ingin mengungkap pesan moral dari lagu anak yang lainnya!

BACA JUGA Baskara ‘Hindia’ Putra dan Lagu-lagunya yang Diklaim Menyembuhkan Depresi dan tulisan Muhammad Adib Mawardi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.