Sekali-kali cobalah mampir ke Perpustakaan Kota Pekalongan.
Setiap kali membuka Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya dan mendapati berita tentang penataan ruang publik di daerah lain, saya hampir selalu menemui komentar yang membandingkannya dengan Kota Pekalongan.
Beberapa waktu lalu misalnya, saya menjumpai informasi bahwa Pemkab Batang sedang menata alun-alunnya. Lalu ada yang komentar sinis dengan bilang, Pemkot Pekalongan harusnya melakukan hal yang sama.
Dalam konteks penataan alun-alun, tentu saja setuju. Alun-alun Kota Pekalongan semrawut sehingga saya kira menatanya sudah menjadi tugas Pemkot. Tapi ada satu-dua komentar yang tidak saya sepakati.
Dengan penataan alun-alun yang kurang diperhatikan, ada yang langsung gebyah uyah mengatakan bahwa Pemkot Pekalongan nggak becus menata ruang publik yang nyaman. Padahal ada lho ruang publik di Kota Pekalongan yang menurut saya sudah nyaman. Ya, Perpustakaan Kota.
Perpustakaan Kota Pekalongan yang baru lebih strategis
Buat yang belum tahu, Kota Pekalongan sudah punya perpustakaan baru. Lokasinya berbeda. Bukan hanya berbeda kelurahan, tapi kecamatan. Perpustakaan yang lama ada di Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara.
Perpusatakaan yang lama tempatnya tersembunyi. Saking tersembunyinya, kita mungkin akan mengira itu markas gembong narkoba daripada perpustakaan. Karena itu pula saya malas buat ke sana meskipun dekat dari rumah.
Perpustakaan yang baru lokasinya pindah di Jalan Haji Sabrawi, Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat. Ini lebih mudah dijangkau. Selain itu lokasinya juga tidak pelosok sebagaimana perpustakaan lama.
Tebakan saya, mungkin karena lokasinya ada di Pekalongan Barat. Kecamatan yang banyak dihuni orang-orang berduit alias kawasan elit. Berbagai industri ada di sana. Tak terkecuali tempat kerja saya.
Gedung Perpustakaan Kota Pekalongan lebih nyaman
Sebagaimana perpustakaan daerah tingkat kota, perpustakaan yang baru ini menurut saya gedungnya lebih bagus. Minimal yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan literasi ada semuanya di sini. Rak yang tertata rapi, komputer, meja baca dengan bilik, dan tak ketinggalan jaringan internet.
Ada pula ruang pertemuan yang nyaman. Perpustakaan Kota Pekalongan yang baru ini juga dilengkapi mini playground. Ini cocok banget buat orang tua yang bingung mau ngajak anak ke mana. Daripada ke curug, kan mending ke perpustakaan. Anaknya main, ibunya baca novel Tere Liye.
Area mini playground itu ada di lantai satu, sedangkan ruang baca ada di lantai dua. Jadi tidak perlu khawatir akan terganggu kebisingan anak-anak ketika membaca. Sebab di lantai dua ini memang dibuat khusus sebagai ruang baca atau mengerjakan tugas. Nggak akan ada anak-anak naik ke sini.
Bukan hanya butuh effort naik tangga, tapi penjaganya juga cukup tegas. Penjaga nggak membiarkan anak-anak berkeliaran di ruang baca.
Pelayanannya bagus
Menurut saya, pelayanan di perpustakaan yang baru ini juga cukup bagus, ketimbang yang lama. Jujur, petugas di perpustakaan lama agak nyebelin. Mukanya cemberut mulu seperti orang yang utangnya banyak.
Sementara di perpustakaan yang baru, ketika masuk sudah disambut dengan senyuman. Tidak tanya-tanya seperti wartawan bodrek. Tapi mereka akan sigap melayani bila kita membutuhkan sesuatu. Pernah saya ke sana mau bikin kartu tanda anggota.
Petugasnya melayani saya dengan ramah. Ini jauh berbeda dengan yang dulu. Jika ingatan saya tidak berkhianat, dulu saya pernah mau bikin kartu anggota di perpustakaan lama. Alih-alih langsung dilayani, eh pakai ditanya sudah berapa kali ke perpustakaan.
Pelayanan ini juga tidak cuma petugas yang ramah, tapi kemudahan dalam meminjam dan mengembalikan. Kalau mau pinjam tinggal datang, tunjukan kartu anggota, beres. Kalau mau mengembalikan, tinggal datang dan kasih bukunya ke petugas.
Jika perpustakaan tutup, buku bisa ditaruh di book drop. Yah, walaupun book drop-nya jelek sih. Selain itu kalau bukunya belum selesai dibaca, bisa perpanjang masa pinjam tanpa harus datang ke perpustakaan. Cukup dengan menghubungi nomor kontak yang disediakan. Enak, to?
Oh ya, petugasnya pun tidak cuma dari pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, tapi juga terkadang ada anak magang dari beberapa sekolah. Jadi selain bisa menikmati fasilitas yang ada, mereka bisa belajar ilmu kepustakaan.
Koleksi bacaan beragam
Saya juga tak menyangka kalau banyak buku-buku bagus di perpustakaan kota. Buku-buku yang semula saya pikir tidak mungkin ada di perpustakaan kota, eh lha kok ternyata ada. Ambil contoh buku “Isme-Isme yang Mengguncangkan Dunia” dan beberapa buku sosialisme, bahkan saya pernah nemu buku yang berbau komunisme.
Tempo hari saya menemukan buku yang tak mampu saya beli di sini. Buku Autobiografi Alex Ferguson. Tanpa pikir panjang, saya mencomot buku itu dan meminjamnya. Koleksi novelnya juga lengkap menurut saya. Novel-novel milik Tere Liye jelas ada, tapi saya tidak yakin kamu bakal menemukannya. Biasanya novel, apalagi yang karangan Tere Liye, selalu habis dipinjam.
Pada akhirnya koleksi buku di Perpustakaan Kota Pekalongan yang baru ini bikin saya jiper. Dulu saya kira buku-buku yang ada perpustakaan kota seputar buku ilmu pengetahuan alam, RPUL, Dasar-dasar Pancasila, dan semacamnya. Mentok kalau novel ya, novelnya Tere Liye. Tapi ternyata ada juga karya-karya dari penulis favorit saya, termasuk Seno Gumira Ajidarma.
Perpustakaan kota yang nyaman bikin saya betah untuk bolak-balik ke sana. Saya pun mulai berpikir untuk mengurangi membeli buku, dan memilih untuk meminjamnya saja di perpustakaan. Saya hanya bisa berharap perpustakaan kota di Pekalongan tidak diganti dengan Koperasi Desa Merah Putih.
Penulis: Muhammad Arsyad
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
