Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Orang INFJ Jangan Tinggal di Perbatasan Batang dan Pekalongan kalau Mau Tetap Waras

Elif Hudayana oleh Elif Hudayana
23 Juni 2025
A A
Orang INFJ Jangan Tinggal di Perbatasan Batang dan Pekalongan kalau Mau Tetap Waras

Orang INFJ Jangan Tinggal di Perbatasan Batang dan Pekalongan kalau Mau Tetap Waras (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya INFJ, tapi tinggal di daerah yang ternyata sangat kurang ramah dengan culture introvert. Banyak area yang bikin saya merasa menjadi ikan hias yang terjebak di kolam pemancingan umum. Kolam itu bernama perbatasan Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan.

Secara administratif, saya warga Kabupaten Batang. Tetapi karena rumah saya nempel tipis dengan Kota Pekalongan, saya justru lebih sering nongkrong dan memanfaatkan fasilitas kota sebelah dibanding kabupaten sendiri. Tapi ya begitu, entah Kabupaten Batang atau Kota Pekalongan, keduanya sama-sama bukan habitat alami saya, INFJ tulen.

Sebagai spesies manusia langka yang katanya cuma ada 2% aja dari seluruh populasi dunia, saya cukup sedih mengetahui bahwa tempat lahir dan tinggal saya lebih dari seperempat abad ini nggak bisa mendukung saya berkembang sebagai INFJ.

Ikan hias dengan label INFJ (Introverted, Intuitive, Feeling, Judging) ini kudu menelan pil pahit untuk belajar beradaptasi di habitat yang keras dan ramai. Nggak cuma soal eksistensi, tapi juga tentang menjaga kewarasan. Inilah tiga alasan kenapa saya bilang perbatasan Batang dan Pekalongan kurang ramah INFJ.

#1 Lingkungan dengan ruang pribadi yang nyaris nihil

Dulu waktu kecil, banyak lahan kosong di kampung saya yang bisa dijadikan tempat bermain. Anak-anak bisa berlarian bebas, main tanah, bahkan nyari undur-undur pakai sedotan bekas. Tetapi semakin gede, lahan itu berubah menjadi rumah. Rumah-rumah makin rapat, saling sandaran tembok, sudah seperti area perkotaan.

Banyak bangunan di perbatasan antara Batang dan Pekalongan ini artinya juga semakin banyak penghuni di sini. Suara pun menjadi nggak bisa dihindari, dan nggak pernah padam. Bukan karena bebas pembungkaman pastinya, tapi lantaran suara musik, mesin, knalpot brong, pengajian, petasan, kang jualan hingga teriakan anak-anak silih berganti.

Padahal bagi INFJ, sisi introvert kami butuh ketenangan buat merencanakan pemberontakan memahami makna kehidupan, mengisi ulang energi, atau mengolah banyak hal di pikirannya sendiri. Seperti saat saya menulis artikel ini, saya harus berdamai dengan tetangga mantu yang sound-nya bikin kaca rumah geter.

Kalau diibaratkan tanaman, INFJ ini udah kayak anggrek yang nggak bisa mekar karena terus-terusan disorot lampu terang. Padahal cuma butuh teduh, bukan sorotan. Yakali udah nempel di pohon inang tapi kuncup mulu?

Baca Juga:

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Pekalongan Masuk Jawa Tengah, tapi Secara Budaya Lebih Dekat dengan Atlantis

Saya juga sempat berharap bisa menemukan ketenangan di taman atau perpusatakaan. Tapi sayang, taman terdekat malah jadi arena pengamen dan pengemis. Diem bentar udah ada icik-icik mengalun. Perpustakaan? Pengalaman saya ke perpuskab dulu bikin kapok, pegawai jutek, buku sulit dicari dan campur aduk kayak urapan.

“Emangnya nggak ada cafe di sana?” Ada, banyak, dan terlalu bising. Suara musik dan obrolan jadi tumpang tindih. Akhirnya saya harus melipir ke pucuk Batang atau Kabupaten Pekalongan sekalian biar nemu tempat yang benar-benar damai.

#2 Dunia sosial yang terlalu ramai

Sebagai F alias feeling, INFJ merasa jauh lebih nyaman dengan obrolan mendalam dan penuh makna, dibanding basi-basi penuh tanya tanpa dengar. Sayangnya, obrolan di perbatasan Batang dan Pekalongan ini justru didominasi dengan harga beras, outif, teman baru nikah, ngunduh mantu Al-Alisya, dan tentunya kamu, iya, kamu yang belum nikah-nikah juga.

Masyarakat di kabupaten nggak terkenal ini juga suka salah paham. Kalau INFJ diam saja, dikira sedang banyak masalah atau ngambek. Padahal kami cuma sedang mengamati, mencerana, dan mikirin kehidupan. Termasuk mikir, dunia ini masih layak diselamatkan nggak, ya?

Sebenarnya kami bisa basa-basi, cuma nggak terlalu suka. Tapi lagi-lagi, di sini basa-basi udah kayak alat komunikasi wajib yang kamu bakal dipandang aneh kalau cuma diam. Jadi anomali kali yak.

#3 Daerah perbatasan Batang dan Pekalongan minim ruang diskusi yang suportif

INFJ cenderung suka obrolan yang panjang dan mendalam soal ide atau hal-hal yang bersifat reflektif dan solutif. Tapi sayangnya, ruang diskusi yang seperti itu terbatas. Bahkan saat saya mencoba ngobrolin kebijakan publik, keresahan sosial atau topik serupa, obrolan tersebut justru dianggap terlalu berat.

Padahal yang orang INFJ seperti saya butuhkan adalah ruang untuk mencari kedalaman dan memproses berbagai persoalan tadi. Jadi ketika masyarakat cenderung menyukai hal yang bersifat instan, cepat, ringan, dan alergi serius, INFJ semakin merasa tersesat.

Sekarang saya mulai sadar, INFJ nggak punah dan tersisa 2% karena kami bisa bertahan. Bukan karena cocok, tapi lantaran terbiasa membangun dunia di dalam kepala.

Perbatasan Batang dan Pekalongan mungkin memang bukan habitat alami saya. Tapi setidaknya, di tengah kebisingan ini saya tetap menulis, menyaring keramaian menjadi makna. Atau mungkin, INFJ seperti saya sengaja nggak diciptakan untuk ramai tapi untuk memahami kenapa manusia begitu takut berbeda dan sendirian?

Jadi, apakah kiranya pemerintah bisa membangun ruang publik yang tenang dan ramah introvert? Oiya maap, lupa efisiensi.

Penulis: Elif Hudayana
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jalan Imam Bonjol Pekalongan Memaksa Saya Ganti Motor: Baru Ganti Motor Sebulan Udah Masuk Bengkel.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2025 oleh

Tags: batangINFJKabupaten BatangKota Pekalonganpekalongan
Elif Hudayana

Elif Hudayana

Seorang content writer. Tertarik dengan isu kesehatan mental dan parenting.

ArtikelTerkait

Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan Terminal Mojok

Hidup di Kota Pekalongan Itu Menyenangkan, Saya Lagi Nggak Bercanda, Semenyenangkan Itu!

11 Juli 2023
Matarmaja, Kereta Kebanggaan Warga Jawa Timur

Kereta Api Matarmaja Tak Pernah Berubah, Masih Saja Sumpek dan Nggak Nyaman

15 Juli 2023
Warmindo di Pekalongan (Unsplash.com)

Beberapa Warmindo di Pekalongan Bukan Tempat yang Menyenangkan

19 Juni 2022
Semarang di Mata Orang Batang: Nyaman Ditinggali, Nggak Seburuk yang Dikatakan Orang

Semarang di Mata Orang Batang: Nyaman Ditinggali, Nggak Seburuk yang Dikatakan Orang

20 Juni 2024
6 Alasan Orang dengan Kepribadian INFJ Sulit Didekati Terminal Mojok

6 Alasan Orang dengan Kepribadian INFJ Sulit Didekati

9 November 2022
Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

6 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia (Unsplash)

3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia

25 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.