Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasinonal (Perpusnas) RI hingga Rp300 miliar jadi seporsi kekalahan bagi WNI.
Saya agak miris melihat apa yang terjadi di Indonesia. Alih-alih semakin serius memperkuat perpustakaan, anggaran Perpusnas 2026 justru mengalami pemotongan besar.
Menurut data, pagu anggaran Perpusnas tahun 2026 sebesar Rp377,99 miliar. Tahun sebelumnya pagunya mencapai Rp721,68 miliar. Artinya turun sekitar 47,6 persen. Hampir separuh. Mengutip berbagai sumber, pemangkasan anggaran Perpusnas mengakibatkan terhentinya pembagian buku ke desa-desa, taman bacaan masyarakat, hingga ke lembaga pemasyarakatan (lapas).
Sedihnya lagi, pemotongan anggaran Perpusnas RI terjadi ketika pekerjaan rumah tentang pendidikan kita masih segunung. Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026 menunjukkan kemampuan membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD.
Selain itu, skor PISA pada bidang membaca, sains, dan matematika tercatat masih tertinggal dan belum mencapai target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Tentu saja persoalan literasi tidak akan selesai hanya dengan anggaran Perpusnas yang menggunung, membangun perpustakaan di sana-sini, dan distribsusi buku. Sekolah, keluarga, guru, serta kondisi sosial ekonomi juga berperan. Tetapi justru karena masalahnya kompleks, rasanya aneh kalau salah satu infrastruktur penting untuk mendekatkan masyarakat dengan buku malah harus menghadapi pemotongan anggaran hampir separuh.
Yang membuat situasi ini terasa semakin ironis adalah Presiden Prabowo Subianto sendiri dikenal sebagai pembaca buku. Sejumlah media memberitakan perpustakaan pribadinya di Hambalang yang terdiri dari dua lantai dan memiliki ribuan koleksi buku, mulai dari sejarah, politik, ekonomi, filsafat, hingga peperangan.
WNI patut bangga mengetahui seorang presiden memiliki perpustakaan pribadi sebesar itu. Namun, di situ paradoksnya. Kalau Presiden memahami betul bahwa buku penting sampai menyediakan dua lantai untuk ribuan koleksi pribadinya, seharusnya akses terhadap buku bagi masyarakat juga mendapatkan perhatian yang sama seriusnya.
Tidak semua anak Indonesia memiliki orang tua yang mampu membeli buku setiap bulan. Tidak semua rumah mempunyai rak buku. Jangankan perpustakaan pribadi dua lantai, sebagian keluarga mungkin untuk menyediakan satu meja belajar saja masih kesulitan. Karena itu, perpustakaan publik menjadi penting.
Belajar dari perpustakaan-perpustakaan di Brisbane Australia
Di Brisbane Australia, perpustakaan bisa dibangun menjadi ruang publik yang hidup. Selama saya dan keluarga tinggal di Brisbane Australia, perpustakaan jadi salah satu tempat yang cukup sering saya dan keluarga sambangi selain taman.
Di Brisbane Australia, perpustakaan tidak hanya membaca dan meminjam buku. Perpustakaan Australia bisa jadi tempat jalan-jalan, refreshing, hingga menggelar acara.
Selama saya dan keluarga tinggal di Brisbane Australia, kami sudah mengunjungi beberapa perpustakaan. Dan, masing-masing perpustakaan punya karakter, fasilitas, koleksi dan kegiatan yang berbeda-beda dan khas. Asal tahu saja, Brisbane City Council mengelola 33 perpustakaan, belum termasuk Mobile Library dan Pop-up Library.
Saya mencoba mengamati perpustakaan-perpustakaan yang ada di Brisbane Australia. Saya pikir-pikir, perpustakaan di sini benar-benar digarap dengan serius hingga berhasil menerapkan konsep 4P di ilmu pemasaran yakni product, place, price, dan promotion.
Product perpustakaan-perpustakaan di Brisbane Australia nggak cuma buku
Produk utama perpustakaan-perpustakaan di Brisbane, Australia jelas buku. Mau buku anak, novel, sejarah, kesehatan, bisnis, sampai buku resep masakan, tersedia. Namun, rasanya terlalu berat kalau perpustakaan hanya mengandalkan buku sebagai daya tariknya, apalagi di tengah zaman serba digital seperti sekarang ini.
Perpustakaan di Brisbane sadar soal itu. Itu mengapa, mereka tak hanya menawarkan buku yang ada di rak. Mereka juga menyediakan tempat bekerja, komputer, Wi-Fi, ruang pertemuan, koleksi digital, dan berbagai kegiatan komunitas.
Brisbane City Council, misalnya, rutin mengadakan kegiatan untuk anak-anak seperti Babies, Books and Rhymes, Toddler Time, dan Children’s Storytime. Ada pula klub membaca, pelatihan teknologi, kelas menulis, kegiatan bersama penulis, hingga kelompok percakapan bahasa Inggris.
Nah, program bahasa Inggris ini menarik. Australia adalah negara dengan penduduk yang berasal dari berbagai negara. Bagi orang yang bahasa pertamanya bukan bahasa Inggris, perpustakaan bisa menjadi tempat belajar sekaligus mencari teman baru.
Artinya, perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi gudang buku. Ia menjadi ruang belajar, ruang bermain, ruang bekerja, dan ruang sosial.
Anak saya bisa sibuk dengan buku dan aktivitasnya. Saya bisa membuka laptop. Orang lain mungkin datang untuk belajar bahasa Inggris. Lansia bisa membaca koran. Ada keluarga yang mengikuti storytime.
Place, pemilihan tempat yang strategis
Beberapa perpustakaan yang kami kunjungi berada di lokasi yang sangat strategis. Akses ke perpustakaan tergolong mudah karena dekat atau menyatu dengan kawasan pertokoan dan pusat aktivitas masyarakat.
Sekilas penempatan ini terlihat sepele, tapi aslinya sangat penting. Perpustakaan tidak berada di lokasi yang terpencil atau sakral di mana orang-orang begitu sulit untuk mencapainya. Perpustakaan sengaja berlokasi di titik-titik yang dekat dengan aktivitas warga.
Mau berbelanja? Bisa mampir perpustakaan. Anak pulang sekolah? Bisa mampir perpustakaan. Mau mencari tempat duduk sambil menunggu pasangan belanja? Nah, ini favorit saya. Ketimbang saya dan anak-anak membuntuti istri masuk dari satu toko ke toko lain, lebih baik kami masuk perpustakaan.
Jam bukanya pun cukup ramah untuk aktivitas keluarga. Jadi ketika sore hari anak ingin mencari buku baru untuk dibaca sebelum tidur, pergi ke perpustakaan masih menjadi pilihan yang masuk akal. Inilah yang kadang hilang ketika kita bicara soal meningkatkan minat baca.
Kita sering bertanya, “Kenapa masyarakat malas membaca?” Tetapi jarang bertanya, “Memangnya buku dan tempat membaca kita dekat dengan kehidupan masyarakat?”
Perpustakaan memang gratis, tapi tetap perlu dipasarkan
Bergabung jadi anggota Brisbane City Council Library itu gartis, begitu pula dengan memanfaatkan fasilitasnya. Mau masuk? Gratis. Mau pinjam buku? Gratis. Ikut storytime dan banyak program lainnya juga nggak dipungut bayaran.
Salutnya lagi, semua layanan dan program itu aktif dikomunikasikan lewat situs pemerintah kota, media sosial, aplikasi perpustakaan, serta publikasi What’s On in Libraries. Langkah-langkah tersebut jelas memenuhi ilmu marketing promotion.
Ini penting karena perpustakaan juga sedang berebut perhatian. Lawannya bukan cuma toko buku. Lawannya adalah mal, bioskop, tempat bermain, media sosial, game, streaming, dan ponsel yang berada 24 jam di tangan kita.
Promosi patut dicontoh. Sebab, selama ini ada pandangan kalau pemerintah sudah membangun dan menyediakan perpustakaan atau fasilitas lain, masyarakat seharusnya bisa langsung datang sendiri. Lho, memang masyarakat tahu di sana ada apa?
Kegiatan perpustakaan Brisbane cukup aktif dikomunikasikan melalui situs pemerintah kota, media sosial, aplikasi perpustakaan, serta publikasi What’s On in Libraries yang memuat kegiatan yang akan berlangsung.
Perpustakaan di Brisbane Australia terasa begitu dekat
Jujur saja, selama tinggal di Indonesia saya belum pernah mengajak anak saya yang masih usia taman kanak-kanak pergi ke perpustakaan. Tentu salah saya juga.
Akan tetapi, setelah tinggal di Brisbane, saya baru merasakan bagaimana perpustakaan bisa begitu dekat dengan kehidupan anak. Sebagai orang yang sejak kecil suka membaca komik, saya tentu ingin anak-anak saya juga punya pengalaman menyenangkan bersama buku.
Lebih jauh lagi, saya membayangkan perpustakaan di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku. Bayangkan kalau setiap kecamatan memiliki perpustakaan publik yang nyaman dan hidup. Anak-anak datang untuk mendengarkan dongeng Nusantara. Ada kelas menggambar, pertunjukan boneka, membuat wayang, hingga sesi mengenalkan permainan tradisional. Anak bisa bermain congklak, belajar lagu daerah, membaca cerita rakyat, mengenal pakaian adat, atau mendengarkan cerita tentang daerah lain di Indonesia.
Remaja punya tempat berkumpul yang tidak mengharuskan mereka membeli kopi Rp40 ribu. Lansia punya ruang untuk bersosialisasi. Masyarakat bisa mengikuti pelatihan digital. Perpustakaan akhirnya bukan lagi gedung penuh rak yang sunyi dan hanya dikunjungi ketika seseorang membutuhkan referensi skripsi. Ia menjadi ruang publik tempat pengetahuan dan kebudayaan bertemu dengan kehidupan sehari-hari.
Membangun budaya membaca
Australia membuat saya sadar bahwa cara meningkatkan budaya membaca mungkin tidak cukup dengan menyuruh anak, “Ayo, jangan main HP terus. Baca buku!” Kita perlu membuat membaca menjadi mudah, dekat, gratis, dan menyenangkan.
Kalau perpustakaannya jauh, koleksinya tidak menarik, kegiatannya minim, promosinya tidak terdengar, dan anggarannya berkurang, jangan terlalu heran kalau anak-anak lebih memilih menatap layar.
Mereka bukannya selalu tidak suka membaca. Bisa jadi kita memang belum menyediakan cukup banyak tempat yang membuat mereka jatuh cinta pada kegiatan itu.
Dan, kalau anggaran Perpusnas berkurang hampir separuhnya ketika kemampuan membaca anak-anak kita masih tertinggal, barangkali yang sedang kita lakukan bukan membatasi anggaran Perpustakaan. Mungkin, kita sedang membatasi perkembangan kemampuan literasi generasi mendatang.
Penulis: Mochamad Iqbal Nurmansyah
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
