Informasi
ADVERTISEMENT

Tinggal di Australia bikin saya sadar, taman punya peran penting di kehidupan, tak kalah esensial dari makan bergizi

Tinggal di Australia bikin saya sadar, taman punya peran penting di hidup, tak kalah esensial dari makan bergizi Mojok.co

Sebelum pindah ke Brisbane, Australia saya seperti keluarga Indonesia pada umumnya. Di akhir pekan, saya dan keluarga menghabiskan sering waktu di mal karena bingung mau ke mana. Rasanya tidak punya banyak pilihan tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Mal telah menjadi semacam taman kota bagi masyarakat urban Indonesia. Bedanya, tamannya pakai AC, diapit toko baju, dan ada risiko pulang membawa barang yang sebenarnya tidak kita perlukan.

Setelah pindah ke Australia, kebiasaan itu perlahan berubah. Bukan karena saya mendadak tercerahkan lalu menjadi keluarga pencinta alam. Alasannya jauh lebih sederhana, mau ngapain juga di mal?

Mal di Australia, sejauh dari pengalaman saya, fungsi utamanya sebagai tempat belanja. Ya ada tempat makan, supermarket, dan beberapa hiburan, tetapi tidak selalu menjadi tujuan rekreasi keluarga seperti yang lazim kita temui di kota-kota besar Indonesia.

Dan, ternyata taman di Brisbane itu banyak. Dengan penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, kota ini memiliki lebih dari 2.000 taman. Di sekitar tempat tinggal kami saja, ada banyak taman yang bisa dicapai dengan naik sepeda. Belum habis taman yang satu dieksplorasi, sudah ketemu taman lain beberapa blok kemudian.

Bukan cuma jumlahnya yang banyak, di Brisbane taman diperlakukan sebagai bagian serius dari kehidupan kota. Ada taman kecil dengan playground berisi ayunan, perosotan, dan panjat-panjatan. Taman yang lebih besar bisa punya toilet, air minum, lapangan olahraga, jogging track, barbecue, outdoor gym, scooter track, sampai permainan air. Brisbane bahkan memiliki lebih dari 170 fasilitas outdoor gym di taman-tamannya.

Pengalaman hidup di Australia membuat saya mau tidak mau membandingkannya dengan apa yang terjadi di Indonesia. Minimnya taman yang terjangkau secara jarak dan biaya membuat banyak keluarga lebih memilih main ke mal.

Butuh lebih banyak taman seperti di Australia 

Ingin rasanya mendorong pembangunan lebih banyak taman di Indonesia seperti di Australia, mengingat betapa besarnya peran ruang satu ini untuk publik. Namun, apa daya, pemerintah saat ini lebih menempatkan persoalan gizi sebagai salah satu agenda besar melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam APBN 2026, alokasi untuk program MBG disebut mencapai lebih dari Rp200 triliun. 

Tentu memberi akses makanan bergizi kepada anak adalah tujuan yang penting. Indonesia masih menghadapi persoalan kekurangan gizi dan stunting yang tidak bisa dianggap remeh. Beberapa kelompok prioritas masih membutuhkan makan Bergizi.

Akan tetapi, masalah gizi kita tidak hanya kekurangan gizi. Kita menghadapi apa yang disebut double burden of malnutrition. Di satu sisi masih ada anak yang kekurangan gizi, di sisi lain jumlah anak yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas juga terus menjadi persoalan.

Data Kementerian Kesehatan mengungkapkan, sekitar 20% atau 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun di Indonesia mengalami obesitas. Di titik inilah pembangunan taman sebenarnya bisa dilihat sebagai salah satu intervensi pendukung kesehatan dan gizi yang sensitif terhadap lingkungan.

Karena itu, menurut saya sah saja kalau kita mulai mempertanyakan prioritas. Apakah seluruh ekspansi anggaran MBG harus terus diarahkan hampir sepenuhnya untuk menyediakan makanan? Atau sebagian sumber daya negara juga perlu dialihkan untuk membangun lingkungan yang membuat anak Indonesia lebih sehat dalam jangka panjang seperti taman-taman di Australia?

Tidak perlu berkhayal setiap kelurahan punya taman besar. Mulai saja dari hal sederhana, tanah yang cukup, beberapa pohon rindang, playground yang aman, lapangan kecil, jalur jogging, toilet yang bersih, air minum, dan tempat duduk untuk orang tua.

Kalau sedikit lebih ambisius, tambahkan lapangan basket, outdoor gym, jalur sepeda, atau permainan air. Dan, yang penting, gratis serta dekat dengan permukiman. Sebab, percuma punya taman kota megah kalau untuk mencapainya keluarga harus menempuh perjalanan satu jam, terkena macet, lalu membayar parkir mahal.

Jadi bagian dari kehidupan sehari-hari

Taman seharusnya bukan destinasi wisata. Taman harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya baru menyadari itu setelah tinggal di Brisbane.

Dulu, ketika anak bilang ingin bermain, kepala saya otomatis mencari mal terdekat. Sekarang kepala saya mencari taman terdekat.

Perubahan kecil itu membuat saya berpikir, mungkin yang membuat masyarakat aktif tidak selalu kampanye “ayo olahraga”, seminar kesehatan atau poster tentang bahaya obesitas.

Kadang yang dibutuhkan orang cuma tempat yang memungkinkan mereka bergerak. Kalau tamannya dekat, aman, menarik, dan gratis, anak-anak tidak perlu diperintah untuk berolahraga, mereka akan berlari sendiri.

Dan, orang tuanya akan ikut berjalan di belakang mereka. Sambil menikmati satu kemewahan yang semakin langka di kota-kota kita: rekreasi tanpa harus mengeluarkan dompet.

Penulis: Mochamad Iqbal Nurmansyah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kebohongan WHV Australia yang Telanjur Dipercaya Pencari Kerja Indonesia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Mochamad Iqbal Nurmansyah

Kontributor aktif media opini dan satir.