Informasi
ADVERTISEMENT

Ternyata skripsi itu yang mahal bukan cuma biaya ngeprint, tapi juga jaga mood-nya

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Menulis Kata Pengantar Skripsi agar Nggak Jadi Bom Waktu di Kemudian Hari

Di mata masyarakat awam atau kerabat yang rajin bertanya “kapan wisuda”, anggaran skripsi itu kalkulasinya sederhana: bayar UKT, beli kertas, lalu bawa berkas ke tukang fotokopi. Padahal kenyataan di lapangan jauh lebih brutal.

Biaya ngeprint draft skripsi untuk sekali bimbingan rutin saja zaman sekarang jelas bukan perkara murah. Mari kita hitung secara rasional. Satu draft tebalnya bisa mencapai 100 sampai 150 halaman. Walaupun cuma diserahkan ke satu dosen pembimbing, kalau harus mencetak draft utuh beserta lampiran-lampiran data penelitian yang tebal, sekali berangkat bimbingan saja uang Rp70.000 sampai Rp100.000 bisa langsung melayang begitu saja di meja tukang fotokopi.

Bayangkan kalau frekuensi revisinya terjadi berulang kali per bab. Belum termasuk kewajiban cetak warna untuk tabel, grafik, atau lampiran, serta biaya jilid rapi. Dalam hitungan bulan, uang jutaan rupiah bisa menguap hanya untuk urusan cetak-mencetak berkas bimbingan.

​Namun, mengeluhkan biaya cetak skripsi yang sudah tembus seratus ribu sekali bimbingan itu hanyalah sebagian dari drama finansial mahasiswa tingkat akhir. Ada satu komponen biaya lain yang jauh lebih tersembunyi, membengkak secara eksponensial, dan tidak pernah diajarkan di mata kuliah metodologi penelitian: biaya operasional menjaga mood lewat makanan.

Sebelum skripsi datang ke meja pembimbing

Sebelum lembaran skripsi itu punya wujud fisik dan dibawa ke dosen pembimbing, ada proses panjang nan menyiksa untuk membujuk otak agar mau mengetik kata demi kata di depan layar laptop. Dan perantara utama agar otak itu mau bekerja hanyalah satu, yaitu makanan enak.

​Menghadapi skripsi di kamar kos sendirian tanpa amunisi makanan penstabil emosi adalah bentuk tindakan tidak bijak. Begitu Microsoft Word dibuka dan mata menatap coretan merah dari dosen pembimbing minggu lalu, hormon kortisol langsung melonjak tinggi. Kepala mendadak berat, fokus buyar, dan dorongan untuk melarikan diri ke kasur menjadi sangat dominan. Di titik inilah pemicu pengeluaran destruktif dimulai. Bahan bakar penunjang mood dalam bentuk kuliner harus segera dipesan.

​Ngerjain bab satu dan latar belakang masalah, rasanya tidak akan jalan kalau tidak ditemani satu piring dimsum hangat yang diguyur minyak cabai pedas manis. Mau masuk ke bab dua yang penuh dengan sintesis teori dan kajian pustaka, kepala mendadak butuh dorongan kuah pedas dan gurih. Jadi belilah bakso urat pentol besar lengkap dengan tahu dan tetelan.

Nanti malamnya, pas mau merapikan metodologi penelitian di bab tiga, lidah mendadak merasa sepi. Tiba-tiba, ada martabak telur atau cireng isi sebagai camilan saat jemari mengetik. Belum lagi urusan minuman penahan kantuk. Mulai dari es kopi susu gula aren, boba, sampai es teh kekinian yang dibeli via aplikasi transportasi online.

Baru mau merangkai beberapa paragraf skripsi saja, modal kuliner penstabil emosi yang keluar sudah puluhan bahkan ratusan ribu rupiah.

Self-reward yang salah kaprah

​Bencana keuangan berkedok “jaga mood dengan makan” ini kian menjadi-jadi karena adanya jebakan logika self-reward yang salah kaprah. Secara ideal, penjelasannya sederhana: hadiah makanan enak diberikan setelah sebuah pencapaian besar diraih. Namun bagi mahasiswa yang mentalnya sudah babak belur dihantam revisian, jajan makanan enak malah dijadikan syarat mutlak sebelum mulai ngerjain.

Dosen pembimbing skripsi membatalkan jadwal bimbingan secara sepihak, obat penyembuh kecewanya adalah makan bakso iga ekstra pedas. Bab empat ditolak total dan diminta rombak ulang, penawarnya adalah memesan makanan cepat saji atau dimsum porsi jumbo. Mekanisme pertahanan diri lewat perut ini terus berulang selama berbulan-bulan, membuat dompet terkuras habis bahkan sebelum skripsi selesai disetujui.

​Ketika lembaran skripsi akhirnya dinyatakan ACC, dijilid rapi, dan siap dikumpulkan, barulah kesadaran finansial itu datang menghantam. Biaya ngeprint draft bimbingan yang sekali jalan saja sudah Rp70.000 sampai Rp100.000 memang terhitung mahal dan bikin meringis.

Namun, ketika nominal itu disandingkan dengan rekapitulasi pengeluaran untuk segala macam sesajen makanan penenang pikiran selama satu semester, biaya print hanyalah puncak kecil dari gunung es pengeluaran skripsi.

Jadi, bagi siapa pun yang sedang berjuang menuntaskan skripsi, siapkan tabungan dengan cermat. Jangan cuma menyiapkan dana untuk biaya cetak berkas bimbingan yang makin mencekik. Tetapi siapkan juga pasokan dana yang cukup untuk membeli makanan enak demi menjaga mood agar pikiran tetap waras sampai gelar sarjana benar-benar diraih.

Penulis: Iday Daiyah Adawiyah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Skripsi Tak Hanya Sulit, Juga Mahal: Sudah Biaya Cetaknya Mahal, Berkali-kali pula, tapi Nggak Semua Dosen Mau Bimbingan Pakai Soft File

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 September 2026 oleh .

Iday Daiyah Adawiyah

Kontributor aktif media opini dan satir.