Yang saya tahu tentang Kota Medan, dari media sosial, dari kata orang, dari berita, adalah (katanya) Medan itu menakutkan, penuh dengan rayap besi, kota pungli, bahkan dijuluki Gotham City. Segala yang buruk, dilekatkan pada kota ini, tanpa terkecuali.
Selama satu tahun merantau di Medan, saya melihat banyak hal baru, baik atau buruk semuanya ada porsinya. Yang bisa saya bilang, setiap kota yang ada di Indonesia memiliki kehidupan positif dan negatifnya masing-masing. Tidak semua kota murni “suci” untuk dijelajahi, akan ada saja keluhan, dan hal negatif lainnya.
Saya belajar banyak selama di Medan, kota yang katanya keras, kota yang buas. Kalau kalian melihat hal-hal buruk—dan mungkin percaya, saya justru mendapat hal lain: kota ini membentuk saya jadi makin teguh, tegas, dan berpendirian.
Medan itu bukan tempat orang “Baperan”
Medan ibarat besi merah ditempa yang ditempa terus-terusan, tanpa henti. Lama-lama menjadi keras, lama-lama terlihat bentuknya.
Maksud saya, kota ini menempa semua manusianya, baik mental, raga, serta jiwa. Di kota ini, saya memilih untuk tidak menggunakan perasaan sebagai satu-satunya cara melihat dunia. Fokus dengan apa yang saya kejar menjadi tujuan utama, yaitu menjadi seorang berpengalaman.
Kota Medan bukan buat orang baperan. Jika nada keras bikin kamu ciut, saya rasa kamu tidak cocok hidup di kota ini. Mungkin karena saya orang Makassar, yang mirip-mirip, jadi saya bisa beradaptasi dengan mudah. Tapi kalau baperan sih, ya mau dari mana aja susah.
Masih banyak yang bisa dinikmati dari Medan
Medan memberi banyak pengalaman baru dalam kehidupan saya, sejak awal hingga setahun saya menetap. Tentu, saya sudah tahu selentingan kabar tentang kota ini. Lalu, saya membandingkan dengan apa yang saya lihat dengan mata saya sendiri, dan nyatanya Medan tidak seburuk itu.
Banyak tempat masih dapat saya nikmati, pusat kota dimanjakan dengan gedung pencakar langit, Lapangan Merdeka sebagai pusat masyarakat berkumpul, Kantor Pos Bloc tempat healing remaja, belum lagi Rumah Tjong A Fie yang mengajarkan sejarah kota Medan.
Jangan lupa, suku melayu juga menyimpan khas tersendiri. Saya menikmati ketika bisa belajar melihat langsung peninggalan Kesultanan Deli, seperti Istana Maimun, Masjid al-Mashun. Dan masih banyak lagi tempat unik yang bisa disambangi.
Lihat, Medan tak begitu buruk, bukan?
Surga kuliner
Kalian tak bisa ngomongin Medan tanpa ngomongin kulinernya. Coba tanya para orang Medan yang merantau, pasti mereka membanggakan kulinernya. Setahun di sini, saya paham maksudnya, karena memang mereka pantas untuk berbangga.
Inilah yang membuat saya rasa Kota Medan ini tidak menakutkan dan tidak seseram apa yang media bicarakan. Di balik semua image keras yang dibangun orang-orang, sepiring makanan masakan orang Medan sepertinya bisa menenangkan pikiran-pikiran yang penuh penghakiman.
Konsep ngopi yang unik
Ngopi di Medan itu menarik. Mungkin bagi kalian, ini lazim, tapi bagi saya unik.
Ketika saya ke Jalan Gatot Subroto pada malam hari, saya tercengang melihat banyak sekali kursi lipat outdoor depan ruko. Ternyata sepanjang jalan itu diisi para pencinta kopi. Di kepala saya, ini tempat nongkrong yang asik, memberikan konsep unik, pinggir jalan dengan lampu berwarna kuning.
Tak hanya di Jalan Gatot Subroto, konsep seperti itu tersebar di seluruh Kota Medan. Jadi para anak muda dapat healing dengan harga terjangkau dan nyaman.
Selain itu, dunia malam di Medan juga hidup. Bukan dunia malam itu ya, melainkan dunia malam di Kesawan, sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga ke Lapangan Merdeka. Terlihat banyak anak muda hingga orang tua menghabiskan waktu untuk bercengkerama, photobox, buat konten, kulineran, street photography, atau sekadar ngopi.
Dengan bangunan khas Chinese, membuat kota itu seperti kota tua. Menurut saya itu adalah spot keren untuk membagikan moment, tempat yang nyaman dan bersih.
Medan, kota rukun budaya
Medan membuat saya takjub dengan kebudayaannya. Berbagai jenis kultur bersatu bersama dalam satu kota. Mulai dari Melayu, Batak, India, China, hingga Arab saling hidup bersama-sama. Saya mendapati kebudayaan tersebut saling menopang satu sama lain, bukan karena siapa paling hebat dan terkenal, melainkan karena satu tujuan bersama yaitu ketenangan.
Saya melihat Kota Medan ini dipenuhi dengan keunikan, budaya dengan ciri khas menggambarkan bahwa Kota Medan tidak seburuk dalam penglihatan kita selama ini di media sosial. Bahkan dari suku dengan suku lainnya hidup berpasangan, menyambung kuat tali kekerabatan dan menyatukan satu hati.
Bagi saya, Kota Medan menyimpan segudang nilai positif di balik banyaknya penilaian negatif yang selama ini diproduksi berulang. Yaaa memang perlu pembenahan sedikit dalam segi sumber daya manusia, tapi bukan berarti terpukul rata bahwa karakteristik semuanya sama.
Mungkin saya mengulang kata-kata ini berkali-kali, tapi, saya perlu tegaskan bahwa memang itulah yang terjadi. Saatnya melihat Medan dari sisi yang lain, sebab, kota ini tak seburuk yang ada di layar gawaimu.
Penulis: Fitra Ramadhan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Selain kota parkir, Purwokerto layak mendapatkan julukan kota 1001 lampu merah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.