Sudah sekian tahun gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bangkalan Madura memprihatinkan. Akhirnya, tahun lalu ada kabar kabupaten ini membangun gedung baru sebagai lokasi perpustakaan daerah.
Tak butuh lama, tahun ini gedung baru itu sudah berdiri dan beroperasi. Ya, tentu saja ini adalah kabar baik bagi peningkatan literasi di Bangkalan Madura.
Akan tetapi, sayang yang namanya proyek pemerintah jarang ada yang berjalan maksimal. Demikianlah Perpusda Bangkalan, meskipun gedungnya sudah bisa dimanfaatkan, ada beberapa hal yang menurut saya belum ideal dan juga sangat penting untuk diperhatikan.
Hal-hal yang saya maksud ini akan sangat berpengaruh pada kemauan warga Bangkalan untuk berkunjung. Nah, berikut saya bantu rincikan apa saja yang perlu dibenahi oleh Perpusda Bangkalan Madura.
Gedung Perpusda Bangkalan Madura masih seperti bangunan bekas perang
Sebagai pengunjung Perpusda Bangkalan, saya merasa gedung baru perpustakaan ini sebetulnya belum benar-benar rampung. Tidak butuh seorang arsitek atau ahli teknik sipil untuk mengatakan bahwa gedung ini sebenarnya belum 100% selesai. Sebab, dari tampilannya saja, sangat banyak hal yang masih perlu untuk dibenahi.
Seperti judul sub-bab ini, bangunannya lebih mirip gedung bekas perang daripada disebut perpustakaan.
Saya tidak mengada-ada dengan ilustrasi saya ini. Pertama, di halaman depan gedung ini, masih banyak bebatuan yang belum dirapikan. Akses masuk ke area bangunann juga belum rapi beraspal. Kedua, dinding-dinding di luar ruangan juga masih mentahan, banyak yang belum dicat sama sekali. Lorong-lorong untuk masuk ke ruangan juga masih kosong melompong, tidak ada hiasan. Masih full semen. Maka, jangan heran jika saya menyebutnya lebih mirip gedung bekas perang.
Ya saya akui, untungnya sudah banyak desain ruang in doornya yang cukup representatif. Jadi, masih cukup tertolong.
Pojok Baca Perpusda Bangkalan jangan jadikan ruang bercanda
Meskipun saya katakan desain ruangnya sudah bagus, tak berarti semua ruang in door-nya sudah merepresentasikan suasana sebuah perpustakaan. Di sini, terutama sekali, saya menyayangkan ruang pojok baca di lantai dua gedung ini. Sebab, yang idealnya pojok baca adalah ruang yang tenang, di Perpusda Bangkalan malah sebaliknya.
Sudah beberapa kali berkunjung kesana, ketika saya membaca buku di Pojok Baca, sering kali saya terganggu oleh obrolan karyawan yang penuh gelak tawa di ruangan sebelahnya.
Sebetulnya, saya tidak masalah dengan obrolan mereka, tapi kurang elok rasanya jika itu dilakukan di ruang pojok baca. Pengunjung ingin cari ruang tenang sambil membaca buku, eh malah ketemu karyawan yang mengganggu.
Saya pun sebenarnya merasa maklum sebab ruang Pojok Baca dan ruang karyawannya memang bersebelahan tanpa penghalang yang pas. Jadi saran saya, alangkah lebih baik ruang karyawannya atau ruang Pojok Baca dipindah atau dipisah. Sebab, jika dibiarkan, saya yakin hal demikian akan terus terjadi sehingga mengganggu para pengunjung.
Karyawan perlu inisiatif lebih
Selain masalah di atas, ada pula fenomena di Perpusda Bangkalan yang menurut saya tidak ideal dari sebuah perpustakaan. Waktu itu, kebetulan saya sedang menikmati buku Cerita Calon Arang karya Pak Pram. Dapat setengah halaman, sekitar tujuh anak SD berusia belasan tahun datang berlarian memasuki ruang pojok baca. Saya pribadi merasa terganggu, sebab anak-anak yang berlarian itu juga sambil berteriak-teriak tidak jelas.
Lalu, datanglah salah satu karyawan menegur anak-anak itu. Katanya, jangan rame-rame ada mas-mas dan mbak-mbak yang lagi baca buku. Kalau saya tidak salah, mereka juga diminta di luar saja jika ingin ramai.
Akhirnya, beberapa dari mereka pun keluar. Ya, respon karyawan itu sekilas benar, tapi bagi saya tidak ideal. Toh, ruangannya sendiri juga ramai ketawa-ketiwi sampai mengganggu para pengunjung yang lagi baca buku. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas.
Bagi saya, alangkah baiknya Perpusda Bangkalan juga punya cara lain menyambut anak-anak yang terlihat ribut. Bukan diminta diam, sebaliknya diajak untuk berdiskusi bersama. Tentu, ini membutuhkan pustakawan yang punya wawasan, menyukai anak-anak, dan bisa menarik hati mereka. Cobalah ajak anak-anak itu kumpul, lalu ceritakan salah satu buku yang menarik. Pasti mereka akan betah dan bisa rutin berkunjung ke perpustakaan.
Yah, ini hanya saran. Kalau bisa dilaksanakan, ya Alhamdulillah.
Perbarui buku-buku bacaan
Terakhir, keluhan ini bukan dari saya, melainkan dari teman-teman saya. Ketika saya mengajak mereka berkunjung ke Perpusda Bangkalan karena gedungnya baru, rata-rata dari mereka menolak. Katanya, buku-buku menarik yang ada di Perpusda Bangkalan sudah mereka khatamkan semuanya. Awalnya, mereka kira karena gedungnya baru maka koleksi buku-bukunya juga akan baru. Ternyata tidak.
Sebagai pengunjung baru yang kunjungannya masih bisa dihitung jari, ya saya belum merasakan masalah ini. Saya masih menikmati beberapa buku yang memang belum mampu untuk saya beli sendiri. Namun, jika diperhatikan, buku-buku di Perpusda Bangkalan memang terbitan lama. Jadi, mungkin jika terus tidak ada pembaruan, saya juga akan semakin jarang berkunjung nantinya.
Maka dari itu, jika ada anggaran, segeralah perbarui koleksi buku di Perpusda Bangkalan. Jika tidak, nasibnya kurang lebih akan sama dengan gedung sebelumnya, yakni sepi pengunjung.
Ya demikianlah masukan dan saran saya pada Perpusda Bangkalan. Saya berharap, pemerintah kabupaten tidak menganggap tulisan ini sebagai hal negatif. Saya menulisnya karena saya peduli dengan literasi di kabupaten ini, terutama keberadaan perpustakaan sebagai penunjang utamanya.
Nah, bagi pemustaka di Bangkalan Madura, tidak perlu ragu untuk berkunjung ke Perpusda Bangkalan Madura. Terlepas dari kritik saya di atas, pendapat saya tetap saja, perpustakaan yang baru ini masih jadi tempat paling cocok untuk menikmati waktu senggang sambil membaca buku.
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
