Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Seburuk Apa pun Citra Jogja, Tetap Saja, Perkara Keramahan, Jogja Adalah Juaranya

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
21 Januari 2024
A A
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ibarat sebuah makanan, kita bisa mengatakan makanan itu benar-benar enak ketika sudah mencicipi makanan tersebut. Pun begitu juga dengan Jogja. Memang sudah bukan rahasia lagi jika salah satu sisi istimewa Jogja adalah masyarakatnya yang ramah. Namun, saya baru mengakui hal tersebut setelah tinggal di Jogja.

Salah satu contoh, etika di jalanan. Sedikit gambaran, pengendara motor di Jogja itu benar-benar jauh dari kata barbar. Setidaknya ketika saya tinggal di Jogja. Iya, belum pernah saya temui adu mulut antarpengendara. Ketika ada pengendara yang dirasa ngawur, paling mentok ya diklakson. Tidak sampai dipisuhi, atau sampai adu jotos.

Hal ini jauh berbeda ketika saya berkendara di Malang, Surabaya, Gresik, bahkan Lamongan. Jika dibandingkan dengan beberapa daerah tersebut, berkendara di Jogja benar-benar adem-ayem.

Sejujurnya, saya tergolong pengguna motor yang agak ugal-ugalan. Dulu ketika berkendara di Jawa Timur, khususnya Malang, saya sering mendapat teguran kasar dari sesama pengendara. Berbeda ketika di Jogja. Masyarakatnya seperti tidak mengenal kalimat kasar.

Saking baiknya, pernah suatu ketika saya bangun kesiangan dan harus ke kampus. Akhirnya dengan nyawa yang belum terisi penuh, saya langsung meratakan air di sekujur muka, kemudian menuju kampus dengan kecepatan penuh.

Gara-gara baru bangun tidur dengan nyawa yang belum sepenuhnya penuh, motor saya pun hampir tabrakan sama orang. Harus saya akui bahwa 90% itu karena keteledoran saya, namun ndilalah berahir dengan senyum manis dari sang bapak, sambil bilang, “Monggo.”

Duh, jadi pekewuh.

Masyarakat Jogja terbiasa menggunakan bahasa Jawa yang halus

Selain itu, masyarakat Jogja juga sudah terbiasa menggunakan bahasa jawa yang halus. Misal dalam penyebutan kata ganti orang yang lebih tua biasanya menggunakan kata ganti “njenengan”. Bahkan untuk orang yang tidak dikenal.

Baca Juga:

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ini berbeda dengan budaya di Jawa Timur, khususnya daerah Pantura. Di sana, Kata ganti “njenengan” ini hanya digunakan untuk orang yang sangat dihormati. Seperti guru, tokoh masyarakat, kakek, nenek, dst. Sedangkan untuk orang asing yang terlihat lebih tua menggunakan kata ganti “sampean”.

Sekedar informasi bagi yang bukan orang Jawa. Penyebutan “kamu” dalam bahasa Jawa ada beberapa jenis dan tingkatan, yaitu:  kowe, awakmu, (Ngoko: paling kasar), sampeyan (Madya: sedang), njenengan (Inggil: paling halus). Selengkapnya silahkan dibaca buku Pepak Bahasa Jawa, wehehehe

Saya sendiri pun ketika memanggil orang tua kandung menggunakan kata ganti sampean, bukan njenengan. Ini bukan karena saya durhaka lho, tapi penyebutan seperti itu memang normal saja di daerah asal saya (Lamongan).

Nah, ketika menetap di Jogja, saya jadi merasa berdosa. Bayangkan saja ketika di rumah saya memanggil orang tua kandung menggunakan sampean, tapi pas di Jogja dengan orang yang tidak kenal malah manggilnya njenengan.

Selain kosa kata, masyarakat Jogja juga menggunakan diksi yang halus ketika menyampaikan kritik atau teguran. Orang Jogja tidak akan terang-terangan mengatakan, “Hei, Anda salah, harusnya kayak gini.” Mereka cenderung mengatakan “Maaf, setelah saya cek kok ternyata gini ya, apa saya yang salah lihat”. Kurang lebih begitu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, benar-benar satir sekali.

Budaya srawung yang bikin terkejut

Selain itu, hal yang paling membuat saya kagum adalah budaya srawung masyarakat Jogja. Entah bagaimana bisa terjadi, namun rasanya serawung ini seperti kegiatan bernafas bagi mereka yang pasti bisa dilakukan.

Bagi saya yang hidup di Jawa Timur, srawung termasuk sebuah skill yang luar biasa dan tidak semua orang bisa. Namun skill ini mendadak jadi nggak terlihat istimewa ketika di Jogja. Sebab, seakan semua orang Jogja bisa melakukannya.

Saya sering mengamati banyak orang, dan kebanyakan dari mereka ketika berada di lingkungan baru akan menjadi pendiam, bahkan cenderung salah tingkah. Namun ketika sudah kenal akrab, baru tuh sifat aslinya keluar.

Nah, sejauh pengamatan saya, masyarakat Jogja tidak demikian. Mereka ini bisa serawung dengan santuy, meskipun dengan orang yang baru dikenal.

Jika Anda ingin mencicipi budaya srawung di Jogja, coba saja mampir ke angkringan, dan amatilah bagaimana orang-orang dengan santuy pesen makanan, duduk, kemudian ngobrol dengan siapa saja, meski baru kenal.

Pada akhirnya, meski ada hal-hal yang menjadi sisi “hitam” untuk Jogja, kita tetap akan sepakat kalau soal keramahan, masyarakat Jogja adalah jawaranya.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 267 Tahun Jogja Berdiri: Tak Usah Bermimpi Jogja Makin Sejahtera, Begini Aja Sudah Istimewa, kok Minta Sejahtera!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2024 oleh

Tags: Jogjakeramahansrawung
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

6 Dosa Penjual Gudeg yang Ngaku Asli Jogja

6 Dosa Penjual Gudeg yang Ngaku Asli Jogja

11 Januari 2023
3 Pertigaan Jogja Paling Ruwet yang Bikin Warga Lokal Ogah Melewatinya Mojok.co

3 Pertigaan Jogja Paling Ruwet yang Bikin Warga Lokal Ogah Melewatinya

5 Agustus 2025
Derita Tinggal di Kecamatan Tegalrejo Jogja

Derita Tinggal di Kecamatan Tegalrejo Jogja

31 Maret 2023
Jadi Karyawan Startup di Jogja Itu Mimpi Buruk, Apalagi saat Bulan Ramadan. Gaji Nggak Seberapa, Hampir Nggak Ada Waktu untuk Sahur dan Buka Mojok.co

Karyawan Startup di Jogja Tersiksa, Apalagi Saat Bulan Ramadan. Udah Gaji Nggak Seberapa, Kesempatan untuk Sahur dan Buka Hampir Nggak Ada

4 April 2024
Mengulik Lebih Dalam Desa Wisata di Jogja supaya Orang Tidak Salah Kaprah Mojok.co

Mengulik Lebih Dalam Desa Wisata di Jogja supaya Orang Tidak Salah Kaprah

15 Desember 2024
Lamongan Destinasi Liburan yang Logis ketimbang Jogja (Unsplash)

Ketimbang Jogja, Lamongan Adalah Destinasi Paling Logis untuk Liburan Tahun Baru

30 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.