Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Perkara Bubur Diaduk atau Tidak Saja Kita Semua Terkotak-kotak

Atik Soraya oleh Atik Soraya
22 Juli 2019
A A
bubur diaduk

bubur diaduk

Share on FacebookShare on Twitter

Tau apa yang menarik dari orang-orang Indonesia di abad 21? bukan soal semua orang yang berubah menua 10 tahun lebih cepat, bukan itu jawabannya. Tapi, orang Indonesia di abad 21 ribut dan terklasifikasikan berdasarkan perkara hal yang sangat tidak substantif, salah satunya adalah “tim bubur diaduk atau tim bubur tidak diaduk”.

Orang Indonesia, cita-cita dan harapannya mau semua elemen masyarakatnya bersatu tanpa terpolarisasi oleh hal apapun tapi perkara bubur diaduk atau tidak saja kita sampai terkotak-kotak, selucu itu kita.

Sebetulnya tidak hanya perkara pilihan bubur mau diaduk atau tidak, soal pilihan buang tahi saja kita juga ribut. “Kalau aku tim wc jongkok, lebih sehat” kata sebagian orang yang memilih buang hajat lewat wc jongkok. “Idih ngapain jongkok, kaki pegel, kuno banget mending wc duduk” timpa sebagian orang lain yang milih buang hajat dengan duduk di wc.

Setelah itu jangan lupa penggunaan hashtag untuk meramaikan jagat maya. Mulai dari #TimBuburDiaduk #TimToiletDuduk sampai ke #TimMartabakManis #TimMartabakTelor #TimCoklat #TimKeju #AnakIPA #AnakIPS dan kita selalu begitu, selalu ribut sama sesuatu yang sepele, ribut sama sesuatu yang enggak bisa diubah karena yang dijadiin perkara adalah pilihan hidup pribadi.

Pertanyaannya, lalu gimana kalau ternyata ada orang yang nggak masuk sama kategori-kategori tadi. Mau dimasukkan kemana orang yang tidak suka makan bubur? apakah orang yang tidak suka makan bubur juga perlu buat tim atau mereka perlu berserikat agar suara mereka diakui? dari pertanyaan sepele tersebut kelihatan kan kalau semua orang hanya fokus pada mayoritas karena pada akhirnya yang minoritas memang akan selalu bungkam.

Anyway, tau apa yang lebih lucu lagi? media massa mainstream mengangkat perkara ini jadi berita! Luar biasa sekali kekuatan polarisasi bubur ini. Hal lain yang menarik adalah, cara makan bubur ini ternyata dapat mendeteksi kepribadian seseorang. wow wow wow!Enggak tau ilmu apa yang dipakai untuk mendeteksi kepribadian seseorang berdasarkan cara makan bubur tapi menurut artikel itu kalau yang suka makan bubur diaduk tandanya orang tersebut berkepribadian cuek, percaya diri, dan penuh kebebasan sedangkan tim makan bubur tidak diaduk maka orang tersebut cenderung orang yang terencana dan rapi. Menarique ya ferguso

Maka tidak heran kalau ternyata selama ini makin banyak orang yang militan sama kesukaan dan pilihan hidupnya, yo gimana nggak militan kalau orang yang berseberangan sama pilihan kita suka banyak bacot.

Ada yang suka musik indie, ada yang militan sama Kpop, ada yang anti musik Rock, ada yang suka bubur diaduk, ada yang jijik bubur diaduk, ada orang yang kesusahan untuk jongkok, ada yang nyaman di toilet duduk, ada yang pergi ke masjid, ada yang berdoa di gereja, sebagian lainnya sering ke vihara, ada yang pindah agama, yang lainnya tidak beragama, dan bejibun pilihan hidup lainnya yang dipilih orang sesuai kenyamanan dan kebahagiaan dirinya.

Baca Juga:

Bagikan Spotify Wrapped Kalian, Biarkan Orang yang Benci Makin Benci dan Makin Terlihat Tolol

3 Dosa Tukang Bubur Ayam Pinggir Jalan yang Bikin Pembeli Trauma Berkepanjangan

Saya jadi kepikiran waktu kubu cebong – kampret ada di masa kejayaannya beberapa bulan lalu sampai sempat bikin Indonesia makin terasa tersekat-sekat ternyata bisa jadi dapat inspirasi untuk membentuk jaringan itu karenaeksistensi tim bubur diaduk dan tidak diaduk ini.

Sudahlah jangan berisik sama hal yang tidak ada substansinya. Memangnya makan buburnya pakai uang kamu terus tim bubur diaduk ini maksa beri suapan bubur yang udah diaduk ke tim bubur tidak diaduk? Emang tim wc jongkok juga nginjek tempat wc duduk yang ada di rumah tim wc duduk? Please, perkara yang sebenarnya biasa aja dan bisa berakhir selow bahkan nggak perlu banget dipikirin dan dijadiin perdebatan maka nggak perlu dibuat jadi seperti civil war gini ah.

Walaupun ribut, berdebat, dan mencari perkara memang kesukaan kita tapi kalau yang dipersoalkan adalah sesuatu yang enggak bakal nemu jawaban ya mending kita persoalkan hal lain yang menyangkut hajat hidup grassroot alias para akar rumput yang kian hari makin tersingkirkan misalnya.

Ribut soal bubur, padahal ada golongan orang yang nggak bisa beli bubur. Berisik soal wc padahal masih banyak lingkungan yang sanitasinya buruk.Membuat kubu anak IPA atau IPS tapi pergi sekolah hanya demi ijazah. Nampaknya kita sulit sekali untuk bisa bersatu dan bertindak untuk sesuatu yang realistis. Yang sebagian orang Indonesia sukai adalah bermain-main dan mempermasalahkan sesuatu yang hanya nampak permukaan tanpa pernah menyentuh inti masalah yang kompleks.

Hal itu yang sepertinya bisa jadi acuan kenapa masih sedikit dari warga +62 yang menggunakan akalnya untuk bisa berpikir kritis.

Betapa egoisnya manusia hanya membela dan ribut untuk hal-hal yang menyangkut hidup dan kepunyaannya sendiri sampai sering abai sama asas-asas kemanusiaan yang lain.

Lagipula my lov, selagi pilihan hidup setiap orang tidak merugikan orang lain dan tidak membuat onar masyarakat maka sepertinya kita nggak perlu banyak bacot apalagi untuk urusan privat seseorang. Mulut dan jari-jari tangan bisa jadi terlalu sibuk untuk urusan dan keputusan hidup setiap orang, mind your own business, my lov.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: bubur diadukpemecah belahpolarisasitren
Atik Soraya

Atik Soraya

ArtikelTerkait

video klip

Video Klip Lagu Itu Penting Nggak Sih?

8 Juli 2019
Memilih Prabowo Subianto karena Gemoy Itu Sesat, Prestasinya Banyak, Masak Milih karena Tren TikTok doang

Memilih Prabowo Subianto karena Gemoy Itu Sesat, Prestasinya Banyak, Masak Milih karena Tren TikTok doang

5 November 2023
makan bubur

Hai Para Pemakan Bubur Diaduk, Bertobatlah

19 Juli 2019
3 Dosa Tukang Bubur Ayam Pinggir Jalan yang Bikin Pembeli Trauma Berkepanjangan

3 Dosa Tukang Bubur Ayam Pinggir Jalan yang Bikin Pembeli Trauma Berkepanjangan

1 Juni 2024
Kopi Hitam Tidak Ada Sangkut Pautnya Dengan Kejantanan Seseorang terminal mojok.co

Menjawab Apakah Harga Kopi Mahal Itu Sepadan

14 September 2020
Semoga Tren Makanan Pedas Overrated Segera Berakhir

Semoga Tren Makanan Pedas Overrated Segera Berakhir

28 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta (Unsplash)

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Alternatif yang Memudahkan Hidup

11 Januari 2026
6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo: Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti, Katanya Serba Murah tapi Kini Cuma Dongeng

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.