Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Peristiwa-Peristiwa Lucu yang Kafah, Ketika Orang Beragama tapi Tak Punya Logika

EmArif oleh EmArif
18 Januari 2020
A A
Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Atheis akan Telanjang Selamanya terminal mojok.co

Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Atheis akan Telanjang Selamanya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Disadari atau tidak, lama kelamaan kolom-kolom berita turut menyajikan konten-konten yang tak kalah lucu jika dibandingkan dengan video-video Standup Comedy di YouTube. Minggu pertama dan kedua tahun ini sudah tersaji beberapa berita-berita yang mengundang tawa. Mulai dari Kompetisi Liga Korupsi, KPK dilempar ke sana ke mari, hingga aksi tolak ini atau bela itu. Dan tak lupa, bencana wajib awal tahun: banjir.

Pembaca yang budiman tidak setuju? Anda menyebutnya lebih sebagai ironi, sama sekali tidak lucu? Silahkan saja. Saya juga tidak memaksa. Toh, cara Anda dan saya dalam menginterpretasikan berita-berita tersebut mungkin tidak sama. Karena bagi saya keironisan hanya akan menimbulkan pesimis dan gelisah. Oleh karena itu, saya memilih tertawa dari pada larut dalam ambyar berkepanjangan.

Namun, makin ke sini kelucuan tersebut malah tambah absurd dan tidak logis. Seperti pada peristiwa banjir Bekasi beberapa hari yang lalu. Salah satu kolom online memuat berita tentang penyegelan toko miras yang dituding sebagai penyebab banjir. Lalu ada lagi kolom online yang memuat berita tentang aksi demo tolak bioskop dekat masjid dengan dalih bela agama Islam dan pribumi.

Jika berbicara tentang politik dan perilaku para politisi, kadang kala memang patut ditertawakan. Pasalnya untuk mencapai suatu tujuan, mereka terkadang menghalalkan segala cara yang juga tak jarang mengundang tawa. Dan yang terbaru bahkan sampai pecat sana-sini demi seorang ‘pramugari’ tercinta–yang akhirnya kena pecat juga.

Lalu ada juga Liga Korupsi Indonesia. Saat ini pemuncak klasemen masih dipegang oleh Jiwasraya dengan total 13,7 T disusul oleh Asabri dengan total 10 T, di posisi selanjutnya ada Bank Century, Pelindo II, Waringin Timur, dan BLBI di posisi tiga sampai enam. Di zona degradasi posisi tujuh dan delapan dihuni kasus Papa Setnov, E-KTP, dan Hambalang.

Tapi setidaknya mereka memiliki alasan yang logis. Latar belakangnya seperti ini, prosesnya seperti ini, tujuannya ini, lalu outcome atau benefitnya ini.

Lantas ketika menggunakan mindset yang sama terhadap tiga peristiwa ‘absurd’ di atas, maka yang terjadi adalah kegagalan berpikir. Ra mashook blas!

Seperti pada kasus yang pertama. Dilansir dari Liputan 6 (11/01), menyebutkan bahwa warga menuding toko miras tersebut menjadi biang kerok bencana banjir yang menimpa permukiman mereka di awal tahun kemarin. “Dampaknya kami diturunkan azab dari Allah, saya katakan azab,” kata seorang warga setempat.

Baca Juga:

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

Banyuwangi: Ditinggal Ngangeni, Ditunggui Bikin Sakit Hati

Azab apabila digunakan sebagai sebab dari banjir memang bisa karena banjir memang bagian dari kuasa Tuhan. Namun proporsi azab sebagai sebab dari bencana banjir bisa dikatakan sangat kecil. Tak lain karena banjir merupakan bencana yang disebabkan manusia. Sangat mudah untuk dilogiskan. Entah warga tersebut punya logika atau tidak. Setahu saya sudah ada pelajaran menyangkut pelestarian alam hingga penanggulangan banjir di sekolah. Saya juga masih ingat bu guru menerangkan kalau banjir disebabkan oleh penebangan hutan secara liar hingga membuang sampah tidak pada tempatnya yang nantinya menyebabkan saluran air mampet

Toko miras dapat dianggap bersalah apabila menggunduli hutan untuk memproduksi mirasnya atau menimbun sampah botol, sampah plastik tetangga, hingga sampah masyarakat, dan menutupi sungai sehingga air meluber ke jalan. Bukannya sekadar karena jualan miras adalah maksiat. Lha kalo tokonya ditutup tapi Ente buang sampah sembarangan ya tetep banjir, Bambank! Haduh, logika mereka ada di mana coba?

Lalu yang kedua adalah Aksi Demo Bela Agama Islam dan Pribumi Menolak Bioskop XXI dekat Masjid As Sinah di PGC, Jaktim. Spanduk dalam aksi tersebut dipasang oleh ormas Gerakan Ormas Islam Betawi (GOIB). Entah logika apa yang merasuki mereka gunakan.

Lalu muncul pertanyaan, “Lantas apa hubungannya antara bioskop dan aksi bela Islam-pribumi ini? Apa bioskop ini melarang orang Islam dan pribumi untuk masuk? Nggak, kan? Mungkin karena dekat masjid, tapi juga menimbulkan pertanyaan, “Kenapa tidak boleh dekat masjid?” Kan malah enak kalau dekat dengan masjid, sebelum atau sesudah nonton jadi gampang kalau mau salat. Daripada masjidnya jauh. Boro-boro mau ke masjid, ingat aja nggak.

Keberadaan bioskop secara tidak langsung juga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Bioskop didirikan di Indonesia yang secara otomatis dikenai pajak. Hasil pajak untuk siapa, kalau nggak untuk kita–kalau nggak dikorupsi. Lalu daya tarik bioskop terhadap pemuda-pemudi yang tinggi, secara tidak langsung akan turut mendukung usaha-usaha yang ada di sekitarnya. Netflix sama indoxx1 diblokir, masa bioskop juga? Lha terus saya nontonnya apa, dong? Sinetron azab?

Jika ditarik benang merahnya, kedua kasus tersebut sama-sama dilatarbelakangi fanatisme buta terhadap agama Islam sampai-sampai meniadakan logika berpikir yang lebih mumpuni. Mereka merasa yang paling benar. Semua yang sekiranya tidak sepaham dengan mereka, akan dilibas. Bagaimanapun caranya. Memang tidak bisa dimungkiri keadaan yang ada saat ini merupakan buah dari konstelasi politik yang dibumbui dengan identitas dan agama sejak lima tahun lalu.

Namun ketika mengklaim sebagai yang paling benar, yang paling Islam, apakah representasi dari islam rahmatan lil alamin seperti itu? Lantas di mana letak rahmah-nya, di mana kasih sayangnya? Lalu lil alamin, seluruh alam.

Perilaku rahmah atau kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada orang Islam, apalagi dikhususkan kepada golongannya saja. Kasih sayang harus ditujukan kepada seluruh alam. Bahkan kepada hal-hal remeh seperti air, tanah, hingga bebatuan sungai. Jangan berbuat dhoilim (merusak) kepada alam.

Dan yang terpenting adalah cerdas. Minimal bisa menggunakan logika yang benar, lah. Karena manusia dianugerahi oleh Tuhan alat untuk berfikir, belajar, dan memahami seluruh ciptaan-Nya. Afa laa ta’qilun, al ayat, yang kurang lebih artinya apakah kamu tidak berpikir. Ketika anugerah ini tidak digunakan, maka sama saja seorang yang zalim.

Atau, meminjam istilah dari Bung Rocky Gerung: dungu, yaitu seseorang yang tidak bisa memanfaatkan anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan manfaat kepada orang-orang di sekitar anda. CMIIW!!1!1

BACA JUGA Berdebat Sama Orang Fanatik Itu Merepotkan atau tulisan EmArif lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2020 oleh

Tags: banjirbela agamaKorupsimiras
EmArif

EmArif

Dosen muda asal Mojokerto. Menaruh minat pasa isu keagamaan, lingkungan, dan sepak bola.

ArtikelTerkait

4 Keresahan Selama Tinggal di Kelurahan Silaberanti Palembang tukang parkir

4 Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kelurahan Silaberanti Palembang

27 Februari 2024
buruh pabrik kuli bangunan ideologi kiri buruh mojok

Tak Perlu Malu Jadi Buruh Pabrik, Malulah kalau Jadi Pejabat Korup

18 Oktober 2020
Dosen Pelaku Pelecehan Seksual Disanksi Skorsing Sekaligus Izin Belajar Lanjut Doktoral, Ini Sanksi Apa Hadiah MOJOK.CO

Gofar Hilman dan Monyet di Kebun Binatang

15 Juni 2021
Korupsi Bansos dan Dana Haji, Mana yang Lebih Bajingan? terminal mojok.co juliari batubara menteri agama mensos korupsi bantuan corona

Tak Ada Waktu Lagi: Lawan

21 Juni 2019
Trowulan, Daerah di Mojokerto yang (Hampir) Tak Mungkin Kena Banjir

Trowulan, Daerah di Mojokerto yang (Hampir) Tak Mungkin Kena Banjir

15 Maret 2024
KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

Pedagang Keliling dan Kenapa Kita Harus Membenci Para Koruptor

30 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta (Unsplash)

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Alternatif yang Memudahkan Hidup

11 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.