Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Perihal Memanfaatkan Privilese, KPH Notonegoro Hanya Mencontoh Bobby Nasution

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
14 Januari 2021
A A
kph notonegoro bobby nasution privilese mojok

kph notonegoro bobby nasution privilese mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau namanya nggak viral karena quote cuitan Anya Geraldine, sebenarnya saya nggak tahu blio ini siapa. Kalaupun mak sliwer liwat di lini masa Twitter saya, pasti saya ngiranya Twitter blio ini akun-akun shitpost karena isinya benar-benar random. Saya hanya nggak tega bilang bahwa cuitan demi cuitan blio ini lumrahnya nggak penting sama sekali.

Tapi, dari cuitan blio, saya yakin bahwa blio yang saya maksud orangnya asik sekali. Lha gimana nggak asik, pangeran asal negeri mana yang bilangnya “elo” dan “gue” seperti blio. Sungguh beruntung saya akhirnya mengenal blio via media sosial, jebul ada pangeran yang asyik selain Pangeran Kodok di negeri dongeng nun jauh di sana yang rakyatnya selalu nrimo ing apa anane.

Blio yang saya maksud adalah KPH Notonegoro yang tentu saja saya hormati walau saya tahunya baru-baru ini. Entah sadar atau nggak, blio bercuit seperti ini, “kan gue baru pulang dr pergi ya, terus pas sampe rumah dibukain gerbang aneh bgt rasanya. Kayak, ‘oh ini rumah gede banget’. Mana rame banyak orang. Eh ternyata gue tinggal di istana.” Duh, dek.

kan gue baru pulang dr pergi ya, terus pas sampe rumah dibukain gerbang aneh bgt rasanya. kayak, ‘oh ini rumah gede banget’. mana rame banyak orang. Eh ternyata gue tinggal di istana. ?? https://t.co/QCYRn4Hknc

— KPH Notonegoro (@KPHNotonegoro) January 6, 2021

Kalau anak-anak TikTok turun tangan menanggapi, pasti komentarnya seperti ini, “Ampun bang jago.” Nek nggak ya bikin konten, “Privilese Mantu Sultan Check!” Untungnya yang turun tangan warga DI Yogyakarta secara keseluruhan. Berbagai elemen, mulai dari yang nrimo ing tweet sampai yang mempertanyakan maksud dan tujuan blio bercuit seperti itu sejatinya ngapain.

Di sini tentu posisi saya sebagai pembela blio. Lha wong tujuannya itu hanya sekadar random saja kok. Lihat saja cuitan-cuitan yang lain, kata demi kata yang penuh elo dan gue-nya. Jadi ya bebas kalau Pangeran kesayangan masyarakat yang satu ini dikatakan menyalahgunakan privilese dari Sultan.

Dikutip dari Susahtidur, Den Baguse Prabs menulis bahwa tindakan KPH Notonegoro ini menyalahi aturan. Katanya, “Anggone Kanjeng Noto ngumukke kraton iku marakke akeh uwong ngelus dada. Padahal yo pangeran, nanging kok ora iso maringi conto kanthi pener.” Mbok ya aja spaneng to, Prabs.

Lha gimana sih, kan memang kenyataannya KPH Notonegoro kalau masuk rumah itu selalu ramai dan besar. Dua alun-alun je, kurang besar gimana coba? KPH Notonegoro hanya menyampaikan realita yang nggak mungkin didapat para muda-mudi baru menikah yang mendambakan rumah di Jogja. Mau punya rumah atau tanah di Jogja? Sana ikut undian Mirota Kampus dulu. Pol mentok ya tanah waris. Itu pun kalau nggak digusur untuk dijadikan tol di masa yang akan datang.

Baca Juga:

4 Privilese yang Kamu Rasakan Ketika Tinggal di Surabaya Timur

YOLO Sekarang, Menangis Kemudian: Anak Muda Tanpa Privilese Jangan Coba-coba Gaya Hidup Ini!

Kalau membahas masalah “mantu yang nebeng orangtua”, KPH Notonegoro nggak sendirian kok. Lihat saja Mas Bobby Nasution yang akan menjadi orang nomor satu di Kota Medan. Kenapa Bobby bisa memenangkan Pilkada Medan? Tentu karena Sandiaga Uno dan Djarot Saiful Hidayat. Kenapa tokoh sekaliber itu mau membantu Bobby Nasution yang masih kuncup di ranah politik? Mantu Jokowi, memangnya apalagi?

Kalau KPH Notonegoro mungkin masih gagap dalam bermedia sosial, jadi cuitannya itu bukannya lucu, malah nggak mashoook blas. Kalau Bobby Nasution lebih main rapi dalam urusan memanfaatkan privilese mertua. Kalau KPH Notonegoro hanya perihal rumah, ini Bobby urusannya sudah jabatan dan nama besar sang mertua. Apalagi mertuanya masih aktif jadi Presiden RI. Gue ngasi ora habis thinking, Dab.

Yang satu pamer kekayaan mertua, yang satunya lagi “pamer” jabatan mertua. Bagai dua bilah pisau yang berbeda. Satu runcing dan satu tumpul, namun juga digunakan untuk maksud yang jahat, dua bilah pisau itu dapat bekerja sama untuk melukai seseorang. Yang satu melukai hati para dewasa Jogja yang banting tulang untuk nyicil kontrakan, yang satunya bikin orang lain mbatin, “Ha kok enak banget jadi mantu presiden.”

Tapi, mari kita gunakan akal sehat yang sebenarnya nggak sehat-sehat amat. Begini, misal saya dikasih privilese, tentu saya akan memanfaatkannya. Nah itu yang terjadi kepada Bobby Nasution yang ujug-ujug ikut kontestasi. Pun dengan KPH Notonegoro yang mak mbedunduk bercuit dan quote cuitan Anya Geraldine dengan dipungkasi emoticon yang super nggatheli.

Saya ambil salah satu komentar yang pro, begini bunyinya, “Cuma pangeran yang bisa sombong dan masuk akal.” Nah, sobat nrimo ing pandum kadang nalarnya jalan juga, kan? Sombong sesuai keadaan. Ya jelas keadaan yang dimaksud ini sebuah keadaan di mana para dewasa Jogja sedang nangis getih berjuang hidup di kota yang romantis ini.

Boro-boro beli rumah, nyicil kosan saja kadang masih mput-mputan. Pun cuitan KPH Notonegoro ini menjadikan sebuah gambaran kasar bagaimana rasanya menjadi orang kaya di Jogja. Sebuah utopi yang selama ini tertutupi kabut, dibuka tabirnya oleh pangerannya sendiri. Jebul yang dirasa oleh pangeran itu, tiap masuk rumahnya, eh, maksud saya Kraton, selalu mbatin oh ini rumah gede banget. Eh ternyata gue tinggal di istana. HAHAHA.

Dari KPH Notonegoro dan Bobby Nasution, kita mesti sadar satu hal, rejeki nomplok itu kadang datangnya dari mana saja. Bisa dari kerja keras, banting tulang, atau ketiban duren dari mertua sendiri. Sebagai muda-mudi Jogja yang kaffah akan nrimo ing pandum, harapan saya tentu hanya satu, mertua saya kelak punya rumah dan sepetak tanah yang diwariskan kepada putrinya berhubung menang undian rumah Mirota itu sulitnya dan bejo-nya setara dengan gacha.

Bebas to KPH Notonegoro mau bercuit seperti apa dan bagaimana. Kalau terkesan nggatheli dan kemlinthi, ya gimana lagi. Kalau mau yang lurus, cepat, gesit, bermartabat, ngosak-ngasik, dan trengginas, ya namanya bukan Noto Negoro, tapi Noto GP!

BACA JUGA Bahasan ‘Ditinggal Nikah Mantan’ Makin Usang dan Sudah Saatnya Ditinggalkan dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2021 oleh

Tags: bobby nasutionkph notonegoroPrivilese
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?

Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?

15 Juli 2022
Tantangan Penulis Pemula Melawan Penulis Berprivilese Ketenaran

Tantangan Penulis Pemula Melawan Penulis Berprivilese Ketenaran

14 Januari 2020
Hanya Orang Gila yang Bilang Terlahir Miskin Adalah Sebuah Privilese

Hanya Orang Gila yang Bilang Terlahir Miskin Adalah Sebuah Privilese

22 Januari 2022
Tak Ada Salahnya Anak Presiden Menjadi Pemimpin Daerah

Tak Ada Salahnya Anak Presiden Menjadi Pemimpin Daerah

7 Februari 2023
5 Privilese Orang Desa yang Nggak Dimiliki Orang Kota Terminal Mojok

5 Privilese Orang Desa yang Nggak Dimiliki Orang Kota

30 Juni 2022
Tak Perlu Bela atau Benci Faye Simanjuntak: Ia Memang Sukses karena Privilese terminal mojok.co

Tak Perlu Bela atau Benci Faye Simanjuntak: Ia Memang Sukses karena Privilese

31 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.