Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Perempatan Gedangan Bukti Pemkab Sidoarjo Hobi Membiarkan Masalah, Bertahun-tahun Ruwet dan Menguji Mental Banyak Orang

Rina Widowati oleh Rina Widowati
4 Agustus 2025
A A
Perempatan Gedangan Bukti Pemkab Sidoarjo Hobi Membiarkan Masalah, Bertahun-tahun Ruwet hingga Menguji Mental Banyak Orang Mojok.co

Perempatan Gedangan Bukti Pemkab Sidoarjo Hobi Membiarkan Masalah, Bertahun-tahun Ruwet hingga Menguji Mental Banyak Orang (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak hal yang baru di Sidoarjo, termasuk bupatinya. Namun, ada satu hal yang tetap sama dari dahulu sampai sekarang, yakni Perempatan Gedangan Sidoarjo. Di sana masih saja ruwet. Manusia silver masih mengais rezeki di aspal. Sesekali mereka harus mengalah pada kendaraan-kendaraan yang tak ragu menyerobot lampu merah. Polusi udara tetap pekat, tak ada penghijauan, bunyi klakson truk masih sama, dan umpatan pengendara tak pernah berjeda dari pagi hingga malam.

Kemacetan lalu lintas yang terjadi setiap hari selama belasan tahun di Gedangan adalah hal yang tidak normal, jelas ada yang salah. Paling mudah memang menyalahkan budaya berkendara yang amburadul, persis seperti kata Caraka Wahyu lewat tulisannya di Terminal. Saya tidak sepakat kalau budaya berkendara dijadikan salah satu alasan kemacetan di Gedangan. Karena, satu-satunya yang layak disalahkan hanya Pemkab Sidoarjo, dan ini beberapa alasannya.

Proyek yang tak kunjung usai

Istilah “tuwek nang dalan” yang biasanya dipakai warga Sidoarjo untuk menggambarkan Perempatan Gedangan itu nyata. Saya pindah ke Gedangan saat anak mbarep (tertua) saya masih TK, sekarang anak saya sudah kuliah. Rambut saya sekarang sudah mulai beruban. Sementara Perempatan Gedangan masih awet dengan keruwetannya. Salah satunya yang bikin ruwet adalah proyek pembangunan jalan yang tak segera beres. 

Meskipun pembangunan infrastruktur di Gedangan terlalu lambat, tapi saya sedikit mengapresiasi kinerja Pemkab Sidoarjo yang mulai kelihatan kerja melanjutkan proyek bupati sebelumnya. Mereka melanjutkan betonisasi di Jalan Ketajen yang terhubung ke Perempatan Gedangan. Jalan Ketajen adalah salah satu akses jalan yang membawa truk-truk besar keluar-masuk dari perempatan Gedangan menuju pabrik dan pergudangan. 

Karena dilewati kendaraan-kendaraan besar setiap waktu, jalan aspal cepat rusak dan berlubang sehingga menghambat arus lalu lintas. Sayangnya, proyek betonisasi ini seolah menyedot seluruh energi Pemkab, sampai-sampai lupa dengan proyek yang tak kunjung usai, yaitu jalan frontage. Padahal, menurut saya ini kunci untuk mengurai kemacetan di Gedangan.

Mengutip Detikjatim, pengerjaan jalan frontage yang menghubungkan Gedangan ke Buduran belum maksimal. Bahkan, ada galian bekas tiang listrik yang dipindahkan dibiarkan begitu saja. Belum lagi kondisi lampu jalan belum berfungsi membahayakan roda dua yang melintas di malam hari. Proyek frontage yang fungsinya untuk memecah kemacetan belum tuntas. Keberadaan proyek betonisasi sudah pasti dalam proses pengerjaannya mengganggu laju arus lalu lintas di Perempatan Gedangan. 

Seharusnya, kalau ada proyek besar seperti itu, mestinya dipikirkan juga soal pengalihan arus, jam pengerjaan proyek atau apapun itu. Saya heran, Pemkab Sidoarjo seperti tidak memikirkan proses pengerjaan proyek dengan serius. Atau, jangan-jangan, pekerjaan Pemkab Sidoarjo yang sesungguhnya adalah menguji mental warganya.

Pemkab Sidoarjo tak mendidik pengendara untuk taat berkendara di Perempatan Gedangan

Pengendara di Gedangan memang banyak yang ngawur, tapi ya gimana lagi, marka jalan saja tidak ada di sana. Bagaimana mungkin pengendara taat lalu lintas kalau tidak ada yang harus ditaati. Padahal, marka ini tujuannya untuk keselamatan pengendara, apalagi di Gedangan yang selalu dilewati truk-truk besar.

Baca Juga:

Sidoarjo yang Membuat Wisatawan Bertanya-tanya, Antara Resah dan Heran karena ini Bukan Kabupaten tapi Kota yang Menyamar

Saya Warga Sidoarjo, tapi Nggak Pernah Bangga dengan Kota Sendiri

Sudah volume kendaraan di sana tinggi, rambu lalu lintasnya kurang mumpuni. Selain marka jalan yang nggak terlihat, sistem lampu lalu lintasnya tidak diatur serius. Lebih parahnya lagi, tidak pernah ada petugas yang turun langsung mengatur arus lalu lintas yang kacau. Saya tekankan lagi, bukan kurang petugas di titik-titik rawan ya, tapi tidak pernah ada petugas di Perempatan Gedangan. 

Budaya tertib lalu lintas bisa terbentuk jika ada rambu-rambu di jalan yang jelas Apalagi kalau ada petugas yang konsisten mengatur lalu lintas di sana, saya yakin pengguna jalan akan semakin tertib berkendara.

Budaya berkendara langsung berubah saat melewati Bundaran Waru

Dari pengalaman saya sebagai pengendara, ada perasaan enggan setiap kali saya bersiap berangkat ke Surabaya. Enggan karena saya tahu apa yang akan saya hadapi, yaitu Perempatan Gedangan yang semrawut itu. Meski enggan, saya tidak punya pilihan karena harus mengantar anak sekolah sekaligus cari cuan di Surabaya. 

Akan tetapi, perasaan enggan saya berubah menjadi lega ketika sudah melewati Terminal Bungurasih (letaknya di perbatasan Sidoarjo-Surabaya) dan bertemu Bundaran Waru. Sebab saya tahu, setelah melewati bundaran itu, artinya saya akan segera berjumpa dengan Jalan Ahmad Yani Surabaya. Jalan yang lebih lapang dan rindang. 

Saya akui, memasuki wilayah Surabaya vibesnya memang beda. Polisi lalu lintas selalu standby di pagi hari untuk mengarahkan pengendara. Malah, di jam-jam rawan macet beberapa petugas mengendarai motor trail dengan sigap mengatur laju arus kendaraan. 

Dari pengamatan saya, perilaku berkendara baik roda 4 maupun roda 2 seketika berubah saat masuk ke wilayah Surabaya. Kelakuan mobil pickup pengangkut ayam potong yang biasanya ugal-ugalan di sekitar Gedangan mendadak jadi santun saat masuk di Jalan Ahmad Yani Surabaya.  

Saya dulu berharap ada pohon yang bisa hidup sehat di Jalan Raya Gedangan. Setidaknya kalau tidak ada etika berkendara, estetika di tepi jalan masih bisa mendinginkan ubun-ubun pengendara. Sekarang saya sudah berhenti berharap. Selama Pemkab Sidoarjo tidak pernah bekerja dengan totalitas, rasanya sulit mengubah budaya berkendara menjadi lebih baik di Perempatan Gedangan. 

Penulis: Rina Rina Widowati
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Alasan Anak Muda Ogah Menetap di Magelang yang Katanya Nyaman.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2025 oleh

Tags: perempatan gedanganperempatan gedangan sidoarjoSidoarjo
Rina Widowati

Rina Widowati

Ibu rumah tangga, mantan pengajar di sekolah swasta yang masih mengamati dunia pendidikan. Pedagang yang peduli soal isu sosial dan politik. Hobi naik gunung dan bercita-cita mendaki ke Cartenz.

ArtikelTerkait

Tidak Perlu Malu Mengakui Tinggal di Sidoarjo yang Sering Disebut Pinggiran Kota Surabaya

Tidak Perlu Malu Mengakui Tinggal di Sidoarjo yang Sering Disebut Pinggiran Kota Surabaya

25 November 2019
Surabaya Klaim Tempat-tempat Penting Milik Sidoarjo, Mulai dari Bandara hingga Sekolah Mojok.co

Surabaya Klaim Tempat-tempat Penting Milik Sidoarjo, Mulai dari Bandara hingga Sekolah

12 April 2024
Sidoarjo Ramah untuk Pebisnis, tapi Tidak Ramah untuk Perantau

5 Kuliner Kota Sidoarjo yang Wajib Dicoba Saat Mampir

10 Mei 2023
Perempatan Gedangan Sidoarjo, Perempatan yang Menguji Mental Pengendara Saking Macetnya Mojok.co

Perempatan Gedangan Sidoarjo, Perempatan yang Menguji Mental Pengendara Saking Macetnya

26 Mei 2024
Pemilihan Bupati Sidoarjo Disambut Dingin oleh Warga, Harap Maklum Masih Trauma Mojok.co

Pemilihan Bupati Sidoarjo Disambut Dingin oleh Warga, Harap Maklum Masih Trauma

13 Oktober 2024
sugeng rahayu, bis terminal purabaya

Menyebalkannya Orang-Orang Suka Maksa di Terminal Purabaya

13 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet Mojok.co

Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet 

10 Januari 2026
Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

8 Januari 2026
Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Hal Unik yang Lumrah Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk Kota Jogja, dari yang Biasa Saja sampai yang Menyebalkan

8 Januari 2026
Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Indonesia Itu Bukan Peneliti, tapi Buruh Laporan yang Kebetulan Punya Jadwal Ngajar

6 Januari 2026
MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

11 Januari 2026
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

9 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.