Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

#PercumaLaporPolisi Nggak Bakal Ada kalau Penegak Hukum Kerjanya Bener

Dimas Purna Adi Siswa oleh Dimas Purna Adi Siswa
9 Oktober 2021
A A
#PercumaLaporPolisi

#PercumaLaporPolisi

Share on FacebookShare on Twitter

Fenomena #PercumaLaporPolisi tak perlu terjadi andai penegak hukum tidak mengecewakan.

 Ada satu adagium hukum yang berbunyi sangat merdu seperti ini: lex nemini operator iniquum, neminini facit injuriam. Artinya hukum tidak memberikan ketidakadilan kepada siapa pun dan tidak melakukan kesalahan kepada siapa pun. Adagium satu ini seharusnya memberikan ketenangan kepada siapapun terlebih korban atas suatu kejahatan. Namun, nampaknya dewasa ini yang terjadi malah sebaliknya.

ADVERTISEMENT

Tagar #PercumaLaporPolisi menjadi hal yang ramai diperbincangkan setelah adanya kasus pemerkosaan tiga orang anak oleh ayahnya sendiri. Hal yang membuat semakin miris dari kasus ini adalah adanya penghentian proses penyelidikan oleh aparat kepolisian.

Dalihnya tidak adanya cukup alat bukti untuk melanjutkan proses penyelidikan. Sang Ibu yang berharap kasusnya dapat selesai dengan menempuh jalur hukum. Alih-alih pelaku bejat dipenjara, justru sang ibu dan ketiga anaknya yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Saya yakin betul kasus yang diabaikan dengan dalih tak cukup bukti bukanlah baru kali ini saja terjadi. Meskipun data saya mungkin sebatas reply-tweet jagad pertwitteran, tapi setidaknya bukan reply seperti buzzer yang sudah autotext isinya. Soalnya masih ada yang jualan Netflix atau Spotify.

Apabila menilik lebih dalam lagi sistem hukum kita ini memang sangatlah menyebalkan. Sudah kita tidak punya “uang banyak” dan hanya bisa menggunakan jalur lurus prosedur hukum yang berlaku. Prosedur yang harus dijalani ini rumit, njelimetnya bukan main. Belum lagi kalau kamu sedang tidak beruntung harus bertemu dengan aparat yang tidak jelas kerjanya. Eh maaf kurang sopan, kalau meminjam bahasanya pejabat itu katanya hanya “oknum” bukan aparat. Podo ae, Bos.

Sebenarnya dari kasus #PercumaLaporPolisi tadi saja bisa mencerminkan kebobrokan sistem hukum negara kita loh. Biar lebih mudah membahas sistem hukum negara kita yang bobrok ini, saya coba meminjam gagasanya Eyang Kakung Lawrence M. Friedman yang membagi sistem hukum itu ada tiga yakni legal substance (substansi hukum), legal structure (struktur hukum), dan legal culture (budaya hukum).

Pertama, substansi hukum dari kasus tersebut kurang mumpuni apa coba sekarang saya tanya? Untuk mengakomodir kepentingan Sang Ibu dan ketiga anaknya yang menjadi korban sudah ada KUHP, KUHAP, Putusan MK yang memperbaharui, dan memperkuat KUHAP pun sudah ada. Bahkan ada undang-undang yang lebih khusus yakni Undang-Undang Perlindungan Anak, dan senjata paling ampuh yaitu Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Baca Juga:

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

Mengapa senjata paling ampuh? Karena posisi anak dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak mendapatkan posisi yang sangat diperhatikan. Tidak hanya korban, bahkan untuk anak yang melakukan kejahatan saja masih ditempatkan sebagai individu yang berharga. Oke berarti setidaknya untuk masalah peraturan ini aman kan.

Kedua, nah ini adalah hal yang paling sangat menyebalkan: masalah penegakan hukum atau struktur hukum. Bagaimana tidak, sesimpel sudah jelas-jelas aturannya A, bisa saja di lapangan jadi A+B, atau bahkan tiba-tiba jadi C. Siapa yang tidak kaget? Makanya bukanlah hal yang mengagetkan apabila teori atau aturan hukum hanyalah sebuah pemanis belaka.

Berkaca pada kasus dan pengalaman dari para pencuit #PercumaLaporPolisi tersebut, coba hitung ada berapa pelaksanaan aturan yang tidak sesuai sebagaimana mestinya

Baru mendatangi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk mendapatkan bantuan atau perlindungan, ketiga anak korban tersebut langsung dipertemukan dengan pelaku. Ajaib. Tak sampai di situ saja, anak korban yang seharusnya didampingi oleh orangtuanya atau pekerja sosial. Setidaknya oleh penasihat hukum dalam setiap proses pemeriksaan seringkali tidak didampingi.

Lebih lucunya lagi adalah Sang Ibu sebagai saksi diminta untuk menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP), tapi dilarang membacanya terlebih dahulu. Loh? Jadi yang akan dimasukan BAP tersebut keteranganya siapa dong? Tapi, mana mungkin kan pemeriksaan BAP cuma formalitas belaka?

Pelaksanaan peraturan perundang-undangan oleh aparat penegak hukum memang masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar dan rumit untuk diselesaikan. Ini saja saya belum berbicara yang kotor-kotor seperti main suap-menyuap, jual-beli pengaruh jabatan, atau secuil “bantu saudara”.

Kalau contoh kasus tersebut saja belum meyakinkan Anda, sekarang silahkan coba lihat kasus UU ITE. Sudah berapa banyak orang yang terjerat secara konyol? Kasus Saiful Mahdi contohnya, terjerat pencemaran nama baik Pasal 27 ayat (3) UU ITE hanya karena mengkritik kampusnya. Saya rasa para penegak hukum di sana tahu bahwa Pasal 27 ayat (3) UU ITE juga tidak bisa terpisahkan dari Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP. Lalu mengapa masih dipenjara? Untungnya Pak Saiful Mahdi mendapatkan amnesti sekarang, sehat-sehat terus pak.

Sebenarnya jika regulasi mau dibuat sebagus apa pun juga, apabila SDM aparat penegak hukum kita memang tidak mau melaksanakan sebagaimana mestinya, ya untuk apa. Sudah susah-susah memperjuangkan Undang-Undang sebagus mungkin. Tapi, pada praktiknya malah melakukan sebaliknya dengan dalih sudah sesuai hukum, padahal sepertinya baca saja tidak. Mau bagaimana nasib rakyat jelata seperti kami ini? Ujung-ujungnya budaya hukum yang kotor di masyarakat semakin merajalela lagi. Hadeuh.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2021 oleh

Tags: #PercumaLaporPolisipenegakan hukumpolisi
Dimas Purna Adi Siswa

Dimas Purna Adi Siswa

Calon pengacara handal. Saat ini masih pengacara (re:penggangguran banyak acara) dulu.

ArtikelTerkait

Kontrakan Seribu Pintu Cikarang Labirin yang Bikin Tersesat (Unsplash)

Satpol PP dan Polisi Gerebek Kontrakan Seribu Pintu Cikarang, Begitu Selesai Mendata 2.600 Pintu Langsung Pensiun

10 Februari 2024
Diusir dari Kantor Polisi karena Pakai Sandal Jepit. Emang Ada Aturannya? terminal mojok.co

Diusir dari Kantor Polisi karena Pakai Sandal Jepit. Emang Ada Aturannya?

5 Oktober 2020
Saya Anak Polisi dan Masih Percaya Bahwa Ada Polisi Baik di Indonesia terminal mojok

Saya Anak Polisi dan Masih Percaya Ada Polisi Baik di Indonesia

23 Oktober 2021
indonesia sedang lucu

Indonesia Lagi Lucu-lucunya…

27 September 2019
Perubahan Nggak Asyik yang Terjadi Kalau Seragam Baru Satpam Dibuat Mirip Polisi terminal mojok.co

Perubahan Nggak Asyik yang Terjadi Kalau Seragam Baru Satpam Dibuat Mirip Polisi

26 September 2020
Surat Terbuka dari Tukang Bakso Keliling untuk para Intel di Indonesia

Surat Terbuka dari Tukang Bakso Keliling untuk Intel di Indonesia

12 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.