Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Percuma Nonton Parasite Tapi Menutup Mata Pada Kesenjangan

Novy Eko Permono oleh Novy Eko Permono
14 Juli 2019
A A
parasite

parasite

Share on FacebookShare on Twitter

Sebenarnya saya malas membahas perkara film. Selain tidak berminat, saya membayangkan film—alur cerita dan adegannya—terlalu mengada-ada. Dan Lembaga Sensor Film—yang rese. Tigal hal itu membuat saya menjaga jarak jika ada obrolan perkara film. Setidaknya begitulah, beberapa tahun terakhir.

Anehnya sepulang kerja, dengan badan yang capek. Saya iseng googling  sebuah film—yang kata temen kerja sekaligus aktivis semasa kuliah—asal Korea yang recommended bukan kaleng-kaleng. Tidak perlu waktu lama, keesokan harinya saya memutuskan menonton film itu.

Film ini berjudul Parasite (judul aslinya Gisaengchung) karya Bong Joon-ho. Awas, spoiler alert! Pada permulaan film, penonton sudah disuguhkan semacam panggung tragedi keluarga miskin Kim Ki-taek (Song Kang-ho). Bekas sopir yang menganggur. Sehari-sehari hanya bekerja sebagai buruh borongan melipat kardus pizza. Ia tidak melakukan pekerjaan itu sendirian, tetapi dibantu istrinya, Choong Sook (Jang Hye-jin), dan kedua anaknya Ki-woo (Choi Woo-shik) dan Ki-jeong (Park So-Dam).

Tentu mereka melakukan pekerjaan itu bukan perkara seberapa besar upah yang mereka terima. Tidak ada pilihan lagi. Sederhana saja, asalkan bisa untuk makan sehari-hari di rumah semi-basement di ujung gang.

Sempit, pengap, sekaligus lembab. Jendela kacanya sejajar dengan jalan sehingga kejadian di gang misalnya tetangga pemabuk yang gemar kencing sembarangan—mereka tahu. Begitulah gambaran singkat rumah mereka. Jauh dari kata layak.

Saking melaratnya, Ki-woo dan Ki-jeong—dalam sebuah adegan—hanya bisa bermain ponsel di area toilet rumah. Menumpang WiFi tetangga. Pun sesekali waktu Ki-taek membiarkan jendela terbuka agar isi rumah terpapar fogging secara cuma-cuma. Miris memang.

Anehnya mereka menikmatinya. Adegan-adegan tersebut dibungkus rapi secara humoris. Mereka bahkan tidak terlihat depresif. Santai saja. Atau jangan-jangan mereka sudah terbiasa dengan penderitaan hidup. Barangkali sudah terlatih untuk menjadikannya lelucon. Seandainya itu kita, pasti sudah sambat kemana-mana.

Alur ceritanya mulai menarik—setidaknya menurut saya—ketika teman Ki-woo menawarinya pekerjaan sebagai guru les privat seorang siswi SMA dari keluarga kaya. Berbekal ijasah yang dipalsukan—jangan-jangan komedian Qomar terinspirasi dari film ini. Entahlah, saya tidak ingin membahasnya—Ki-woo penuh percaya diri, bergaya necis nan modern berangkat ke sebuah rumah milik keluarga Park di kawasan perumahan elit.

Baca Juga:

Penjelasan Ending Film The Great Flood buat Kamu yang Masih Mikir Keras Ini Sebenarnya Film Apa

7 Rekomendasi Film Dewasa Korea Terbaik Rating 18+ yang Sayang Dilewatkan

Mereka terdiri dari Tuan Park (Lee Sun-kyun), Nyonya Park (Cho Yeo-jeong), anak perempuannya Da-hye (Jung Ziso)—yang akan diajar oleh Ki-woo—dan adik laki-lakinya yang masih anak-anak, bernama Da-song (Jung-Hyeon-jun).

Awalnya Nyonya Park menyeleksi Ki-woo dengan metode wawancara. Tentu tahapan ini berjalan dengan lancar karena Ki-woo sudah terlatih menjual omong kosong. Hingga berlanjut ke sesi pengajaran pertama. Da-hye pun langsung merasa cocok dengan tipikal guru lesnya.

Nah, sejak resmi bekerja untuk keluarga Park, Ki-woo sudah berpikir tentang cara terbaik untuk mengeksploitasi kesempatan berharga ini. Dengan cara seperti apa? Silakan tonton sendiri film Parasite ini. Kalau nulis terlalu banyak nanti dimarahi redaktur tauk.

Poinnya adalah sejak awal penonton sudah diajak untuk bersimpati dengan kemiskinan yang mendera keluarga Ki-taek. Meski pada akhirnya melakukan penipuan berantai—entah kenapa—perbuatan itu cenderung bisa dimaklumi. Saya menduga bukan karena mereka ditempatkan sebagai pemeran tokoh utama semata, tapi karena mereka dinarasikan sebagai korban kemiskinan—meminjam istilah yang sedang trending—terstruktur, sistematis, dan masif. Ups.

Kemiskinan sistematis terjadi ketika seseorang menerimanya karena warisan keluarganya, korban ̶j̶a̶n̶j̶i̶ kebijakan pemerintah, tinggal di wilayah kumuh, dan terpinggirkan. Maka saya cenderung simpatik bahkan memaklumi jika mereka bertindak kriminal atas nama keterpaksaan. Eh

Tak heran muncullah kesenjangan sosial-ekonomi secara ekstrem. Masyarakat kemudian terbelah di berbagai tempat terutama di kota-kota besar. Seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Menonton Parasite menurut hemat saya bisa menjadi semacam refleksi atas kesenjangan sosial-ekonomi yang terpampang nyata di lingkungan sekitar kita.

Masalah ini sebenarnya bukanlah hal yang baru di negeri ini. Sejak awal tahun 2017, berbagai media massa telah menyinggung tentang tingginya ketimpangan di Indoesia dan termasuk yang terburuk di dunia. Lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, melakukan survey yang dirilis di akhir tahun 2016. Menyebutkan bahwa ketimpangan kekayaan antara orang kaya dan miskin di Indonesia termasuk paling buruk di dunia. Berdasarkan survey lembaga itu, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional.

Nah isu inilah yang kemaren sempat ̶d̶i̶a̶n̶g̶k̶a̶t̶ ̶d̶a̶l̶a̶m̶ ̶p̶e̶r̶d̶e̶b̶a̶t̶a̶n̶ digoreng oleh para elit partai politik saat kampanye pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Hanya pemanis untuk menggaet suara. Tak lebih dari itu. Lah wong para elit partai politik itu bagian dari 1 persen orang kaya tadi.

Makanya kalau Mas Agus mendaftarkan diri sebagai calon wakil rakyat periode 2019-2024 saya mendukung penuh. Beliau ini bagian dari wong cilik dan low profile. Konon, saat lamaran ke Blora Mas Agus ini tidak memakai sepatu tetapi sandal swalow. Simbol wong cilik. Kurang bukti apa coba.

Balik lagi ke fokus pembicaraan. Kini Indonesia memiliki Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024. Kita menyongsong sebuah pemerintahan baru. Maka sudah selayaknya pemerintah menjadikan ketimpangan ini sebagai tantang besar pembangunan yang harus (segera) diatasi.

Mengevaluasi seluruh kebijakan mulai dari reforma agraria, jaminan kesehatan, jaminan pendidikan, dan pembangunan infratsruktur—seberapa jauh kebijakan-kebijakan tersebut berdampak langsung kepada warga.

Parasite tidak hanya menyuguhkan ̶p̶e̶m̶e̶r̶a̶n̶ ̶O̶p̶p̶a̶-̶o̶p̶p̶a̶ ̶g̶a̶n̶t̶e̶n̶g̶ keindahan alur cerita dan akting yang menawan. Lebih dari itu. Ia menyadarkan kita. Kesenjangan itu ada dan nyata.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: Film Koreakesenjangan sosialparasiteReview Film
Novy Eko Permono

Novy Eko Permono

Penggemar mendoan garis keras. Saat ini tinggal di Wonogiri sambil menikmati peran sebagai Bapak dan pendidik.

ArtikelTerkait

10 Film Korea Paling Buruk Sepanjang Masa Terminal Mojok

10 Film Korea Paling Buruk Sepanjang Masa

29 September 2022
Opini Julia Suryakusuma terhadap Film ‘Tilik’ Berbau Kolonialisme Gaya Baru feminisme terminal mojok.co

Opini Julia Suryakusuma terhadap Film ‘Tilik’ Berbau Kolonialisme Gaya Baru

20 September 2020
setan

Film Ghost Writer: Meminta Bantuan Setan Merupakan Alternatif Untuk Menamatkan Naskah Novel yang Nggak Kelar-Kelar

18 Juni 2019
Review 'Lily of The Valley', Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan terminal mojok.co

Review ‘Lily of The Valley’, Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan

29 Januari 2021
sebagus itu

Sebagus Itu…. Memang Sebagus Apa, Sih?

22 Agustus 2019
Pelajaran dari Film "Ford Vs Ferrari", Susahnya Dihargai Sama Bos yang Sentimen

Pelajaran dari Film “Ford Vs Ferrari”, Susahnya Dihargai Sama Bos yang Sentimen

26 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026
Temanggung yang Terkenal Nyaman Malah Bikin Orang Jombang Nggak Betah Mojok.co

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

30 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.