• 3
    Shares

MOJOK.CODi kali ketiga Mojok mengganti pemred, saya memilih Agus Mulyadi. Saya punya alasan rahasia ketika melakukannya dan saya akan buka sekarang.

Mungkin sudah banyak yang tahu hal ini. Tapi tak mengapa. Saya ceritakan lagi sebagai sebuah cara untuk mengingat.

Sekira tiga tahun lalu sebuah mal membuka lowongan pekerjaan untuk dua posisi: petugas kebersihan dan penjaga parkir. Seorang laki-laki yang baru berusia 23 tahun, tak punya pekerjaan tetap, sedang dalam keadaan galau, melamar kerja. Karena mal itu berada di dalam wilayah desanya, dia diterima. Sebelum keesokan harinya masuk sebagai penjaga parkir, seseorang meneleponnya. Dia diminta datang ke Yogya untuk bekerja sebagai redaktur di media onlen. Ya. Sudah bisa ditebak bahwa laki-laki muda itu bernama Agus Mulyadi dan yang meneleponnya adalah Puthut EA.

Mungkin juga sudah banyak yang tahu. Agus lulusan SMA. Dia kemudian hijrah ke Yogya untuk kuliah D-1, tapi ternyata tertipu karena ia mendaftar di lembaga pendidikan abal-abal. Malu balik ke Magelang, Agus bekerja di sebuah warnet. Ketika era warnet habis, Agus beberapa kali tertipu lowongan kerja. Di fase inilah dia pernah hampir jualan tuksedo dan jadi tukang lem benang teh celup.

Agus lalu ikut kursus desain visual di Depok, Jawa Barat kemudian bekerja sebagai layouter tabloid di Sukabumi. Tak lama kemudian media itu kukut. Akhirnya dia memutuskan balik ke Magelang.

Sebelum melamar menjadi tukang parkir di mal sebetulnya Agus sudah terancam hidup mapan. Dengan modal keterampilan mengoperasikan Adobe Photoshop, dia membuka jasa edit foto. Misal, saya suka Totti, Agus bisa membuatkan foto saya sedang bersalaman dengan Totti dan saya cukup membayar 50 ribu rupiah. Bisnisnya lancar. Tapi, kemudian dia menghentikan usahanya hanya karena beberapa orang mengingatkan kalau dia bisa kena tuntutan hukum karena mengambil gambar orang secara tidak sah.

Ketika Prima mau pergi ke Jakarta, bukan hanya kru Mojok, teman-teman dekat saya ikut kena pusing memikirkan siapa kira-kira yang akan menggantikan Prima. Saya melakukan jajak pendapat lewat medsos, berdiskusi dengan beberapa penulis, serta para investor Mojok. Semua mengarah ke Agus. Tapi, ada beberapa hal lain yang sejak awal membuat saya mantap memilih Agus. Hal itu mungkin tidak banyak diketahui orang….

Baca juga:  Mojok adalah Antek Semen Indonesia dan Freeport!

Saya akan buka sekarang.

Suatu saat Agus jadi pembicara di sebuah acara yang cukup bergengsi di Yogya. Dia dipanelkan dengan beberapa tokoh, salah satunya Christian Sugiono. Ya. Dia mantan aktor sinetron, suami Titi Kamal, dan pendiri salah satu media onlen yang menurut saya keren: malesbanget dot com. Mari kita lihat poin-poin head-to-head dua sosok ini.

Dari sisi keterkenalan, tentu jauh. Christian seorang selebritas sementara Agus saat itu mulai dikenal sebagai bloger. Dari sisi pendidikan, Christian lulusan perguruan tinggi luar negeri sementara Agus lulusan salah satu SMA swasta di Magelang. Christian punya istri yang juga seorang selebritas, Agus? Saat itu dia selalu ditolak perempuan-perempuan yang disukainya. Christian saat itu sudah punya malesbanget dot com yang berkembang pesat. Agus Mulyadi punya sebuah blog yang kadang diisi, kadang tidak. Dan tentu saja, ratusan orang yang datang di forum itu ingin menemui dan menyimak Christian. Mereka datang bukan untuk Agus.

Dalam situasi yang jomplang seperti itu, jika Anda pernah bicara di forum-forum sejenis, pasti tahu akibatnya: kalau tidak menyalahkan panitia, ya pastilah tidak bisa tidur berhari-hari.

Tapi, yang terjadi di forum itu mirip keajaiban. Dengan sandal jepitnya yang khas, sempak Indomaret, celana kain 60 ribu, kemeja seharga 30 ribu, Agus tampil percaya diri. Dia bisa menguasai dirinya dan tampil meyakinkan. Tiba-tiba tepukan penonton tak kalah gempitanya dibanding setiap kali Christian bicara.

Agus punya kemampuan natural untuk mengusai diri, menguasai forum, dan membalik keadaan. Saya menyimak itu dari jauh. Semenjak itu saya tahu saya akan bekerja sama dengannya. Saya menyimpan obsesi itu hingga datang kesempatan yang tepat: sesaat sebelum Agus bekerja sebagai tukang parkir di mal.

Baca juga:  Mengajak Hidup Rusak-rusakan

Begitu bekerja di Mojok saya memang agak “memanjakan” Agus. Selain pemred, Agus yang masih menjabat redaktur selalu saya utamakan setiap kali Mojok mendapat undangan di forum-forum penting. Tapi, ini hal yang wajar. Selain dia telah menjadi ikon Mojok, Agus juga butuh jam terbang. Dan kalau dia mendapat undangan pribadi untuk mengisi seminar, dia tahu bahwa pemberitahuannya kepada saya hanyalah formalitas. Saya tak pernah tak mengizinkan.

Agus tumbuh makin matang, makin terkenal. Tapi, yang menggembirakan saya adalah tulisan-tulisannya juga makin bagus, makin berkarakter. Dalam waktu yang nisbi singkat Agus yang dulu selalu ditolak perempuan mulai banyak yang mau menjadikan pacar. Soal akhirnya dia memilih Kalis, biarlah itu menjadi urusan pribadi Agus. Hanya dia, Kalis, dan sepeda motor beAT yang tahu.

Ketika saya minta dia jadi Pemred Mojok, kepada teman-temannya dia menunjukkan rasa tak siap. Tapi, itu kamuflase saja. Dia amat, sangat siap.

Hal pertama yang dia lakukan adalah bicara dengan Kalis. Lalu sungkem kepada orangtuanya, minta doa restu. Kemudian melakukan serangkaian manuver politik yang menurut saya cerdik. Itu semua dia lakukan untuk mempermudah urusannya dalam mengemban amanah sebagai pemred.

Salah kalau dia tidak percaya diri. Suatu malam, belum lama ini, kebetulan dia sedang piket dan mendadak saya harus ke kantor. Ketika saya sampai, Agus sedang menghadap laptopnya. Saya duduk sebentar sambil merokok lalu berbincang ringan dengan Agus. Tak sengaja saya melirik layar monitornya. Di situ ada wajahnya dan tulisan yang membuat saya makin yakin bahwa saya tak salah memilih Agus….

“Saya Agus. Lulusan SMA. Umur belum 27 tahun. Sudah menjadi pemred sebuah media dengan ranking Alexa 140. Saya memimpin orang-orang lulusan UGM, ITB, Undip, UNY, dll.”

Tahu saya melirik layar monitornya, Agus buru-buru menutup sambil tertawa malu. Lalu saya salami dia. Saya tidak berkata apa-apa kecuali satu kalimat,

“Saya percaya kamu.”