Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
8 Maret 2026
A A
Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Ilustrasi ini merupakan hasil generate dari aplikasi AI.

Share on FacebookShare on Twitter

Thucydides (±460–400 SM), seorang sejarawan dan jenderal dari Athena yang terkenal karena menulis buku klasik “History of the Peloponnesian War” pernah menyatakan apa yang kemudian sering dikutip banyak ahli tentang perang yang melanda berbagai tempat akhir-akhir ini: “The strong do what they can and the weak suffer what they must.”

Perang antara Iran dan Amerika Serikat, jika benar-benar pecah, mungkin tidak akan pernah mencapai wilayah Indonesia. Tidak ada rudal yang meluncur ke Jakarta. Tidak ada kapal perang yang berpatroli di Laut Jawa. Namun dalam ekonomi global yang saling terhubung, perang tidak perlu datang dalam bentuk ledakan. Kadang ia datang dalam bentuk yang jauh lebih sunyi: harga-harga yang perlahan naik.

Dan kelas menengah biasanya yang pertama merasakannya.

Setiap kali Timur Tengah memanas, pasar energi dunia langsung bergetar. Wilayah itu adalah jantung produksi minyak global. Ketika ketegangan meningkat—apalagi jika melibatkan Iran yang berada di dekat jalur vital perdagangan minyak—harga energi dunia hampir selalu melonjak.

Efeknya merambat dengan cepat. Harga minyak naik. Biaya transportasi naik. Ongkos logistik naik. Lalu harga barang-barang ikut naik.

*

Bagi negara seperti Indonesia yang masih mengimpor energi dalam jumlah besar, guncangan harga minyak dunia hampir selalu menjadi persoalan nasional. Pemerintah dihadapkan pada dilema klasik: mempertahankan subsidi energi dengan risiko membengkaknya anggaran negara, atau menyesuaikan harga energi domestik dengan konsekuensi tekanan sosial.

Apa pun pilihan yang diambil, masyarakat tetap merasakan dampaknya.

Baca Juga:

Apa itu Selat Hormuz dan Kenapa Posisinya Strategis?

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

Namun dampak itu tidak dirasakan secara merata. Kelompok masyarakat miskin biasanya memiliki jaring pengaman sosial dari negara. Kelompok kaya memiliki cadangan aset yang cukup besar untuk menyerap guncangan ekonomi. Tetapi kelas menengah berada di wilayah yang lebih rentan: terlalu “mapan” untuk menerima bantuan luas, tetapi tidak cukup kuat untuk kebal terhadap krisis.

Selama dua dekade terakhir, kelas menengah Indonesia tumbuh bersama stabilitas ekonomi. Mereka membeli rumah melalui kredit jangka panjang, mencicil kendaraan, membayar sekolah anak, dan perlahan membangun tabungan masa depan.

Secara statistik mereka terlihat aman. Namun stabilitas itu sering kali berdiri di atas fondasi yang tipis: pendapatan tetap dan pengeluaran yang terus meningkat.

Ketika inflasi melonjak, ruang untuk bernapas menjadi semakin sempit. Cicilan rumah tetap harus dibayar. Biaya sekolah tidak turun. Harga makanan naik. Tagihan listrik naik. Ongkos transportasi ikut naik.

Pada titik tertentu, tabungan yang semula dirancang untuk masa depan berubah fungsi menjadi bantalan untuk bertahan hidup.

*

Sejarah ekonomi modern menunjukkan bahwa krisis jarang sekali menghancurkan kelas menengah secara tiba-tiba. Yang lebih sering terjadi adalah proses pengikisan perlahan.

Hari ini biaya hidup sedikit naik. Besok tabungan sedikit berkurang. Tahun depan kemampuan menabung semakin mengecil.

Sampai suatu hari kelas menengah menyadari bahwa mereka tidak lagi bergerak naik—mereka hanya berusaha tidak jatuh.

Ironisnya, dalam banyak krisis ekonomi, kelas menengah justru menjadi kelompok yang paling diam-diam menanggung beban. Mereka tetap bekerja, tetap membayar pajak, tetap menjaga stabilitas ekonomi domestik. Tetapi ruang ekonomi mereka semakin sempit.

Karena itu, jika ketegangan global benar-benar meningkat, pertanyaan yang relevan bukan hanya apa yang akan dilakukan pemerintah. Pertanyaan yang lebih dekat adalah: apa yang bisa dilakukan oleh rumah tangga biasa?

Jawabannya mungkin tidak dramatis, tetapi cukup realistis.

Pertama, memperkuat dana darurat. Dalam ekonomi yang tidak pasti, likuiditas adalah perlindungan pertama. Idealnya setiap keluarga memiliki cadangan biaya hidup selama tiga hingga enam bulan. Dana ini bukan untuk investasi, melainkan untuk menghadapi masa sulit.

Kedua, menahan diri dari utang konsumtif. Dalam masa stabil, cicilan terasa ringan. Dalam masa krisis, cicilan bisa berubah menjadi tekanan yang memerangkap.

Ketiga, menjaga nilai tabungan dari inflasi. Diversifikasi sederhana—misalnya sebagian tabungan dalam emas atau instrumen yang relatif stabil—dapat menjadi cara mempertahankan daya beli.

Keempat, meninjau ulang gaya hidup. Krisis sering kali memaksa kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam jangka panjang, kemampuan mengendalikan konsumsi sering menjadi kunci ketahanan ekonomi keluarga.

Namun ada satu hal yang lebih penting dari semua strategi finansial itu: ketenangan.

Dalam setiap krisis ekonomi, kepanikan hampir selalu memperburuk keadaan. Orang membeli barang berlebihan. Mengikuti rumor investasi. Atau mengambil keputusan keuangan secara emosional.

Padahal sebagian besar krisis tidak datang sebagai badai yang tiba-tiba. Ia lebih sering datang seperti air yang perlahan naik.

Perang Iran dan Amerika mungkin tidak akan pernah sampai ke wilayah Indonesia. Tetapi dampaknya bisa terasa di tempat yang jauh lebih dekat: di meja makan keluarga kelas menengah.

Dan di zaman ekonomi global seperti sekarang, kadang perang memang tidak datang sebagai dentuman bom.

Kadang ia datang sebagai harga bensin yang naik diam-diam.

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2026 oleh

Tags: kelas menengahkrisis ekonomiperang iran amerikastabilitas ekonomi
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

5 Pekerjaan yang Menghasilkan Banyak Cuan dalam Hitungan Jam selain Tukang Parkir dan Pak Ogah

Yang Fana Itu Waktu, yang Abadi Adalah Tukang Parkir ATM yang Tetap Minta 2 Ribu sekalipun Mereka Tak Berguna

1 Oktober 2024
Dana Darurat yang Perlu Disiapkan Kelas Menengah agar Bisa Selamat Menghadapi 2025 Mojok.co

Dana Darurat yang Perlu Disiapkan Kelas Menengah agar Bisa Selamat Menghadapi 2025

18 November 2024
Honda Brio Boros? Bukannya Paling Irit, ya? Kelas Menengah Ngehe Tak Usah Bimbang Pilih Brio Baru Atau BMW Seken

Kelas Menengah Ngehe Tak Usah Bimbang Pilih Brio Baru Atau BMW Seken

31 Oktober 2019
Derita Mahasiswa Jogja Kelas Menengah: UKT Mahal, Sulit Minta Keringanan, Hak-Hak Terabaikan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jogja Kelas Menengah: UKT Mahal, Sulit Minta Keringanan, Hak-Hak Terabaikan

16 Februari 2024
Biar Nggak Parno Soal Resesi Ekonomi, Kamu Perlu Baca Tulisan Ini MOJOK.CO

Biar Nggak Parno Soal Resesi Ekonomi, Kamu Perlu Baca Tulisan Ini

13 Agustus 2020
Jadi Latar Twenty Five Twenty One, Seperti Apa Korea Saat Krisis 1997 Terminal Mojok

Jadi Latar Twenty Five Twenty One, Seperti Apa Korea Saat Krisis 1997?

20 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

27 Maret 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.