Biar Nggak Parno Soal Resesi Ekonomi, Kamu Perlu Baca Tulisan Ini

Artikel

Muhamad Iqbal Haqiqi

Resesi ekonomi. Kalau kata dosen saya dulu, ini menandakan bahwa sebuah negara sedang sakit, tapi sakitnya bukan sakit parah, sakitnya hanya meriang, alias demam. Lah berarti gak parah-parah banget dong? Wong cuma meriang.

Ya nggak gitu juga. Namanya penyakit tetap harus disembuhkan. Jika resesi ekonomi dibiarkan berkepanjangan, penyakit yang lebih parah akan muncul, yaitu depresi ekonomi. Nah ini berarti negara kita bukan lagi demam biasa, tapi komplikasi.

Isu resesi ekonomi sendiri, pada kondisi saat ini, menjadi sebuah istilah yang punya makna ganda bila ditinjau dari segi kepentingan. Bagi pengusaha, para investor, dan eksekutif pemerintah. Isu resesi ini dianggap sebagai sebuah tanda bila negara sedang mengalami flu berat, hingga berakibat pada aktivitas ekonomi yang melambat.

Sebaliknya, bagi para oposisi, ini kesempatan untuk memberikan rapor merah untuk kinerja Jokowi. Contoh sederhananya seperti pernyataan Ibas beberapa hari lalu yang membandingkan kondisi ekonomi zaman kepemimpinan ayahnya dengan sekarang. Dan itu sah-sah aja. Kan kita nggak punya hak melarang orang untuk berpendapat, meskipun pendapatnya itu seperti pendapat Fans MU yang suka membanggakan masa-masa kejayaan saat dilatih Sir Alex Ferguson.

Sebenarnya sudah banyak yang menulis soal isu resesi ekonomi. Tulisan tersebut kebanyakan bernada peringatan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Saya pribadi setuju. Lah gimana, wong manusia kalau lagi demam aja rasa-rasanya dunia di sekelilingnya selalu berputar. Bikin pusing. Tapi begini mylov. Saya sepenuhnya setuju bahwa kita perlu waspada dengan isu resesi ekonomi. Namun penting saya utarakan bahwa, semua pernyataan perihal negara kita ini akan mengalami resesi ekonomi masih sebatas isu dan prediksi.

Loh, kok bisa dianggap isu? Kan sudah banyak tanda-tandanya, bahkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal 2 saja sudah minus, loh. Ini semua pertanda bahwa negara memang nggak becus!

Jadi, perlu kita samakan presepsi dulu dengan mengetahui defisini resesi ekonomi yang umum digunakan di banyak negara. Resesi ekonomi itu artinya sebuah negara di mana pertumbuhan ekonominya minus selama 2 kuartal secara beruntun. Ingat 2 KUARTAL. Resesi ekonomi kalau dipahami secara laporan itu seperti nilai IPK di akhir smester. Jadi meskipun ada 1 mata kuliah yang dapat nilai C, tidak bisa disimpulkan bahwa nanti di akhir smester kita tidak bisa memperoleh predikat cumlaude.

Baca Juga:  UU Minerba Disahkan Bikin Curiga Elit Global yang Bikin Virus Corona itu DPR

Sama halnya dengan resesi ekonomi. tentu kita tidak bisa langsung berkesimpulan bahwa negara kita resesi hanya karena pada kuartal kedua negara kita mengalami minus pertumbuhan. Karena perhitungannya harus 2 kuartal berturut-turut.

Nah, status resesi atau tidak suatu negara baru bisa dipastikan pada kuartal ketiga. Maka dari itu, pemerintah saat ini banyak merilis kebijakan yang berorientasi pada stimulus fiskal. Misal seperti aneka bantuan sosial PKH, BLT dana desa, subsidi listrik, bantuan sembako, dana Hibah UMKM, dan lain sebagainya.

Semua kebijakan tersebut dirilis supaya daya beli masyarakat kembali menguat. Sehingga, persentase pertumbuhan ekonomi bergerak ke arah kurva positif. Ingat, kontribusi pertumbuhan ekonomi negara kita 60%-nya disumbang tingkat konsumsi masyarakat.

Tapi, semisal, kalau di akhir September nanti ketika dicek ternyata pertumbuhan Indonesia tetap di kurva minus, yang artinya resmi resesi, sebenarnya kita nggak perlu parno. Apalagi sampai membayangkan akan terjadi kekacauan seperti yang terjadi di India, atau ketika krisis ekonomi 1998, dan berakhir di kondisi depresi ekonomi.

Alasannya karena dari 4 indikator mengukur peningkatan pertumbuhan ekonomi, yaitu konsumsi masyarakat, belanja negara, investasi sektor rill, dan ekspor. Hanya ekspor saja yang rasanya sulit untuk diutak-atik. Wajar, sih, karena semua negara sedang mengurangi persentase impor barang mentah, dan lebih fokus pada impor barang-barang baku kesehatan. Lagian, persentase kontribusi ekspor dalam pertumbuhan ekonomi negara kita tidak mendominasi seperti halnya Singapura dan Korea Selatan.

Sementara itu, untuk 3 indikator lainnya seperti tingkat konsumsi masyarakat, bisa dilihat dari berbagai upaya pemerintah merilis kebijakan stimulus fiskal untuk mendorong daya beli masyarakat utamanya kelas menengah bawah.

Tinggal kelas menengah atas hingga orang kaya saja yang perlu didorong untuk kembali mengeluarkan uang-uangnya yang disimpan. Pengeluaran mereka akan sangat membantu. Itulah alasannya pemberlakukan PSBB di beberapa daerah dicabut. Yo intinya supaya kalian para kelas menengah atas dan horang-horang kaya itu dang belonjo maneh.

Kemudian bila dilihat dari indikator investasi sektor rill, kita bisa merujuk pada persentase rasio keuangan di perbankan nasional yang relatif masih aman. Misalnya persentase LDR (Load Deposit Ratio) yang masih di atas 80%. Artinya, rasio pinjaman atau kredit yang disalurkan oleh bank kepada sektor rill masih aman. Angka kecukupan modal yang dilihat melalui persentase CAR pun masih di atas 20%.

Baca Juga:  Kaum yang Beli Motor Trail Cuma buat Gaya, Kapan Tobat, Bos?

Artinya, bank masih mampu memberikan kredit pada masyarakat yang ingin memperpanjang umur usahanya. Tinggal pemerintah memberikan sedikit garansi kepada bank atas dana yang dikredikan pada masyarakat. Dan optimisme dunia usaha negara kita masih positif, di mana angka kredit macet yang ditunjukan melalui NPL, masih terjaga di angka 3%.

Angka tersebut masih jauh dari batas maksimal NPL yang ditentukan oleh Bank Indonesia yaitu 5%. Ini menandakan bahwa para pengusaha kita masih mampu membayar angsurannya kepada bank, sehingga tidak terjadi kredit macet.

Indikator belanja pemerintah pun bisa kita lihat hingga hari ini, di mana pengeluaran pemerintah sekarang berorietasi pada stimulus daya beli dan juga pada kebutuhan kesehatan dalam negeri. Tinggal pengawasan atas berbagai bansos yang disalurkan serta keakuratan data yang perlu dibenahi sehingga semua bantuan yang diberikan oleh pemerintah bisa tepat sasaran.

Jika kondisi resesi ekonomi memang benar terjadi, dengan semua rilisan kebijakan yang sudah diberlakukan, setidaknya bisa mengurangi minus dari persentase pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga. Sehingga, lebih mendekati kurva positif dan yang lebih penting resesi ekonomi membuat pemerintah mengevaluasi rilisan kebijakan yang sudah dikeluarkan selama 3 bulan terkahir.

Huft, berat betul bahasanya kalau lagi mikir resesi ekonomi dan negara. Yah, semoga negara juga (selalu) mikiran kita rakyat kecil, lemah, dan lesu ini. Amin.

BACA JUGA Betapa Apesnya Nasib Orang Miskin di Negeri Ini dan tulisan Muhamad Iqbal Haqiqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.