Pepatah Lama yang Tak Lagi Relevan – Terminal Mojok

Pepatah Lama yang Tak Lagi Relevan

Featured

Katanya, orang yang hidup hemat akan menjadi kaya. Nyatanya, Ahmad setiap bulan menyisihkan uang 60% dari total gajian, dan ia tidak kaya kaya juga. Saya pikir Ahmad itu orang yang paling hemat loh jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain.

Ketika saya dan teman-teman saya sarapan di warteg lauk ayam atau telur, si Ahmad cuma lauk orek tempe dan kentang balado. Itu pun nasinya setengah porsi. Ini kisah Ahmad yang tinggal di pinggiran Bintaro, Pondok Jaya. Bayangkan! Akan menjadi sekaya apa dia pada suatu hari nanti, jika pepatah itu relevan?

Berbeda dengan Ahmad yang tinggalnya di Pondok Indah. Ia tetangga saya, kompleknya sebelahan dengan saya. Saya di Pondok Pinang. Saya pikir Ahmad yang ini tidak sehemat Ahmad teman saya yang di Bintaro. Saya sering menyaksikan acaranya Ahmad bagi-bagi apa saja; uang atau sembako, atau apalah itu yang sering berkolaborasi dengan Baim. Bahkan bisa saya katakan Ahmad tidak hemat sama sekali. Kalian tahu lah, wong Ahmad sering show up di kanal Youtube.

Nah, mulai percaya kan kalau pepatah lama itu tidak relevan lagi? Jika belum percaya, saya akan memberi bukti yang lain. Simak ya!

Katanya, orang yang rajin belajar akan menjadi pandai. Nyatanya bangsa Indonesia itu rajin rajin loh, tapi apa kita pandai? Banyak kok yang menyandang gelar Doktor, tapi kewalahan mengungkap kasus Corona yang katanya konspirasi ini. Saya pikir para Doktor itu rajin belajar, rajin mengadakan penelitian, dan rajin banyak hal. Nah? Masih tidak terima bila dikatakan tidak pandai?

Jadi saya tekankan, pepatah tua itu tidak lagi relevan dengan keadaan sekarang ini. Bukan berarti kita tidak perlu berhemat atau tidak perlu rajin belajar. Bukan! Setidaknya kita akan mencoba menemukan solusi lain yang lebih cepet. Yang bisa membuat kita cepet kaya, dan cepet pandai. Daripada sekadar melaknat pihak lain.

Sebulan yang lalu, saya ke bengkel mau servis Honda Jazz saya. Tapi saya urungkan gara-gara ada pemilik Honda Brio yang mengamuk lantaran merasa tertipu.

Baca Juga:  Panduan Makan Nikmat buat Penderita Covid-19

Ternyata masalahnya tuh remeh temeh. Pemilik Honda Brio itu hanya salah paham dengan pembacaan rata-rata konsumsi bahan bakar yang tertera di MID (Multi Information Display). Bisa dikatakan pemilik Honda Brio itu berakal pendek karena cepat marah, tapi pengetahuannya rendah. “Klowor semangat” kalau kata teman-teman di Bintaro. Mungkin di antara kita ada yang modelnya seperti itu.

Teknisi resmi Honda itu menjelaskan, “Boros itu seperti ketika kita makan banyak, tapi tidak produktif. Jangan diartikan boros bila begitu Anda menginjak pedal gas, mobil Anda mau melesat kayak jet! Sebanyak apa pun bahan bakar yang dibutuhkan, selama terbayar dengan kecepatan dan tenaga, itu bukan boros!”

Saya pikir penjelasan montir itu bisa menggantikan pepatah lama yang katanya, hemat pangkal kaya. Saya menjadi tercerahkan, bahasa panasnya Illuminate.

***

Coba kita telisik apa yang dilakukan oleh Ahmad yang ada di Pondok Indah. Memang benar, ia mengeluarkan uang tidak pakai otak. Bisa dibilang tidak hemat sama sekali. Tapi apakah kita tahu dari mana saja sumber uangnya Ahmad? Bisa dikatakan, hambur uang banyak tidak masalah selama bisa memperoleh uang lebih banyak dari jalan lain. Bener dong?

Sudah terbayang, bukan? Berapa jumlah followers Ahmad di Instagram? Terus berapa kali sehari ia mengiklankan produk lewat Instagramnya? Itu baru instagram, belum Youtube. Itu baru yang bisnis online, belum investasi yang lain. Bisa dikatakan Ahmad tidak boros sama sekali loh, wong ia punya pemasukan yang lebih besar. Silakan tentukan sendiri pepatah baru versi kalian!

Kalau begitu, investasi pangkal kaya? Mungkin. Coba saja berinvestasi, siapa tahu jadi kaya. Nanti saya tiru. Loh? Soalnya saya ini nggak kaya kaya juga seperti Ahmad yang di Bintaro. Haha

Kalau kaya tidak, apakah saya ini pandai? Kok dari tadi mencoba mematahkan teori pepatah lama. Tidak juga. Baik, saya jelaskan.

Baca Juga:  Buat Pengendara Mobil, Jangan Main Serobot Antrean di SPBU, dong!

Saya ini tidak cukup pandai. Ungkapan saya itu menjadi modal hidup saya sehingga saya tidak mungkin bicara soal konspirasi, atau geopolitik, atau semacamnya. Saya hanya menulis kegelisahan saya, karena begitu banyaknya orang ikutan bicara di luar kemampuan mereka.

Apa tidak bisa kita berbicara tentang Honda Jazz saja, kebetulan saya sudah menelanjangi kendaraan kesayangan saya ini. Haha

Saya rajin membongkar, belajar banyak hal tentang teknik pada Honda Jazz ini, sehingga saya tuh bisa dikatakan pandai. Saya bisa mencari solusi bila mobil saya bermasalah, saya pikir saya pandai dalam hal ini.

Tapi coba tengok orang yang tidak bisa mengungkap siapa dalang konspirasi Covid-19 ini seandainya benar adanya. Sementara hal itu ada di ranah tanggungjawabnya.

Apakah harus saya juga yang mengungkap? Serumit apa sih konspirasi di dunia ini sehingga orang-orang yang sudah rajin belajar di muka bumi ini tak berkutik? Apakah serumit rangkaian kelistrikan pada mesin Honda Jazz saya?

Geregetan sebenarnya. Tapi saya hanya bisa berucap, mereka tak pandai pandai juga meski sudah rajin belajar. Pengen teriak di telinga mereka, mbok kalau pas belajar itu yang sungguh-sungguh!

Mungkin benar kata Bossman. Kita hanya perlu berdaulat dalam segala aspek kehidupan. Kita siapkan segala kebutuhan bangsa dan negara dengan tangan sendiri. Boleh meniru negara lain, tapi bukan berarti menuruti segala keinginan negara lain. Padahal, montir saja tahu akan benarnya kalimat itu. Ditambah juga saya tuh berambisi pengen berdaulat. Mungkin kalian juga sama dengan saya.

Tapi sekali lagi, Honda Jazz saya aja produk Jepang. Tanpa pengetahuan teknologi dari Jepang, saya tidak akan berkutik. Jadi, saya berpikir ada pepatah baru yang lebih relevan. Yaitu…

Pengetahuan pangkal kekuasaan. Bukan uang, bukan pula jabatan yang paling berkuasa. Bahkan seorang presiden pun bisa dikendalikan bila tidak memiliki pengetahuan yang cukup.

Baca Juga:  Keadilan Sosial bagi Member Holywings yang Dapat Vaksin

***

Sekiranya itu kegelisahan saya yang terbilang agak berbaik sangka. Padahal tadi saya sudah mengatakan, para Doktor itu agaknya kurang pandai. Coba bila saya katakan, sebenarnya mereka pandai. Hanya saja mereka berada di sisi gelapnya dunia?

Parah. Jika orang-orang yang pandai itu berada di sisi kegelapan. Dan orang-orang yang tidak pandai yang berada di sisi terangnya dunia. Apa mungkin konspirasi besar itu dapat diungkap? Yang terjadi adalah perang pengetahuan.

Buya Hamka berkata, iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri. Bayangkan, bagaimana kita ini seandainya kita punya iman senantiasa berpihak pada kebaikan tapi tidak tahu banyak hal seperti bayi. Mungkin kita gampang dibodohi pakai fatwa atau bahkan sampai terjebak untuk membuat fatwa yang terlihat bodoh. Pasalnya para Ulama juga berpasrah dengan para ilmu pengetahuan.

Sebaliknya yang lebih berbahaya, bila ilmu pengetahuan berada di tangan orang jahat, apa jadinya kita? Seandainya seluruh manusia baik bersatu pun, kita hanya akan menjadi mainannya mereka yang berpengetahuan.

Seandainya kita benar-benar pandai, pasti bisa menghentikan pandemi Covid-19 ini segera. Bila sudah seperti itu, pasti negara-negara lain akan menjadi teman. Bisa lah jualan produk anti Covid-19. Lalu Indonesia jadi negara kaya, bisa lah! Kuy!

Pandai pangkal kaya, pandai pangkal kuasa. Daripada jadi orang hemat atau pelit, mendingan jadi orang pandai.

“Pandai tidak pangkal kaya, buktinya saya?” komentar netizen. Ada yang bisa bantu jawab?

BACA JUGA 4 Usaha ini Cocok Buat Kalian yang Pengin Kaya tapi Nggak Mau Ribet dan tulisan Erwin Setiawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.