Penolakan Tren #WeShouldAlwaysBeKind Bukti Bahwa Kita Belum Siap Menerima Kebaikan – Terminal Mojok

Penolakan Tren #WeShouldAlwaysBeKind Bukti Bahwa Kita Belum Siap Menerima Kebaikan

Artikel

Instagram lagi ramai soal tren campaign story bernama #WeShouldAlwaysBeKind yang lahir akun Instagram bernama @sulrod/Sulaiman Syahrod. Adanya campaign ini bermula dari niat baik dari @sulrod yang ingin menyampaikan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. Apalagi di tengah pandemi yang butuh dukungan satu sama lain, ide ini diharapkan mampu memberikan dampak positif. 

Caranya cukup mudah, kita lakukan screenshoot pada postingan pertama di highlight story milik @sulrod, setelah itu kita masukan stiker Instagram yang ‘komentar’ lalu setiap orang yang melihat story ini akan melihat fotonya terpampang. Rasanya memang agak aneh dan membingungkan, saya pun juga tidak mengerti awalnya. Rasanya kok aneh, perasaan tidak pernah baik-baik amat atau terlalu dekat sama orang yang post campaign story, tapi tiba-tiba ada foto saya.

Setelah saya mencari tahu, barulah saya paham dan mengerti. Saya cukup setuju dengan pesan dibalik campaign ini. Sangat baik, dan positif sekali untuk orang-orang yang sering merasa insecure dan stres karena masalah hidup. Ada setitik kecerahan yang membuat kita, termasuk saya di sini merasa mendapatkan apresiasi dari postingan story tersebut.

Namun, nyatanya orang-orang di dunia maya banyak yang salah kaprah dan merasa campaign #WeShouldAlwaysBeKind ini adalah ‘prank’ yang sangat menganggu privasi dan kenyamanan. Ada yang merasa dipermainkan karena fotonya dipasang tidak dengan izin, padahal itu hanyalah salah satu fitur dari Instagram sendiri. Yang saya cukup kaget, sahur hari ini saya melihat lalu membaca tulisan dari Mbak Fatima berjudul Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab dalam Silaturahmi

Dalam tulisannya, Mbak Fatima menjelaskan kalau campaign tersebut sangat menganggu, dan masuk dalam ranah kejahatan privasi. Dikutip dari tulisannya; “Alih-alih silaturahmi, saya justru merasa mendapat kejahatan privasi atau minimal kena prank lah.” masih di tulisannya Mbak Fatima, beliau juga menulis kalau campaign ini hanya sebagai ajang narsistik semata dan bukan sebagai ajang silaturahmi.

Dengan segala hormat, saya ingin menyangkal pernyataan dari poin-poin di tulisan mbak.

Pertama, poin yang mbak sampaikan pertama kali adalah bahwa campaign kebaikan ini hanya prank, ajang narsis dan menganggu privasi. Menurut saya, kalau memang mbak merasa kena prank bisa saja. Saya juga merasa demikian, namun di sini tidak perlu merasa yang macam-macam. Mungkin, mbak merasa ini prank karena ada beberapa ulah oknum yang menjadikan kampanye ini negatif?

Saya nemu sih, ada beberapa teman saya yang justru mengganti narasi di story dengan “Ini cabe-cabean” “tadi ini orang abis makan di warteg” dan lain sebagainya. Kalau yang melakukan seperti itu, wajar kalau mbak marah. Lalu, soal narsis apakah itu suudzon dari Mbak Fatima? Mohon maaf, tapi tulisan mbak ini kan masuk dalam rubrik #TerminalRamadan yang setiap sahur tayang, apakah tidak bisa husnudzon saja? Oiya, di postingan si pembuat campaign ini saya juga tidak menemukan kalimat narsistik loh, mbak.

Kalau masalah privasi, setiap orang memang berbeda-beda ya. Tapi, privasi itu bukankah ranah/ruangan pribadi ya? Maksud saya, Lagipula itu kan profil sendiri tapi ternyata hanya kita yang bisa melihat. Kalau mbak sendiri, apakah seketat itu privasinya ya. Kalau begitu, saya no comment bang jago.

Kedua, poin yang selanjutnya mbak merasa campaign ini kurang beradab karena tidak melakukan salam terlebih dahulu dalam silaturahmi. Meminjam kalimat dari Mbak Fatima, Kalau dalam bahasa anak milenial sekarang, menyapa/say hi duluan lah.  Namun, saya kira ini kurang tepat juga. Masalahnya, campaign ini adalah bentuk apresiasi kepada orang-orang, tujuannya memberikan pesan bahwa setiap orang itu baik. Lagipula, lagi-lagi di postingan @sulrod menyatakan silaturahmi di kalimat terakhir, yang artinya itu hanya bonus semata. Begitu loh, mbak. 

Ketiga, Mbak Fatima merasa ‘prank baik’ ini justru tidak baik karena bisa mempengaruhi mental orang-orang yang tidak siap, di kasus ini Mbak Fatima membawa mantan sebagai objeknya. Dalam poin ketidaksetujuan ini, mbak bilang nantinya mantan jadi serba salah karena takutnya dia memendam harapan. Lalu selain itu, mbak juga bilang kalau nantinya orang-orang yang melihat ‘prank’ ini akan kecewa kalau tahu cara kerja campaign #WeShouldAlwaysBeKind ini.

Maaf mbak tanpa mengurangi rasa hormat, apakah ini juga suudzon dari mbaknya? Soalnya kok dari tadi poin ketidaksetujuan mbak seperti judge karena merasa tidak nyaman. Pasalnya, yang saya tahu dalam postingan milik mas @sulrod tidak ada rasanya berniat untuk bikin orang kesal atau kecewa. Baik itu mantan, atau hanya teman. 

Lagian mbak, apa salahnya menyapa mantan? Bukankah kita pikir bisa saja dengan postingan story #WeShouldAlwaysBeKind membuat para mantan berdamai dengan masa lalunya! Lalu, sepertinya soal masalah kecewa kurang tepat rasanya deh mbak. Kalau orang sudah posting story soal #WeShouldAlwaysBeKind, bukannya orang itu paham bahwa dia akan bilang kepada khalayak kalau semua orang itu baik dan termasuk yang membaca story miliknya sendiri.

Bukannya nggak bagus mbak memiliki prasangka begitu? Kita juga nggak tahu isi hati orang lain bukan, kita tidak tahu kalau yang ikut campaign #WeShouldAlwaysBeKind ini benar-benar niatnya hanya ingin spread hawa positif. Tidak niat yang bikin kecewa orang lain, bukan?

Mungkin mbak masih belum tahu, atau belum baca sepenuhnya pesan dan niat dari si pemilik campaign dari #WeShouldAlwaysBeKind ini, saya cantumkan linknya mbak. Sekalian, mbak bisa baca di sini.

Baca Juga:  Merindukan Sepak Bola Indonesia lewat Cerita Lucu Para Pencintanya

Saya kira, memang di negara ini orang-orang kita masih susah untuk diajak kebaikan. Diajak untuk bercanda saja kadang ada yang tidak paham bisa seram, apalagi soal kebaikan? Maaf ya, mbak. Saya cuman sedikit nggak setuju aja dengan tulisannya, hehehe.

BACA JUGA Mencoba Tabah Menjadi Mahasiswa UNS yang Berulang Kali “Diblenjani” Bapaknya Sendiri atau tulisan Nasrullah Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.