Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Penjelasan Ilmiah Kenapa Boomer Nggak Bisa Ngerti Profesi Abad 21

Aliurridha oleh Aliurridha
16 Maret 2020
A A
Profesi Abad 21

Penjelasan Ilmiah Kenapa Boomer Nggak Bisa Ngerti Profesi Abad 21

Share on FacebookShare on Twitter

Membaca tulisan Dini N Rizeki tentang susahnya menjelaskan profesi “content writer” pada boomer membuat saya merasa terpanggil. Terpanggil bukan karena saya merasa paling tahu jawabannya tapi karena kebuntuan saya mencari ide. Selain itu saya juga punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan apa yang dialami para pekerja abad 21 ketika mendapatkan pertanyaan abad 20, “kerja di mana?”

Sebagai seorang yang punya profesi abad 21 saya juga merasa gelisah karena dianggap sebagai pengangguran hanya karena kerjanya di rumah. Tidak hanya pengangguran, bahkan disangka pemalas tukang rebahan karena bangun siang, tidak pernah keluar rumah dan tiba-tiba punya uang yang meskipun tidak banyak tapi cukuplah untuk membuat para tetangga gelisah mengira saya ngepet atau pelihara tuyul. Apalagi kalau duit tetangga sudah habis secara misterius padahal belum akhir bulan.

Sebagai informasi saya adalah penerjemah partikelir, penulis lepas, dan pedagang tanpa barang. Jadi sebenarnya tidak punya profesi yang jelas. Bahasa kerennya freelancer, bahasa tidak kerennya pekerja serabutan. Sebagai penerjemah partikelir saya tidak berkantor saya bahkan tidak pernah bertemu pembeli jasa saya. Semua transaksi dilakukan online, thanks to technology yang memberikan seorang introvert dan pemalas seperti saya kesempatan untuk mencari recehan dari lima triliun uang yang beredar di dunia tanpa perlu ketemu orang sama sekali.

Selain menerjemah, saya juga menulis untuk media di tengah kegabutan saya jika tidak mendapatkan proyek penerjemahan. Selain itu saya juga berdagang tanpa barang atau istilah kerennya trader yang kenyataannya ternyata tidak semudah omongan Budi Setiawan. Brngsk kau Budi, eh nama asli kowe siapa sih?

Semua pekerjaan yang saya jabani ini membuat saya tidak perlu keluar rumah, panas-panasan, hujan-hujanan tapi jangan salah meskipun tidak keluar rumah bukan berarti pekerjaan ini mudah dan menyenangkan. Tidak sama sekali, terkadang pinggang terasa sudah sepuluh tahun dari usianya karena kerjaan hanya duduk di depan laptop dari pagi sampai malam, lelah tauq.

Balik lagi ke pertanyaan awal, kenapa sih para boomer tidak bisa mengerti meski dijelaskan sampai mulutmu leleh tentang pekerjaan-pekerjaan abad 21. Pekerjaan-pekerjaan yang sangat bertentangan dengan prinsip kerja yang ada di pikiran mereka. Jawabannya sebenarnya sangat sederhana. “Jika kau tidak mengerti sesuatu, itu berarti otakmu tidak mengizinkan kamu untuk mengerti,” kata George Lakoff, seorang linguist dan profesor kognitif sains.

Semua itu terjadi karena informasi diproses ketika terjadi koneksi antar neuron ketika seseorang melakukan sesuatu. Jadi ketika manusia melihat sesuatu yang dilakukan oleh manusia lain namun hal itu sama sekali tidak pernah dia lakukan, hal ini menyebabkan tidak adanya pemetaan lintas domain pada aktivitas neuron karena sistem sensormotorik tidak membantunya mengidentifikasi pengalaman tersebut.

Dalam bukunya Moral Politics, George Lakoff (2002) menceritakan ketika ia menghadiri seminar yang dilakukan oleh partai konservatif Amerika ia tidak bisa memahami apa yang mereka sampaikan padahal Lakoff seorang Profesor Semantik. Semantik adalah ilmu tentang makna, yang merupakan cabang dari linguistik. Dia sangat bingung dengan ide-ide konservatif di mana salah satunya adalah melegalkan kepemilikan senjata. Ketika seorang kanan konservatif berorasi setiap penonton bersorak dan Lakoff hanya terbengong.

Baca Juga:

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi “Bakti Anak” yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung

Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga

Struktur neuron pada otaknya membuatnya tidak bisa memproses informasi yang sama sekali bertentangan dengan apa yang dipercayainya. Seperti halnya Lakoff yang tidak mengerti dengan cara berfikir kaum konservatif Amerika karena dia adalah seorang liberal, boomer juga tidak akan bisa mengerti kerja abad 21 seperti content creator, content writer, atau berbagai pekerjaan yang tidak membutuhkan kantor.

Dalam otak para boomer kerja itu dimulai pukul 07.00 ketika seseorang berangkat kantor, dan pukul 17.00 pulang kantor. Kerja itu menggunakan seragam, menerima gaji tetap setiap akhir bulan, dan ada hari liburnya yang sudah diatur sebelumnya. Jadi ketika ada yang mengatakan bahwa di bekerja di rumah maka itu bertentangan dengan bingkai tentang kerja yang ada di otak para boomers. Apalagi jika jenis pekerjaan itu adalah pekerjaan yang tidak ada sama sekali pada zaman boomers masih produktif sehingga tidak akan terjadi tembakan neuron yang menyebabkan terkoneksi neuron-neuron yang membantunya memproses informasi itu.

Pusing ya? Oke, saya sederhanakan menggunakan analogi. Kalian sama sekali belum pernah belajar bahasa Jerman, lalu guru kalian mengatakan buku itu menyimpan informasi dan kalian disuruh membacanya. Sayangnya buku itu berbahasa Jerman dan kalian tidak mengerti sama sekali bahasa Jerman yang menyebabkan informasi apapun yang ada di buku tidak akan diproses di otak. Sederhananya perangkat yang ada di otak kalian tidak bisa membantu memetakan informasi. Jadi bukan karena bukunya tidak memiliki informasi melainkan perangkat di otak kalian gagal memberinya mendekode informasi itu.

Kesimpulan yang bisa diambil dari sini adalah jangan coba-coba menjelaskan profesi abad 21 kepada para boomers. Itu sama saja melawan hukum alam, karena secara biologi, tepatnya neurosains, memang tidak ada sama sekali perangkat dari otaknya untuk mendekode informasi itu. Menyitir apa yang dikatakan Lakoff, percuma menjelaskan profesi abad 21 dengan otak abad pertengahan.

BACA JUGA Betapa Sulitnya Menjelaskan Profesi ‘Content Writer’ pada Boomer atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2020 oleh

Tags: boomerneurosainsprofesi abad 21
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Tapi Tumbal Orang Tua (Pexels)

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi “Bakti Anak” yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung

27 Januari 2026
juvenoia remaja orang tua mojok

Juvenoia: Sebuah Ancaman atau Kegelisahan Orang Tua Semata?

11 Juni 2021
Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga kampung halaman

Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga

12 Maret 2023
faldo maldini politisi muda mojok (1)

Faldo Maldini dan Fenomena Politisi Muda Rasa Boomer

15 Agustus 2021
Punya Profesi Abad 21 di Lingkungan Manusia Abad 20 Kayak Dikutuk Jadi Sysiphus

Punya Profesi Abad 21 di Lingkungan Manusia Abad 20 Kayak Dikutuk Jadi Sysiphus

17 Maret 2020
Macam-macam Tipikal Klien yang Sering Dihadapi Seorang Content Writer content writer

Betapa Sulitnya Menjelaskan Profesi ‘Content Writer’ pada Boomer

14 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.