Sebagai pencinta Durian, Wonosalam Jombang jadi salah satu tempat yang paling ingin saya kunjungi. Daerah yang berada di kaki Gunung Anjasmoro ini terkenal akan duriannya. Bahkan, di Wonosalam ada festival durian yang digelar tiap tahun.
Saya dan istri akhirnya memutuskan motoran ke sana. Perjalanan berburu Raja Buah begitu menyenangkan karena udara sejuk dan pemandangan pegunungan yang indah. Selama perjalanan saya degdegan karena keinginan mampir ke Wonosalam akhirnya terwujud.
Ekspektasi terhadap durian Wonosalam Jombang yang terlalu tinggi
Jujur saja, saya nggak punya bayangan seperti apa Wonosalam itu. Saya kira bakal ada semacam sentra durian, kios rapi, atau minimal lapak yang terlihat niat. Ternyata, toko duriannya cuma di pinggir jalan berjejer. Warung-warungnya nggak jelek, tapi tidak tampak meyakinkan juga.
Saya masih berpikir positif. Namanya juga daerah wisata alam, mungkin memang konsepnya begitu. Saya berhenti di salah satu lapak. Lihat durian, pegang, cium. Lalu mulai terbuai dengan kata-kata sang penjual.
“Ini montong lokal, Mas,” kata penjual. Saya mangut-mangut. Dijelaskan lagi kalau dagingnya memang agak keset. Saya mikir, ya mungkin karakter montong lokal Wonosalam begitu. Harganya? Dua kali lipat durian pinggir jalan di daerah saya. Tapi dalam hati saya masih bisa menerima. Saya merasa, “Ya mungkin memang segitu harga durian enak.” Saya akhirnya beli.
Saat durian dibuka, isinya penuh kecewa
Saya tak menunggu lama, langsung saya coba. Iya, begitu durian “deal”, langsung dibuka dan dicoba. Sialnya, yang terasa justru kecewa. Bukan karena rasanya pahit. Bukan pula karena busuk. Tapi jelas terasa seperti belum matang. Rasanya tanggung. Dagingnya nggak legit. Nggak lumer. Tidak ada vibe durian enak pada umumnya.
Di situ saya mulai mencerna ucapan si penjual. Istilah durian “montong lokal” yang dijajakan penjual Wonosalam itu sebenarnya apa? Maksud saya, bukankah montong ya montong. Lokal ya lokal. Nggak ada istilah montong lokal. Menurut keyakinan saya, itu cuma permainan kata agar terdengar meyakinkan.
Dan, di titik itu saya sadar, saya ketipu. Bukan karena saya nggak ngerti durian sama sekali, tapi karena saya terlalu percaya pada romantisisme semu. Nama Wonosalam terlalu besar di bayangan saya, sampai saya lupa pakai logika.
Bukan soal untung, tapi soal cara
Saya paham betul, namanya jualan memang cari untung. Itu normal. Tapi, mengambil keuntung dengan cara menipu itu bukan sesuatu yang perlu dibenarkan. Apalagi ketika yang dijual bukan sekadar durian, tapi nama daerah.
Wonosalam Jombang dan durian itu sudah seperti satu paket. Ibarat Jogja dengan Bakpia atau Lamongan dengan Soto. Sudah menjadi ciri khas yang seharusnya dijaga kualitasnya. Sebab, ketika orang datang jauh-jauh, lalu pulang dengan rasa kecewa, yang rusak bukan cuma kepercayaan pembeli, tapi juga reputasi daerah itu sendiri. Iya, sebuah ironi ketika ada yang membeli durian dan tertipu justru di “sumber” durian itu berasal. Tempat yang seharusnya paling aman untuk mendapatkan kualitas dengan harga yang terjangkau.
Saya yakin ada banyak penjual di Wonosalam yang jujur. Mungkin saya memang sedang sial saja. Namun, saya hal yang saya pelajari adalah romantisisme itu kadang berbahaya. Iya, terlalu percaya pada nama dan cerita kadang membuat kita lupa bahwa tidak semua yang dijual di tempat asalnya otomatis jujur dan berkualitas.
Saya nggak benci Wonosalam. Saya masih menikmati perjalanannya. Tapi soal durian, saya kapok percaya mentah-mentah. Lain kali, mungkin saya akan lebih banyak menawar. Atau lebih baik beli di tempat yang memang sudah saya kenal. Karena ternyata, perjalanan jauh dan nama besar tidak selalu menjamin rasa yang sepadan.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Air Terjun Tretes Wonosalam, Bukti Jombang Nggak Miskin Wisata Alam
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara inib ya.



















