Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
8 November 2025
A A
Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget! (Harry Prabowo via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Medan adalah salah satu kota di Sumatera, bahkan masuk kategori Kota semi metropolitan di Indonesia. Sebab, kota ini punya fitur untuk disebut kota besar, tapi belum seutuhnya metropolitan selayaknya Jakarta atau Surabaya. Medan menjadi poros utama ekonomi di Sumatera.

Bandara-pelabuhan di Medan menjadi simpul yang menghubungkan berbagai aktivitas perdagangan dari berbagai daerah di luar Sumatera. Selain itu, jaringan dan layanan seperti rumah sakit, kampus, kawasan perdagangan, mall, dan kuliner lintas etnis sudah tersedia cukup lengkap di Medan. Hal itu membuatnya layak untuk dikunjungi dan jadi persinggahan wajib bila ingin ke daerah lain di Sumatera Utara.

Nah, saya sendiri pernah 2 kali ke Medan. Pertama saat kuliah S1 untuk acara perlombaan. Yang kedua karena urusan pekerjaan. Karena kunjungan pertama saya merasa kurang mengeksplor, maka pada kunjungan kedua, saya merasa perlu menjelajahi Medan sedikit lebih luas. Supaya tidak terkesan hanya numpang lewat saja.

Tapi apa yang saya dapati justru tak sesuai dengan ekspektasi. Realitasnya, ada beberapa hal yang saya alami dan amati ternyata membuat saya garuk-garuk kepala karena heran dan sedikit kecewa.

Julukan Kota Durian pada Medan yang nggak sesuai dengan ekspektasi

Pertama adalah julukan Kota Durian untuk Medan yang saya rasa terlalu diglorifikasi. Sebagai pecinta durian. Julukan seperti ini tentu membuat saya jadi semangat ketika ke Medan. Banyak yang bilang durian Medan itu selalu manis dan murah.

Kenyataannya nggak sepenuhnya demikian. Setelah dicicipi, rasa durian Medan memang manis di lidah, tapi agak pahit di dompet. Durian yang ditawarkan harganya nggak kalah mahal dari yang ada di Jawa. Entah sayanya yang salah beli ke penjual atau memang sedang tidak musimnya. Tapi yang jelas, perkara durian ini agak menyebalkan. Apes memang.

Selain itu, durian yang disantap pun jadi kurang nikmat karena yah sahut-sahutan antara penjual dan pembeli yang bising. Memang sebaiknya dibeli dan dibawa pulang saja, jangan dimakan langsung di lokasi.

Persoalan kedua yang saya rasa nggak sesuai ekspektasi adalah predikat sebagai surga kuliner dengan rasa yang ramah di lidah disertai tempatnya yang wah dan nyaman. Yah kuliner macam soto medan, bihun bebek, kari bihun, atau lontong Medan. Saya berkesempatan mencicipi beberapa di antaranya di warung-warung yang katanya sering jadi rekomendasi utama.

Baca Juga:

Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab

Kesawan, Malioboro Medan yang Penuh Sejarah dan Bikin Jatuh Cinta

Namun sayangnya, makanan seperti bihun bebek dan lontong Medan nggak cocok di lidah saya. No offense ya. Tapi bagi saya terlalu pekat dengan rasa gurih, bahkan cenderung asin. Pernah nggak si kalian merasa eneg tapi karena terlalu asin? Nah kalau pernah, kurang lebih kek gitu rasanya.

Selain itu, karena warungnya ramai, menunggu makanannya datang pun sangat lama. Udah nunggunya harus sabar dan nahan lapar, pas datang, rasanya nggak cocok di lidah. Pada akhirnya saya pun balik lagi nyobain makanan yang lebih umum.

Perangai pengendara

Persoalan selanjutnya adalah tentang anggapan karena Medan berstatus kota bisnis berarti semuanya serba profesional, sistematis, dan efisien. Realitasnya, budaya perkotaan yang kompetitif nggak sepenuhnya terlihat di kota Medan. Yah sebenarnya ini bukan menjadi sebuah kekurangan sih, tapi lebih kepada unsur yang membuat saya sadar bahwa budaya perkotaan yang serba cepat, profesional, dan menuntut efisien itu nggak diberlakukan secara kaku di Medan.

Penilaian ini muncul karena saya ke sana untuk urusan pekerjaan sehingga interaksi saya kepada warga setempat pasti dari kacamata seorang yang sedang bekerja.

Terakhir yang membuat saya agak kesal adalah soal perilaku pengendara di jalanan. Yah saya tahu Medan ini isinya orang dari berbagai kalangan di Sumatera yang bertipe agak keras dan ceplas-ceplos, tapi rasanya kalau soal lalu lintas masih bisa terkendali. Setidaknya itu anggapan saya. Sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri.

Mulai dari bunyi klakson yang bersahutan sana-sini, motor melesat membuka celah, dan mobil seperti sepakat menari rapat tanpa saling singgung. Saling salip jadi bahan tontonan saya di sepanjang jalan. Untungnya waktu itu saya menggunakan mobil, sehingga agak sedikit lebih aman.

Ketika berbincang dengan rekan yang menyetir, dia bilang kalau jalanan Medan seperti panggung besar dengan koreografi yang hanya dimengerti pemain lokal. Menyeberang butuh nyali dan timing, bukan sekadar mengandalkan naluri.

Kota to the point

Tapi terlepas dari itu, meski bukan tipe kota dengan ritme yang cepat, Medan tetaplah kota yang “to the point”. Sebab di sana, orang sering berbicara langsung ke inti, dari mana, urusan apa, mau ke mana. Buat pendatang, ini terasa seperti interogasi kilat.

Namun setelah menjawab dengan tenang dan bersahabat, biasanya mereka akan menjelaskan dengan jelas. Misalnya pertanyaan ke suatu tempat, maka mereka akan memberi rute tercepat dan memperingatkan bagian kota mana yang macet.

Intinya mayoritas dari mereka adalah tipe yang sangat to the point. Sehingga bikin saya agak gelagapan ketika hari pertama berinteraksi dengan orang sekitar (selain rekan kerja orang Medan yang memang sudah kenal).

Pada akhirnya, kota yang nggak sesuai ekspektasi dan bikin kaget nggak berarti selalu buruk. Malah sebaliknya, bisa jadi adalah tanda kejujuran. Itulah Medan. Yah paling tidak, jujur soal hal buruk kan nggak apa-apa. Selama semuanya nggak terkesan dilebih-lebihkan. Yang nggak kalah penting juga adalah belajar mengelola ekspektasi, biar nggak kecewa terlalu dalam.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nestapa Mahasiswa Asal Bangkalan yang Mendapat Tugas Kuliah Review Kebijakan Unggulan Daerahnya: Bingung dan Malu karena Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2025 oleh

Tags: durian medangaya bicara orang medanlalu lintas medanMedan
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Perbedaan Rumah Makan Padang Jogja vs Medan yang Bikin Kaget: Rasanya Manis dan Penyajiannya Prasmanan, kek Mana Ini? warung padang murah, warung makan padang

Perbedaan Rumah Makan Padang Jogja vs Medan yang Bikin Kaget: Rasanya Manis dan Penyajiannya Prasmanan, kek Mana Ini?

6 Agustus 2024
5 Aturan Berbicara jika Kamu Berada di Kota Medan terminal mojok

5 Aturan Berbicara jika Kamu Berada di Kota Medan

2 September 2021
bahasa medan Kata 'Apa' dalam Konteks Bahasa Medan Itu Sakti dan Serbaguna terminal mojok.co

Jangan Asal Manggil Uwak di Medan

12 Maret 2021
Motor NMAX dan PCX Memang Nggak Cocok untuk Orang Desa, Mau Ngapain di Jalan Sekecil Itu?

Motor NMAX dan PCX Memang Nggak Cocok untuk Orang Desa, Mau Ngapain di Jalan Sekecil Itu?

13 Januari 2024
Mari Bersepakat Sirup Kurnia Adalah Sirup Paling Terkenal di Medan terminal mojok

Mari Bersepakat Sirup Kurnia Adalah Sirup Paling Terkenal di Medan

16 April 2021
mati lampu

Di Medan, Mati Lampu di Bulan Puasa Adalah Keniscayaan

17 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara Motor yang Juga Pengguna Kacamata Adalah Orang Paling Sial ketika Hujan

Pengendara Motor yang Juga Pengguna Kacamata Adalah Orang Paling Sial ketika Hujan

8 Januari 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah

9 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo: Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti, Katanya Serba Murah tapi Kini Cuma Dongeng

11 Januari 2026
Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026
Toyota Veloz, Mobil yang Sangar di Jalan Datar tapi Lemas di Tanjakan

Toyota Veloz, Mobil yang Sangar di Jalan Datar tapi Lemas di Tanjakan

11 Januari 2026
5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribuan yang Layak Dibeli Mojok.co

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota
  • Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim
  • Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan
  • Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa
  • Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua
  • Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.