Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Saya Berjualan di Car Free Day

Royyan Mahmuda Al'Arisyi Daulay oleh Royyan Mahmuda Al'Arisyi Daulay
8 Desember 2019
A A
Pengalaman Saya Berjualan di Car Free Day
Share on FacebookShare on Twitter

Car free day (CFD) merupakan sebuah kegiatan di Minggu pagi yang kian menjamur di setiap daerah, termasuk daerah tempat saya tinggal di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Biasanya, CFD berisikan orang-orang yang akan berolahraga atau sekadar mencari hiburan di hari libur. Bahkan sekarang CFD menjadi pusat perekonomian baru karena menjadi sarana pertemuan antara pembeli dengan para pedagang yang beraneka ragam.

Dengan adanya car free day, agenda Minggu pagi tidak hanya berolahraga atau menonton anime di rumah. Tetapi bisa dihabiskan dengan sekadar menikmati keramaian CFD hingga menikmati berbagai kuliner yang tersedia. Saya pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk mengisi kantong ekonomi. Sebagai pegawai biasa yang sudah memiliki putra, kebutuhan dapur semakin meningkat.

Perlu ada upaya lebih untuk menjaga agar dapur tetap mengebul. Maka saya pun mengambil langkah untuk menjual batik jenis daster. Hitung-hitung melestarikan budaya khas Indonesia agar tidak diakui oleh negara lain.

Sebagai pemula pada kancah perdagangan CFD saya sempat bingung bagaimana mekanisme penjualannya. Apakah harus sewa lapak? Atau bagaimana? Ternyata setelah mencari tahu hingga akarnya, membuka lapak di CFD tidak dipungut biaya dan sistemnya sangat terbuka untuk siapa saja yang ingin berjualan. Syaratnya siapa yang cepat datang ke lokasi maka dia yang berhak untuk menggunakan lapak tersebut.

Tidak heran jika area car free day sudah sangat padat oleh para pedagang sejak subuh. Saya pernah datang setelah subuh dan tidak bisa mendapatkan tempat yang nyaman karena sudah penuh semua. Akibat dari saling berebutan itu, ada pihak yang akhirnya mau mengkoordinir para pedagang tersebut.

Konsekuensinya ada iuran setiap pekan sebesar lima ribu rupiah. Tidak masalah dengan biaya segitu. Persoalan malah pada kuota pedagang CFD. Tidak semua yang berdagang di CFD masuk dalam keanggotaan dari kelompok yang mengkoordinir tersebut. Imbasnya muncul perasaan memiliki dari para pedagang yang rutin membayar iuran. Hingga pada akhirnya pedagang yang tidak membayar iuran akan diusir-usir, meskipun masih ada lapak kosong di suatu area CFD.

Gesekan pun akhirnya muncul di antara para pedagang car free day gara-gara hal ini. Untungnya tidak sampai menimbulkan kerusuhan, paling tidak hingga saat ini. Namun setiap daerah memiliki peraturannya masing-masing. Tidak semua CFD di daerah lain seperti itu. Kalau daerah saya kebetulan peraturannya demikian.

Sebagai pendatang baru dalam dunia per-CFD-an saya sempat mengalami keputusasaan. Mungkin sebagian pedagang pemula juga pernah mengalami hal serupa. Keputusasaan tersebut muncul ketika melihat pedagang lain (apalagi di sebelah persis) mengalami keuntungan secara signifikan. Pembeli datang berduyun-duyun melarisi dagangan mereka, sedangkan kita hanya bisa melihat seraya membatin, “Ayolah lihat dagangan saya.”

Baca Juga:

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

CFD Depok Belum Ideal, bahkan Muncul Pungli, tapi Saya Tetap Semangat Menikmati

Bahkan saking putus asanya, ada yang sampai tutup lebih awal karena tidak kuat melihat saingannya laris manis (kalau saya masih mencoba bertahan). Perasaan ingin banyak pelanggan serta cepat dapat keuntungan sering menghantui perasaan para pedagang pemula (termasuk saya). Semua dihitung secara matematis.

Modal saya sekian maka harus mendapatkan keuntungan sekian. Padahal rumus rezeki tidak sesederhana itu. Kadang modal harus mengendap lama agar bisa mendapat keuntungan. Ada pula yang harus membuang sisa dagangannya dan mendapatkan untung yang tidak melebihi modal (rugi).

Maksud saya, orang berdagang itu tidak melulu untung. Tidak selalu ada dagangan ada keuntungan. Tetapi yang pasti rezeki sudah diatur oleh Tuhan, baik jumlah dan waktunya. Tinggal seberapa kuat rasa sabar bersemayam di hati kita.

Prinsip itu yang terus saya pegang. Meskipun saya mulai buka dagangan cukup awal (sejak subuh) ternyata rezekinya pun tidak langsung datang di awal. Hingga jam delapan tak kunjung pelanggan datang. Padahal pedagang di samping kanan dan kiri saya sudah banyak yang laku dijual. Karena motto saya pantang pulang sebelum laku, tetap saya tunggu pelanggan-pelanggan yang mulia itu.

Beruntungnya saya, dari tadi tidak ada yang mengunjungi (ada sih tetapi sekadar melihat dan memegang lalu pergi), sekali ada yang membeli langsung memborong. Lumayan hampir separuh stock yang saya bawa habis oleh pelanggan tersebut. Menjelang akhir waktu berjualan, tanpa disangka dan diduga ada rombongan ibu-ibu yang menyerbu lapak saya. Seketika dagangan saya diborong habis. Sungguh pengalaman luar biasa.

Kalau tadi saya memutuskan pulang karena putus asa, bisa jadi barang dagangan saya masih mengendap di rumah untuk dijual minggu depan. Memang, kadang semangat dan kesabaran sangat diuji dalam berdagang di car free day. Mungkin bagi pemula seperti saya yang selalu melihat hasil dari pedagang CFD yang sukses, membuat hati selalu berharap agar dagangannya laris dan cepat menggapai kesuksesan. Padahal, proses menjadi pedagang CFD itu sangat panjang dan tidak bisa seinstan yang saya harapkan.

BACA JUGA Serba Serbi Car Free Day: Berolahraga, Tempat Nongkrong, dan Isu Kristenisasi atau tulisan Royyan Mahmuda lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2019 oleh

Tags: berjualancar free dayCFDMinggu pagiolahraga
Royyan Mahmuda Al'Arisyi Daulay

Royyan Mahmuda Al'Arisyi Daulay

Penulis alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

ArtikelTerkait

Hal-hal yang Bisa Kalian Temui di Simpang Lima Semarang, Ikon Indah Kota di Utara sambiroto UMK Semarang

Hal-hal yang Bisa Kalian Temui di Simpang Lima Semarang, Ikon Indah Kota di Utara

7 November 2023
5 Rekomendasi Tempat Jogging di Bogor Paling Strategis. Jadi Makin Semangat Olahraga

5 Rekomendasi Tempat Jogging di Bogor Paling Strategis. Jadi Makin Semangat Olahraga

2 September 2023
Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Materinya Itu-itu Saja, Kenapa Pelajaran Olahraga Tidak Semembosankan PKn?

4 Juli 2020
4 Alasan Guru Olahraga Jadi Idola para Siswa Terminal Mojok

4 Alasan Guru Olahraga Jadi Idola para Siswa

11 Agustus 2022
4 Kolam Renang Terbaik di Jogja Terminal Mojok

4 Kolam Renang Terbaik di Jogja, Cocok buat Main Air Sesekali

2 November 2022
Perlengkapan Olahraga Lari Itu Murah, yang Mahal Istikamahnya Terminal Mojok

Perlengkapan Olahraga Lari Itu Murah, yang Mahal Istikamahnya

20 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026
Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026
Menikmati hari Minggu di Sewon Alternatif wisata underrated Jogja (Unsplash)

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

12 Juli 2026
Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

15 Juli 2026
Di Madura, Biaya Oleh-oleh Haji Hampir Sama Besarnya dengan Biaya Keberangkatannya, Bikin Orang Jadi Enggan Berangkat  

Banyak Orang Madura Mampu Berangkat Haji tapi Nggak Berani karena Harus Beli Oleh-oleh buat Tetangga, Bisa Habis Puluhan Juta!

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.