Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Pencinta WC Jongkok Saat Boker di Bandara Changi Singapura

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
5 Oktober 2020
A A
Pengalaman Pencinta WC Jongkok Saat Boker di Bandara Changi Singapura terminal mojok.co

Pengalaman Pencinta WC Jongkok Saat Boker di Bandara Changi Singapura terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu saya meragukan seonggok pepatah bahwa pengalaman dapat ditemukan di mana saja. Pun, saya hanya geleng-geleng tiap kali motivator menitahkan para pendengarnya untuk mengambil pengalaman dalam tiap kejadian. Kalau semisal kepising yang rasanya sungguh maha sembribit saat naik motor di Ringroad, apa coba pengalaman yang bisa didapat? Namun, semua itu berubah kala saya kedinginan saat transit 12 jam lamanya di Bandara Changi, Singapura.

Pengalaman kala itu menyuruh saya untuk sedia jaket sebelum kedinginan, udara dingin Imogiri ketika malam tidak ada apa-apanya ketimbang pendingin di Bandara Changi. Padahal, sejatinya dingin bisa diromantisasi seperti konten-konten Fiersa Besari. “Dingin memelukku kala Rinjani menjamahku.” Duh, asyu, eh, syahdu.

Lebih dari dua hal itu, percayalah, bagi saya yang masih nyaman boker di Sungai Oyo Imogiri, boker di bandara ini sungguh menegangkan. Lebih menegangkan dari diincar oleh biawak atau ada lumut yang nempel di pantat saat lubang tahi mekar.

Dalam keadaan yang paling nyaman, saya mau bercerita mengenai pengalaman yang bisa kalian petik atau setidaknya saya petik sendiri. Begini.

Transit 12 jam itu seperti beradu dengan maut. Kalau ada uang, saya bisa keluar dan menyewa hotel. Ini boro-boro nyewa hotel, makan saja saya harus hemat sehemat-hematnya hemat biar di tempat tujuan nanti—Laos dan Vietnam—saya masih bisa makan agak enak. Pun nggak semahal makanan di Bandara Changi. Heh, saya kasih tahu, makanan yang bahasanya njlimet, padahal itu hanya nasi udang, mahalnya masya Allah. Pengen jerit. Untung saya sedia pilus sebelum kurus.

Ketika beberapa orang haha hihi dengan santainya, saya justru kedinginan. Babar blasss nggak ada keren-kerennya sama sekali. Bayangkan saja, masa iya kedinginan karena pendingin ruangan. Tapi jika menengok track record saya, di Ambarukmo Plaza saja mata saya merah karena terpapar udara pendingin ruangan. Apalagi ini Bandara Changi, lantai berselimut karpet, udara rasanya seperti Kajor Wetan kala musim penghujan.

Nah, cerita dimulai ketika saya kedinginan. Padahal saya sudah pakai baju rapel tiga. Kaus lengan pendek, lengan panjang, dan hoodie. Tetap saja, dingin puol. Setelah dingin datang, singgahlah gejolak rasa ingin berak. Perasaan ini sungguh menyiksa saya. Di satu sisi saya ingin meringkuk di ruang tunggu, satu sisi lagi ada perasaan yang nggak boleh diganggu gugat. Harus diselesaikan secara cepat dan hormat.

Entah bagaimana ceritanya, para petugas di Bandara Changi menatap saya dengan curiga. Mungkin gerak-gerik saya yang aneh dalam menahan rasa ingin berak. Saya bergegas mendekati mereka, sambil menunjukan boarding pass. “WC ada di mana?” kata saya. Petugas itu menunjuk sebuah mesin dan kami berjalan ke sana. Batin saya, “Kujur! Mosok saya disuruh berak di mesin seperti ini!”

Baca Juga:

WC Duduk Lebih Mengancam dan Menjijikkan, Toilet Umum Terbaik Adalah yang Menggunakan WC Jongkok

Kereta Api Jayakarta, Kereta yang Wajib Dicoba, Cocok buat Introvert yang Kebelet Traveling

Ternyata alat itu semacam peta digital. Menunjukkan di mana lokasi saya saat ini dan di mana lokasi tujuan saya. Canggihnya Bandara Changi, malah bikin saya nggak nyaman. Menekan tombol dan masukan kartu anggota di Trans Jogja saja saya takut salah, apalagi ini. Nggak paham ini faktor penakut atau ndeso. Yang jelas makin metropolitan negara tujuan, biasanya saya semakin takut.

Saya pun berjalan secepat mungkin, ada yang mau keluar, tapi jika saya keluarkan sekarang, saya yakin perasaan saya nggak akan lega. Pikiran saya hanya satu, semoga WC jongkok. Ada rasa yang nggak bisa diledakkan saat harus ngeden dalam keadaan duduk. Ada rasa yang mengganjal jika harus saya paksakan.

Menuju kamar mandi di Changi, ada sesuatu yang unik. Paling menarik adalah terdapat profil petugas kebersihan yang berjaga di dekat pintu masuk. Saya lupa namanya, pokoknya orangnya ini terlihat galak. Ketika masuk, si petugas itu sedang menggunakan alat (saya nggak tahu namanya, seperti mobil gitu).

Degup jantung saya meningkat. Apalagi tatapan mata si petugas selalu mengintai pergerakan saya. Saya trabas saja. Saya masuk ke kamar mandi paling ujung dan… WC duduk. Rasanya saya ingin sujud syukur namun nggak mungkin. Saya berjanji dalam hati, pulang ke Indonesia nanti, saya harus syukuran. Impresi pertama saya, “Sial, kamar mandi di sini lebih mewah dari kos-kosan saya!”

Tanpa menunggu aba-aba, gejolak yang selama di dalam kabin pesawat saya tahan, meledak begitu saja. Saya udah nggak peduli ada yang dengar atau nggak. Bodo amat, nggak kenal ini, kan? Semenit saya bisa tersenyum, dua menit saya mulai keringetan, dan tiga menit kemudian, saya bingung sendiri. Ini gayung dan air di embernya mana, Lur?

Setelah saya amati dengan perlahan, wah, celaka tiga belas! Ini adalah kamar mandi kering. Selama kurang lebih lima menit saya diam dan berkontemplasi. Idealisme saya seakan dipertaruhkan, yakni cebok pakai tisu. Astaga, seumur hidup, terlintas di pikiran untuk jadi PKI memang pernah, namun blas nggak kepikiran untuk cebok pakai tisu. Itu aneh sekali. Takaran bersih menurut saya, belum kena air belum marem.

Setelah memutar otak, teringat wajah menakutkan penjaga kamar mandi di depan sana, saya pun pakai penyemprot yang biasanya menggantung di kamar mandi wangun. Saya nggak tahu namanya, pokoknya bentuknya seperti tembakan. Saya nekat memakai itu, ancang-ancang perlahan dan ceprot! Air nggak kena target yang mau dibersihkan, malah mental ke bawah, air yang menggenang di kloset itu pun berhamburan.

Tanpa menunggu diskusi matang antara hati dan pikiran, saya langsung melunturkan idealisme saya dengan cebok menggunakan tisu. Setelahnya? Lari tunggang-langgang menuju ruang tunggu. Saya nggak tahu bagaimana ekspresi si penjaga itu setelah melihat lantai kloset yang kering, indah, dan bersih, jadi kotor dan basah.

Pun melalui tulisan ini, siapa pun yang kenal atau pernah bertemu dengan petugas kebersihan di kamar mandi daerah Terminal 2, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada blio.

Bandara Changi, ketika sebagian orang meninggalkan kisah hedon dan menyenangkan. Menonton bioskop atau mengunjungi mal yang super mewah itu, saya malah sebaliknya. Saya meninggalkan oleh-oleh bagi Changi yang tidak pernah terpikirkan orang lain sebelumnya. Ya, hamburan tahi yang tumpah dengan cara tidak sengaja.

BACA JUGA 4 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Manchester United dan Ini Serius dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Menghitung Penghasilan Kojiro Hyuga di Juventus

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2020 oleh

Tags: travelingwc jongkok
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Percayalah, Pergi Jauh Tanpa Izin Orang Tua Adalah Ide yang Sangat Buruk

Inilah Rasanya Berdiri di Bus Sepanjang Madiun-Surabaya

28 September 2020
Orang Desa Sepakat Mengatakan Tidak untuk Toilet Duduk, Percaya deh!

Orang Desa Sepakat Mengatakan Tidak pada Toilet Duduk, Percaya deh!

10 April 2023
7 Tips Traveling ke Korea Selatan Terminal Mojok

7 Tips Traveling ke Korea Selatan

10 April 2022
Kota Jayapura Nggak Seudik yang Kalian Kira, Jangan Ngadi-ngadi terminal mojok.co

Kota Jayapura Nggak Seudik yang Kalian Kira, Jangan Ngadi-ngadi

4 Februari 2021
3 Hal yang Perlu Dipahami dari Tips Traveling Low Budget

3 Hal yang Perlu Dipahami dari Tips Traveling Low Budget

25 Februari 2023
pelaku tersangka pembakar mobil via vallen kebakaran mojok.co

Menghitung Waktu yang Dibutuhkan Pembakar Mobil Via Vallen untuk Sampai di TKP

3 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
BEM Unesa Gerombolan Mahasiswa Malas Kerja, Cuma Cari Muka (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

20 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.