Pengalaman Pakai Bionator: Nasib Punya Gigi yang Nggak Rapi dan Langganan Sakit – Terminal Mojok

Pengalaman Pakai Bionator: Nasib Punya Gigi yang Nggak Rapi dan Langganan Sakit

Artikel

Seto Wicaksono

Saya memiliki susunan gigi yang terbilang tidak rapi sejak saya kecil hingga kini menginjak usia dewasa. Saya kurang tahu persis apa sebabnya. Menurut beberapa dokter gigi yang pernah saya temui, kemungkinan besar bisa terjadi karena sewaktu kecil saya tidak rajin gosok gigi. Hal tersebut memang sulit disangkal oleh saya sendiri, sih.

Oleh karena itu, mau tidak mau, suka atau tidak, saya harus menerima dan ikhlas punya susunan gigi yang tidak rapi sampai dengan saat ini.

Kebanyakan orang mungkin akan berpikir sekaligus bertanya, “Ya, kalau memang giginya nggak rapi, kan bisa dipasang behel. Kenapa harus dibikin repot?”

Percayalah. Buat saya, percobaan tersebut sudah hampir pernah dilakukan. Namun, tidak semudah itu. Pasalnya, akibat susunan gigi yang tidak rapi, rahang saya pun menjadi asimetris. Tidak sama rata antara kiri dan kanan. Oleh karenanya, menurut dokter gigi saya kala itu, nggak bisa sembarang dipasang behel. Harus step by step dan harus melalui perawatan terlebih dahulu. Pertama, rahang harus dibuat simetris terlebih. Setelahnya, baru bisa dipasang behel dan fokus merapikan susunan gigi. Dan tentu saja perawatannya tidak sebentar dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Selama satu tahun, saya harus menggunakan bionator, sejenis alat untuk membuat rahang menjadi sama rata. Kalau bisa bionator ini digunakan sesering mungkin. Sebelumnya, bionator tersebut sudah dicetak dan dibuat dengan menyesuaikan bentuk rahang saya.

Cara penggunaan bionator ini dipasang di area mulut selama tidur. Kalau bisa sih, sepanjang hari agar rahang bisa simetris dan kembali pada posisi terbaiknya. Namun, apa daya. Hal tersebut sulit saya lakukan karena terbentur dengan beberapa aktivitas dan pekerjaan yang saya lakoni. Dari sini saja sudah cukup menyiksa. Pasalnya, saat menggunakan bionator, meski akhirnya terbiasa, sensasi pegal di rahang selalu tersisa dan bikin geregetan. Belum lagi perawatan sekaligus pengecekan rutinnya yang menyiksa isi rekening saya.

Sebetulnya, saya sendiri nggak malu memiliki susunan gigi yang tidak rapi, atau rahang yang kurang simetris. Hanya saja, hal ini bikin saya rentan sakit gigi berulang kali karena tiap kali sikat gigi, sulit sekali mencapai sela atau sudut gigi tersempit. Bahkan, pada titik yang paling ekstrim, bisa jadi rahang saya akan sakit karena faktor asimetris tadi. Dan hal tersebut sudah divalidasi oleh dokter gigi saat saya melakukan konsultasi.

Dan benar saja, serajin dan serutin apa pun saya gosok gigi, yang namanya sakit gigi karena gigi berlubang sangat sulit dihindari. Apalagi jika sudah menjalar ke saraf gigi dan mau tidak mau harus melakukan perawatan. Pada saat yang bersamaan, saya suka mangkel sendiri.

Pasalnya, saya hampir selalu gosok gigi yang rajin minimal dua kali. Kumur-kumur dengan ramuan herbal atau penyegar mulut—yang katanya membunuh bakteri dan menjangkau sela gigi—pun sudah saya lakukan. Bahkan, melakukan pengecekan secara berkala ke dokter perihal rahang dan usaha untuk merapikan gigi pun sudah. Lantas, apalagi? Hadeeeh.

Jujur saja, saya selalu khawatir saat gigi sudah mulai terasa ngilu. Karena pilihannya hanya tiga. Pertama, ada lubang baru pada gigi. Kedua, tambalan gigi sebelumnya hancur atau copot. Ketiga, kena saraf dan harus dilakukan perawatan saraf pada gigi.

Sepengalaman saya, poin ketiga sakitnya lebih minta ampun dibanding hanya gigi berlubang. Bukannya mau menyepelekan atau berlomba-lomba dalam rasa sakit, tapi, memang itu yang saya rasakan selama sakit gigi dan/atau penanganan saraf gigi. Selain bikin saya jadi nggak selera makan, beberapa kali, saya dibuat meriang/panas-dingin. Perawatannya pun terbilang lebih mahal dibanding sakit gigi biasa atau sekadar menambal gigi yang berlubang. Betul-betul merepotkan.

Wajar saja jika akhirnya, saat ini saya lebih berhati-hati dalam memilih asupan makanan. Nggak mau yang terlalu manis, dan nggak mau makanan dengan tekstur keras. Khawatir lubang pada gigi bertambah, tambalan rusak, atau lagi-lagi saraf harus sampai dilakukan perawatan. Aduh. Nggak. Nggak banget pokoknya.

Itu kenapa, meski tergolong kambuhan, saya berusaha untuk tetap rajin gosok gigi minimal dua kali sehari. Lah gimana, saya sudah mengusahakan sesuatu saja terkadang sakitnya masih bisa timbul. Apalagi kalau saya malas menjaga kebersihan mulut dan menyikat gigi tiap hari. Apa nggak bikin meriang lagi nantinya?

BACA JUGA Demi Tuhan, Jangan Lakukan Ini pada Orang yang Lagi Sakit Gigi dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Rekomendasi Album Musik Pemacu Adrenalin Penghilang Bosan selama WFH (Bagian 2)
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.