Pengalaman Menikmati Empuk dan Gurihnya Sate Kuda – Terminal Mojok

Pengalaman Menikmati Empuk dan Gurihnya Sate Kuda

Artikel

Muhammad Ikhsan Firdaus

Sebagai penggemar sate, sebisa mungkin saya harus merasakan berbagai jenis varian sate. Setidaknya saya pernah mencoba sate ayam biasa, sate kambing, sate kelinci, sate kerbau, hingga sate gurita.

Rasanya senang sekali, setelah berhasil mencicipi beberapa varian sate yang belum pernah saya coba sebelumnya. Setelah mencicipi varian sate baru, rasanya hidup saya makin komplit.

Sate sendiri memang makanan yang sangat umum bagi masyarakat Indonesia, kita bisa menemukan penjual sate ayam di berbagai tempat. Hanya saja ada beberapa jenis sate, yang cukup sulit saya temukan. Selain sate gurita yang pernah saya temukan secara tidak sengaja, sate yang paling sulit saya temukan selanjutnya adalah sate kuda.

Suatu hari, ibu saya memberi tahu saya, bahwa ada kedai yang menjual sate tersebut di daerah Cikarang Pusat, tepatnya di Ruko Notredame, Deltamas. Jarak kedai tersebut dari rumah saya memang tidaklah dekat, tapi juga tidaklah jauh. Oleh karena masih mungkin dijangkau dengan menggunakan sepeda motor, akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi kedai tersebut.

Tepatnya, Senin senja saya mengunjungi kedai tersebut. Setelah sampai, ternyata kedai tersebut tutup. Ternyata setiap Minggu dan Senin kedai tutup. Ya sudah, esoknya saat senja saya kembali mengunjungi kedai tersebut.

Kedai sate tersebut diberi nama Kedai Sate Bang Yosh. Dalam satu porsinya, total ada sepuluh tusuk sate, harganya sendiri dibandrol dengan Rp43.000. Dengan membeli sate kuda, juga akan diberi air jahe hangat tawar. Oleh karena sepuluh tusuk terlalu banyak untuk dimakan sendiri, saya hanya membeli setengah porsi sate kuda, dan dibungkus.

Sate dipanggang menggunakan pemanggang komersial bermerek Getra. Saat sedang dalam proses pemanggangan, saya penasaran akan alat pemanggang tersebut karena biasanya, penjual sate menggunakan alat panggang tradisional, yang masih menggunakan arang.

“Kenapa manggangnya nggak pake arang aja, Bang?” Tanya saya.

“Iya, biar praktis aja, sih, Bang.” Jawab penjual sate tersebut.

Saya juga penasaran, apakah banyak warga Cikarang yang menggemari sate kuda. Selain itu, saya juga memiliki rasa penasaran sendiri, dari mana kedai tersebut mendapatkan pasokan daging kuda.

“Ini sehari bisa laku berapa tusuk, Bang?” Tanya saya.

“Masih dikit, Bang. Masih baru semingguan buka, masih dikit yang tahu mungkin.” Jawab penjual sate tersebut.

“Kalau daging kudanya sendiri, dapat dari mana sih, Bang?”

“Itu Bos saya yang tahu, Bang.”

Tidak lama saya menunggu, sate kuda saya sudah selesai dipanggang dan dibungkus. Selain sate setengah porsi—lima tusuk—saya juga diberi nasi yang lumayan banyak dan ada sambal. Saya sebenarnya juga ditawari air jahe hangat, tapi saya tidak mengambil air jahe hangat tersebut.

Saat di rumah, saya membuka bungkus sate tersebut. Ternyata sate kuda itu tidak memiliki bumbu tambahan. Tidak ada saos kacang, atau bumbu kecap. Jadi, benar-benar hanya sate polos saja ditambah sambal. Akhirnya, saat yang mendebarkan tiba, saya mencoba sate kuda tersebut.

Awalnya, saya berpikir bahwa sate kuda memiliki daging yang alot atau keras, dan ternyata saya salah. Saya sedikit terkejut dengan tekstur sate itu sendiri. Teksturnya sangat empuk, bahkan dari faktor empuknya saja, rasanya kurang lebih sama dengan sate ayam. Hanya saja, saya merasa sate kuda seperti lebih berserat dan terasa sedikit lebih kering dibandingkan sate ayam.

Kelebihan lainnya yang saya rasakan dari sate kuda adalah tidak memiliki bau. Berbeda dengan sate kambing atau domba, sate kuda tidak berbau. Saat dalam proses pemanggangan pun, saya juga tidak mencium bau aneh-aneh. Asap yang dikeluarkan benar-benar asap panggangan sate biasa pada umumnya.

Nah, rasa dari sate ini sendiri terasa gurih. Perpaduan rasa antara daging kuda dengan bumbu sate itu sendiri benar-benar menggoda lidah. Saya mencocol sate tersebut ke dalam sambal yang diberikan, dan rasanya jadi lebih enak. Sambal yang sangat pedas, bercampur dengan gurihnya sate kuda memberikan pengalaman tersendiri bagi lidah saya.

Oleh karena sate tersebut tidak memiliki bumbu tambahan, jadinya saya sedikit menambahkan kecap pada nasi, alasannya agar nasi yang saya makan sedikit basah. Saat saya makan bersamaan nasi kecap, rasanya juga lumayan menggugah selera. Perpaduan antara gurihnya sate, pedasnya sambal, dan manisnya nasi kecap adalah kombinasi yang sempurna.

Secara keseluruhan, sate kuda bagi saya terasa enak. Walau harganya tergolong cukup tinggi dibandingkan dengan sate ayam atau kambing, tapi tetap tidak masalah, toh rasanya memang enak. Tentu, saya nantinya pasti akan kembali lagi ke kedai tersebut untuk kembali membeli. Tapi, nanti, nabung dulu.

Selain sate kuda, kedai sate tersebut juga menjual jenis sate lainnya. Ada sate sapi juga ada sate kerbau. Jadi, untuk warga Cikarang, yang penasaran silahkan cobain sendiri.

BACA JUGA Rekomendasi Podcast Seru yang Bisa Didengar di Sela-sela Kesibukan dan tulisan Muhammad Ikhsan Firdaus lainnya.

Baca Juga:  4 Alasan Bahasa Sunda Loma Bukan Bahasa Rendahan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
0


Komentar

Comments are closed.