Kecewa
Belum lagi urusan teknis pengambilan yang justru bikin kecewa sendiri gara-gara pesan via WhatsApp sehari sebelumnya. Rencana awal, saya ingin mengambil pesanan pukul tujuh tepat. Tapi karena urusan rumah beres lebih cepat, saya nekat meluncur ke gerai pukul setengah tujuh.
Sesampainya di sana, kantong plastik bening yang terikat ujungnya dengan berisi pesanan saya memang sudah siap. Sialnya, Roti Subuh hanya ditata di dalam kotak terbuka tanpa penutup. Akibatnya, permukaan atas salah satu roti saya jadi bersentuhan langsung dengan bagian bawah kotak roti lain yang menumpuk di atasnya. Entahlah, secara standar kebersihan, cara packing seperti itu rasanya agak kurang layak.
Apesnya lagi, dua buah Roti Subuh pesanan saya itu sudah terlanjur dingin. Kemungkinan besar karena memang sudah disiapkan jauh-jauh waktu sebelum saya datang. Kalau dipikir-pikir, sepertinya bakal jauh lebih bijak kalau datang langsung dan beli on the spot. Barangkali, saya bisa menikmati sensasi roti yang masih mengepul hangat baru keluar dari oven, yang mungkin bakal bikin lelehan cokelatnya bekerja sesuai imajinasi.
Satu poin plus yang tersisa adalah meski sudah dingin dan terpapar angin luar, tekstur rotinya terbukti nggak jadi keras sama sekali. Tapi, kalau harus disuruh mengorbankan waktu tidur demi bangun kepagian dan mengantre demi roti bersuhu ruang, maaf saja, saya pilih mundur. Sepertinya, takdir lidah saya memang bukan berada di lingkaran penggemar setianya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Roti Tan Ek Tjoan, Rasa dari Masa Lalu yang Boleh Diadu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














