Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Masa Kecil Bikin Saya Gugup Datang ke Hajatan Mewakili Orang Tua

Ahmad Maghroby Rahman oleh Ahmad Maghroby Rahman
4 Februari 2021
A A
Pengalaman Masa Kecil Bikin Saya Gugup Datang ke Hajatan Mewakili Orang Tua
Share on FacebookShare on Twitter

Datang ke hajatan, entah itu pernikahan atau arisan pengajian, adalah hal menyenangkan bagi saya di masa kecil. Selain bisa makan hidangan yang jarang ada di rumah seperti sate gulai atau rawon dan membawa pulang berkat, saya juga senang menonton hadrah dan qasidah yang biasanya mengisi acara. Tapi, itu tidak berlaku lagi saat saya beranjak dewasa dan dianggap pantas untuk mewakili orang tua datang hajatan. Datang ke hajatan untuk pertama kalinya merupakan hal yang mengkhawatirkan, apalagi bagi saya yang jarang bersosialisasi di lingkungan rumah dan seorang overthinker ulung.

Saya sendiri termasuk orang yang sangat gugup untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumah. Entahlah, mungkin karena pengalaman masa kecil. Hingga kelas 4 SD, saya adalah anak rumahan yang rajin dan teratur. Pagi pergi sekolah, sore mengaji TPQ, lanjut mengulang membaca iqro’ sehabis salat magrib, kemudian belajar dan tidur. Tidak ada acara main di sungai, mencari jangkrik di bukit, dan apatrol (membangunkan sahur) bersama teman-teman. Bahkan, sampai kuliah pun, saya masih belum bisa menerbangkan layangan. Ya boleh dibilang hingga kelas 4 SD saya cupu. Dan tentu, anak cupu jadi sasaran anak-anak yang tidak cupu. Apalagi saya adalah cucu seorang ajjhi (Haji) sekaligus imam dan guru ngaji anak-anak tidak cupu tadi. Perlu diingat, guru ngaji adalah musuh bebuyutan anak-anak nakal itu.  Artinya, cucunya juga otomatis dimusuhi. Maka, hilanglah sebagian masa kecil saya untuk berbuat kenakalan yang wajar dilakukan waktu itu.

Tapi beruntung, saat kelas 5 SD, seorang teman sekolah pindah ke daerah tempat tinggal saya. Namanya Iqbal. Dia ternyata gampang berteman dengan bocah lain. Dialah yang menjadi perantara saya untuk bergaul. Sejak saat itu, saya mulai bisa melakukan kenakalan khas bocah seumuran saya. Mandi di sungai, mencuri mangga masjid untuk dirujak dengan Masako saat Tarawih, menyumat petasan di rumah orang dengan modus apatrol, main bola di alun-alun saat minggu pagi, dan sudah tentu acarok.

Sayangnya, masa kecil yang menyenangkan itu hanya berlangsung dua tahun, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mondok saat SMP. Setelah lulus SMP, saya tidak mondok lagi dan masuk SMA Negeri. Walau begitu, saya sudah tidak bergaul lagi dengan teman kecil saya atau tetangga rumah. Saya justru bergaul dengan teman SMA. Begitu juga saat sekarang berkuliah.

Barangkali, pengalaman itulah yang membuat saya selalu gugup saat pertama kali mewakili orang tua datang ke hajatan atau arisan pengajian di sekitar rumah. Ini tentu berbeda dengan teman-teman lain, yang bahkan sejak SMP sudah terbiasa datang pada acara-acara seperti itu.

Hal yang pertama saya khawatirkan, bahkan sejak masih di rumah, adalah bagaimana saya harus menghadapi orang-orang yang datang pada hajatan itu. Saya selalu overthink orang-orang akan mengomentari kehadiran saya. “Oh, ini yang ndak pernah bergaul sama orang-orang”, “Mahasiswa kok gak memasyarakat”, dan komentar-komentar lain yang semacam itu. Tentu saya sadar itu hanya pikiran saya dan tidak mungkin orang-orang akan berbicara seperti itu.

Selain itu, saya juga termasuk orang yang sangat kaku dan kikuk untuk berinteraksi kembali dengan orang yang dulu pernah akrab, tapi kemudian tidak pernah berkomunikasi lagi. Maka, hal selanjutnya adalah bagaimana harus menyapa kembali teman-teman kecil saya, bagaimana saya harus memulai obrolan dengan mereka.

Saya juga khawatir asing di antara orang-orang, khawatir tidak bisa nimbrung perbincangan basa-basi sebelum atau setelah acara. Bingung mau memulai obrolan bagaimana dengan orang yang sudah persis duduk di sebelah, apalagi yang duduk pas di depan berhadapan. Saya juga bingung saat bersalaman dengan tuan rumah yang biasanya menyambut di kanan dan kiri. Saya harus menyalami yang mana dulu. Bahkan, saya juga bingung mau membungkuk penuh atau setengah bungkuk saat bersalaman. Atau sekadar harus mengeluarkan gumaman atau tersenyum bagaimana sembari bersalaman, saya pun bingung.

Baca Juga:

Realitas Pahit di Balik Hajatan: Meriah di Depan, Menumpuk Utang dan Derita di Belakang

Derita 3 Tahun Bertetangga dengan Pemilik Sound Horeg, Rasanya seperti Ada Hajatan Tiap Hari

Belum lagi kalau ada bacaan yang tidak familier dengan saya dibaca oleh ustaz. Saya pasti akan hanya bergumam tidak jelas untuk menghilangkan tengsin. Dan sudah barang tentu, sebagai overthinker ulung, saya juga akan berprasangka orang-orang berkata dalam hatinya, “Oh, ini orang baru. Dasar!” Nah, itu adalah hal yang juga saya takutkan, dianggap orang baru. Entahlah, mungkin aneh. Tapi setidaknya itu yang saya rasakan.

BACA JUGA Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI dan tulisan Ahmad Maghroby Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2021 oleh

Tags: Hajatanmasa kecil
Ahmad Maghroby Rahman

Ahmad Maghroby Rahman

Mahasiswa Antropologi, suka menulis esai dan puisi.

ArtikelTerkait

3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan Terminal Mojok

3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan

27 Juli 2022
Berusaha Memahami Hobi Sound System yang Terlanjur Dibenci Banyak Orang Mojok.co

Berusaha Memahami Hobi Sound System yang Terlanjur Dibenci Banyak Orang

17 November 2023
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Realitas Pahit di Balik Hajatan: Meriah di Depan, Menumpuk Utang dan Derita di Belakang

6 November 2025
10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul Terminal Mojok.co

10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul

23 Maret 2022
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu  

29 Oktober 2024
3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

28 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026
Niatnya Hemat Kos Murah, Malah Dapat Kamar Bekas Aborsi (Unsplash)

Demi Hemat Ratusan Ribu, Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi

12 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

12 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.