Pengalaman Jadi Maskot: Walau Malu dan Gerah tapi Bikin Bahagia – Terminal Mojok

Pengalaman Jadi Maskot: Walau Malu dan Gerah tapi Bikin Bahagia

Artikel

Tazkia Royyan Hikmatiar

Suatu hari saya pernah dapat uang beasiswa kuliah dari sebuah lembaga zakat. Nggak ada perjanjian timbal balik dari uang beasiswa itu. Cuma, saya dan beberapa orang lain yang dapat uang beasiswa serupa dimasukkan dalam satu grup yang kalau ada suatu event dari lembaga tersebut, pasti diinfokan di sana. Informasi event itu nggak sekadar informasi, kadang mereka juga ngajak kami buat ikut kontribusi, walaupun nggak dipaksa.

Kami boleh pilih ikut atau nggak. Kalau nggak bisa banget ikut juga nggak apa-apa. Akan tetapi, tentu saya merasa nggak enak kalau selalu nggak bisa ikut bantuin acara mereka. Meski nggak punya tanggungan terikat untuk berkontribusi kepada lembaga itu, saya tetap merasa perlu seenggaknya memberi tanda terima kasih. Akhirnya saya ikut bantu suatu pameran di Jogja Expo Center. Kebetulan lembaga itu dikasih jatah buat mendirikan stand di sana.

Ada beberapa pekerjaan yang ditawarkan buat kami bantu. Mulai dari yang bagikan brosur sekalian ngajak buat zakat atau infak di situ. Ada yang ngomong pakai mic buat ngajak orang masuk ke stand, jadi penjaga stand, sampai jadi maskot yang pakai kostum kebanggaan lembaga itu. Sialnya, waktu itu saya nggak bisa pilih pekerjaan lain selain jadi maskot, soalnya pekerjaan lain udah terisi semua kuotanya.

Sebelum pakai kostum maskot itu, saya termenung cukup lama. Lalu, saya lihatin kostumnya yang gede dan tebal banget. Meski saya tahu kalau pakai kostum itu nggak akan ada yang kenali saya, tapi tetap aja rasanya tuh malu banget. Saya tahu kerjaan itu nggak seharusnya bikin malu, tapi ya gimana lagi, emang gitu yang saya rasakan. Terserah kalau kamu bilang saya belagu. Saat asyik termenung, tetiba ada yang panggil saya dari belakang, “Mas…,” sapanya. Saya langsung nengok. “Iya, Mbak?”

Si Mbak itu mempersilakan saya ke toilet buat buka baju dan pakai kostumnya. Hah? Saya kaget dong, kenapa harus buka baju? Sama halnya kayak malu pakai kostum itu meski orang nggak akan tahu itu saya. Nggak pakai baju dan pakai kostum meski orang nggak lihat saya, juga tetap terasa malu. Si Mbaknya kemudian bilang kalau pakai kostum maskot itu katanya gerah banget, makanya dia sarankan buat buka baju.

Akan tetapi, lagi-lagi pilihan itu akhirnya diserahkan pada saya. Sebab merasa malu, saya menolak buat buka baju, jadi langsung aja dipakai kostum itu dengan pakaian lengkap. Namun, seperti yang digambarkan si Mbak, pakai kostum itu, sumpah, gerah banget! AC yang ada di ruangan itu nggak sedikit pun terasa.

Saya meneguhkan hati. Biarin, ini sudah keputusan saya. Kan malu kalau tetiba buka kostum lagi, terus lari ke toilet buat buka baju. Si Mbaknya sudah pasti blacklist saya dari daftar cowok yang setia kalau saya lakukan itu. Lhawong konsisten pada keputusan diri sendiri aja nggak bisa.

Saya mulai melangkahkan kaki ke samping stand. Beberapa menit cuma berdiri mematung, dalam hati saya bilang, “Woi, kau bukan patung, tapi maskot hidup. Woi, sadar, woi.” Saya mulai menarik napas dalam-dalam. Lihat sekeliling dan menemukan teman lain yang pakai kostum maskot juga mulai melakukan aksinya. Dia bahkan udah keliling-keliling ke luar dari stand. Setelah mengamati itu, saya akhirnya mengalami perkembangan.

Nggak hanya berdiri mematung, saya mulai melambaikan tangan. Udah segitu aja perkembangannya. Saya kemudian ingat-ingat maskot yang suka ada di jalan-jalan sambil ngamen. Membayangkan itu saya malah geleng-geleng kepala. Saya merasa nggak mungkin niru mereka yang percaya diri joget-joget di depan lampu merah. Tapi, saya nggak bisa cuma lambai-lambai tangan. Pasalnya, orang nggak akan jadi tertarik datang ke stand saya.

Setelah membulatkan tekad untuk mempersembahkan rasa terima kasih kepada lembaga zakat itu, saya akhirnya mulai memberanikan diri buat melenggok-lenggokkan pinggang. Ampun… segitu aja udah malu setengah mati. Lha wong saya kalau denger musik dangdut biasanya cuma bisa goyangin jari. Sebisa mungkin saya enyahkan rasa malu itu. Saya menafikan diri saya sendiri. Saya meniadakan diri saya sendiri. Di dalam kostum maskot itu bukan saya, tapi maskot itu sendiri. Maskot itu yang hidup.

Dengan berpikir begitu, saya akhirnya mulai jalan-jalan ke luar stand. Selain melambaikan tangan, melenggak-lenggokkan pinggang, saya juga mulai memperagakan gaya sok imut lain khas anak alay di medsos. Beberapa detik saya memiringkan kepala ke kanan atau ke kiri. Di waktu lain saya menempelkan kedua telapak tangan di dagu. Dengan melakukan itu, orang-orang akhirnya mulai berdatangan, beberapa minta foto sama saya, eh bukan, maksudnya sama maskotnya.

Kalau aja orang-orang itu tahu, waktu saya melakukan pose-pose imut itu sesungguhnya muka saya sedang masam. Namun, pada akhirnya saya senang waktu ngelayanin mereka yang ngajak foto bareng atau ngajak salaman anak kecil. Melihat mereka bahagia cuma dengan hal seremeh itu, membuat saya tersanjung dan sebentar aja bisa lupain betapa panasnya berada di dalam kostum itu.

Bagi saya, nggak ada kerjaan yang lebih baik daripada kerja yang dapat menciptakan kebahagiaan buat orang lain. Dan kerja-kerja membahagiakan orang lain ternyata selalu bisa dilakukan dengan hal-hal kecil semacam jadi maskot.

Dengan pengalaman itu, saya merasa perlu lebih menghargai mereka yang bekerja untuk menghibur orang. Saya kadang selalu merasa paling berjasa ketika ngasih uang receh ke mereka yang jadi maskot di jalan-jalan. Padahal, udah sewajarnya mereka menerima itu, bahkan mungkin lebih. Sebab, mereka juga kasih kita kebahagiaan-kebahagiaan kecil saat melihatnya. Bukankah begitu?

BACA JUGA Pengalaman Nggak Enak Saat Kerja Jadi Marbot Masjid dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Baca Juga:  Para Tokoh Terkenal Saja Ada yang Tidak Kawin, Kenapa Kita Harus?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.