Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Horror Menjelang Nikah: Ketemu ‘Sugar Daddy’

Ila Nuraeni Badriyah oleh Ila Nuraeni Badriyah
9 Juni 2020
A A
sugar daddy
Share on FacebookShare on Twitter

Momen pesta pernikahan adalah momen yang paling nggak bisa dilupakan. Berbagai drama menjelang hari H pernikahan tentu seru buat diceritakan. Mulai dari godaan mantan, cekcok sama pasangan, masalah keuangan sampai campur tangan keluarga besar yang menguji kesabaran.

Horror yekan??

Selain kesabaran kita sebagai calon pengantin yang diuji, nampaknya drama-drama menjelang pernikahan hadir untuk menguji sejauh mana keyakinan kita memasuki fase kehidupan yang baru. Rasanya itu yang dapat saya ambil dari pengalaman ‘horror’ satu minggu menjelang pernikahan yang diingatkan lewat coretan kecil di belakang buku catatan kuliah dulu.

Beberapa waktu lalu, iseng buka buku catatan tersebut. Niat awalnya buat baca catatan tentang ‘complexity‘ dan ‘chaos‘, eh tapi coretan di halaman belakang buku kok lebih menarik buat dibikin tulisan yak. Huehehe …

Berikut kutipan coretan yang ditulis dengan perasaan getir tersebut:

“Sooo … a week to my wedding, I met a man, an old man, who proudly told his love experience with a very young girl, his supervisee. Why in the world I have to listen to such story, a week to my wedding?”

Baca coretan itu saya bingung sendiri, berusaha keras buat mengingat cerita di baliknya.

“A man? An old man?”

Baca Juga:

Menghitung Biaya Lamaran Kekinian: Butuh Berapa Duit, ya?

Stop Menjelaskan Sensasi Naik Gunung pada Mereka yang Skeptis

Kapan saya ngobrol sama kakek-kakek di kampus kalau bukan sama dosen-dosen kami yang memang kebanyakan sudah sepuh?
Itu pun untuk kepentingan bimbingan. Lagipula mereka sosok-sosok yang berwibawa. Mana berani saya yang anak bawang ngobrol macam-macam sama beliau-beliau.

“A week to my wedding?”

Di sini saya mulai menemukan titik terang siapa old man yang dimaksud.

Jadi, seminggu menjelang pernikahan saya masih sibuk ngampus buat bimbingan thesis. Kuliah di program Pascasarjana di salah satu universitas swasta yang jadi favorit bapak ibu senior yang karirnya sudah mapan, saya tergolong anak bawang. Kebanyakan teman sekelas seumuran dengan om, tante dan bahkan orang tua saya. Meski ada beberapa juga yang seangkatan.

Di hari dengan pengalaman horror itu, saya sedang menunggu giliran konsultasi dengan dosen pembimbing yang merupakan seorang Profesor.
Menyetor revisi bab-bab akhir. Ngejar acc untuk sidang supaya pas nikah udah lega. Maksudnya sih gitu.

Sebagai mahasiswa yang dibimbing Prof. tersebut, saya nggak sendiri. Mahasiswa bimbingannya banyak, termasuk mahasiswa estiga alias doktoral. Kalau lagi nunggu giliran, sebagai sesama mahasiswa bimbingan ya suka tegur sapa basa-basi.

Kalau sama ibu-ibu saya senang karena berasa ada teman. Sama bapak-bapak beda lagi dong ya, harus jaga jarak. Harus social and physical distancing takut terpapar virus Cupid. Amit-amit dah. Namun, kemalangan tak bisa saya hindari di hari itu.

Seorang bapak-bapak tua yang sudah sewajarnya dipanggil kakek dengan tampilan bersahaja duduk di samping kanan saya. Awal mula kami saling memperkenalkan diri sebagai mahasiswa bimbingan dosen yang sama. Beliau sedang menyelesaikan kuliah doktoralnya.

Kemudian beliau bercerita tentang jabatan strategisnya di salah satu kampus swasta di salah satu kota besar di Jawa Barat. Nggak saya sebutkan karena emang lupa wkwkw. Saya manut-manut aja, sesekali menjawab dengan senyum padahal dalam hati menangis. Nggak sabar nunggu pintu ruang dosen pembimbing terbuka biar saya cepat dapat acc.

Entah dari mana nyambungnya, obrolan berubah haluan jadi ngobrolin mahasiswi beliau. Saya nggak ingat sepenuhnya cerita menggelikan tersebut, tapi kurang lebih begini ceritanya.

Beliau punya mahasiswi, sebut saja dia Neti (nama panjangnya Netijen). Nama aslinya nggak saya sebut karena emang lupa. Huehehe. Neti ini katanya seorang mahasiswi bimbingannya yang secara visual menarik. Selain itu, supel dan pemberani. Bagian ini interpretasi saya dari cerita sang old man. Usianya, hitung sendiri aja ya rerata usia mahasiswi undergraduate. Dia berani mengajak sang old man pergi ke tempat wisata perusahaan yang identik dengan produk minuman berbahan baku susu.

Katanya di sana mereka selfie-selfie. Semoga fotonya nggak di-crop ya, Pak. Hiks. Cerita berlanjut ke bagian mereka janjian jalan di mall.
Sementara itu pintu ruang dosen pembimbing saya belum juga terbuka. Mau melipir takut antrian bimbingan diambil orang. Ya udah lanjut deh dengerin cerita sang old man (((dengan getir dan terpaksa))).

“Saya waktu itu ditelpon buat datang ke Mall X nemenin dia. Saya datang diantar supir. Sampai di sana saya celingak celinguk nyari dia. Nggak lama dia nyamperin ngagetin saya… ”

Sampai sini jadi kebayang adegan ftv. Eh kok ceritanya jadi bikin penasaran ya? Kebayang nggak sih mahasiswi muda jalan sama kakek-kakek.
Mereka kira-kira mau ngapain belanja apa?? Kalo ke foodcourt pesannya menu apa? Terus kira-kira nanti bakal ke-gap sama orang yang kenal mereka nggak?

Sambil ngeri-ngeri sedap, saya nunggu lanjutan ceritanya.

“Abis itu dia ngajak saya jalan-jalan ke lantai atas …”

“Krieeet” pintu ruang dosen pun terbuka. Antara merasa lega tapi kentang deh sama ceritanya. Eh gimana?

“Mari, Pak. Sudah boleh masuk.” Saya pamit ijin konsul duluan.

Dari pengalaman horror tersebut, awalnya saya jadi punya pikiran kalau di usia berapa pun kok kayaknya laki-laki bakal dapat kesempatan puber lagi setelah menikah. Tapi bersyukur nggak sampai kepikiran buat batalin nikah. Saya percaya masih banyak laki-laki setia karena salah satunya ada dalam hidup saya, yaitu Bapak dan semoga pak suami juga. *ngasah kunai di pojokan

Belakangan saya juga jadi tahu istilah untuk menyebut laki-laki tua yang punya affair dengan perempuan yang usianya jauh lebih muda itu adalah sugar daddy.

Ehm, sugar daddy, sih. Tapi monmaap udah nggak sueger, Pak.

BACA JUGA Kata Ibu, Umur Rawan Selingkuh Usia 31, 35, dan 45 Tahun atau tulisan Ila Nuraeni Badriyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Juni 2020 oleh

Tags: cerita pengalamanpengalaman menjelang pernikahansugar daddy
Ila Nuraeni Badriyah

Ila Nuraeni Badriyah

Emak introvert yang hobi baca buku, baca tingkah laku serta baca situasi dan kondisi.

ArtikelTerkait

8 Rekomendasi Film yang Wajib Ditonton para Pencinta Gunung

Stop Menjelaskan Sensasi Naik Gunung pada Mereka yang Skeptis

2 Desember 2019
Menghitung Biaya Lamaran Kekinian Butuh Berapa Duit, ya Terminal Mojok

Menghitung Biaya Lamaran Kekinian: Butuh Berapa Duit, ya?

8 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Perlu Capek-capek Saingan sama Surabaya, Cukup Perbaiki Jalan yang Lubangnya Bisa Buat Ternak Lele Saja Kami Sudah Bersyukur!

24 Februari 2026
4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Cocok Jadi Suguhan saat Lebaran Mojok.co

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Nggak Mengecewakan dan Cocok Jadi Suguhan Lebaran

26 Februari 2026
Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja Mojok.co

Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja

22 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.