Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Sapa Mantan

Pengalaman Diputuskan Mantan Kekasih Karena Belum Diterima di Kampus Negeri

Yasa Ekadanta oleh Yasa Ekadanta
14 Juli 2019
A A
mantan kekasih

mantan kekasih

Share on FacebookShare on Twitter

Tepat sembilan tahun yang lalu, saya diputuskan oleh seorang kekasih dengan alasan orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami. Mengapa? Ya macam-macam. Mulai dari sifat kami yang katanya beda hingga latar belakang keluarga.

Kemudian, saya hidup dengan mempercayai hal itu, menderita bertahun-tahun. Sampai kemudian ibunya meminta saya menjadi teman di media sosial dan memberi beberapa komentar di unggahan saya. Bukan, bukan komentar jahat macam peran-peran mertua Leily Sagita, melainkan komentar hangat bak seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tak bersua.

ADVERTISEMENT

Semua orang waras tentu tahu, bahwa seorang ibu atau ayah yang tak suka dengan pacar anaknya, tak akan pernah mau menjalin hubungan baik dengannya. Kecuali mungkin, tiba-tiba pacarnya ini berubah jadi cakep maksimal, kaya maksimal, dan juga jadi presiden. Namun, hidup saya ya masih begitu-begitu saja. Miskin tidak, tetapi tidak menonjol sekali. Bukan seseorang yang akan membuat calon-calon mertua berubah pikiran. Jadi, apakah ini?

Setelah melewati renungan malam beberapa hari, ditambah dengan kepala yang berat akan kenangan, saya jadi paham akan satu hal: saya ditinggalkan karena dulu belum dapat kampus negeri. Saya lulus kampus negeri di saat-saat kritis. Ibaratnya, hanya doa orangtua saja yang bisa membuatmu lolos. Di zaman saya dulu, belum ada sistem ujian duluan, lalu masuk kampus duluan. Pada saat itu, kampus-kampus negeri begitu rakus mencari uang puluhan hingga ratusan juta lewat jalur ujian mandiri yang dibuka berkali-kali.

Bukan hanya nilai tes, yang mempengaruhi kelolosanmu adalah besar-kecilnya uang pangkal yang kamu masukkan saat melakukan pendaftaran daring. Saya sampai bingung: ini tes kampus negeri, atau lelang rumah? Namun begitulah faktanya dan saya harus hidup melewati hal itu. Mantan kekasih saya yang lumayan kaya dan sangat rajin itu sudah bisa masuk ke salah satu kampus terbaik negeri dengan mulus. Bayar puluhan juta tidak masalah. Toh katanya, kepintaran tetap dinilai. Katanya, sih.

Di masa-masa sulit itu, saya begitu tertekan mengikuti berbagai macam ujian mandiri. Kalau ditotal, uang pendaftaran yang saya keluarkan mungkin setara dengan uang semesteran. Bayangkan saja, kalau satu kampus negeri mematok uang pendaftaran sebesar seratus lima puluh ribu rupiah sampai dua ratus lima puluh ribu rupiah, sudah berapa banyak uangmu yang hilang apabila ada sepuluh kampus negeri yang kamu daftar?

Memang benar kata orangtua saya dulu. Masuk ke kampus negeri tidak selamanya menjamin kalau kamu pintar. Banyak yang masuk karena beruntung, pintar memilih jurusan yang tak banyak saingan, punya kenalan, dan tentu punya uang banyak. Itu dulu. Sekarang, semoga lebih baik.

Ah, kembali lagi ke mantan kekasih saya itu, intinya, dia begitu kesal dan menyalahkan saya yang tak kunjung masuk ke kampus negeri. Katanya, saya salah strategi, salah belajar. Padahal, saya sudah melahap banyak buku kisi-kisi ujian mandiri dan SNMPTN (sebelum namanya berubah jadi SBMPTN).

Baca Juga:

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

Nekat Gap Year demi Jurusan Manajemen. Sempat Bingung, Kini Bersyukur karena Bisa Kuliah di Tempat Idaman, Lulus Tepat Waktu, dan Dapat Kerja Layak

Suatu hari, saat saya datang ke kota barunya, kota tempatnya akan menuntut ilmu, untuk mendaftar di kampus negeri di kotanya, dia pun bilang bahwa dia amat sayang pada saya. Segala kata, senyuman, sentuhan, semuanya itu merupakan tanda bahwa cintanya pada saya belum tergerus. Itu adalah hal yang kemudian menyemangati saya untuk bisa masuk ke kampus negeri di kota yang sama dengannya. Ah, cinta. Cinta adalah bahan bakar, bukan?

Namun, keesokan harinya, usai saya merampungkan tes, dia bilang pada saya—ibuku kayaknya nggak setuju deh sama hubungan ini. Ouch, sampailah saya pada titik terendah kehidupan. Belum tahu harus kuliah di mana, pacar memutuskan dengan alasan eksternal, dan uang makin menipis karena mendaftar ke mana-mana. Itulah saat terakhir saya bertemu dengannya.

Beberapa bulan setelahnya, saya diterima di kampus negeri. Selang satu minggu setelah saya menuliskan nama kampus saya di biodata Facebook—eh, dia mengirim pesan, ‘hai, gimana kabarmu, selamat ya, kamu sudah diterima di universitas xxx. Sudah cari kos?’

Rasa cinta saya kepadanya masih besar, tetapi itu sebanding dengan rasa sakit hati diputuskan mendadak. Saya hanya jawab, ya, baik, sudah. Tidak ada pertanyaan terbuka untuknya. Dan dia, saya rasa tahu bahwa itu merupakan bentuk penolakan. Untung—atau sedihnya—kami berkuliah di kampus yang berbeda, menjalani studi di jurusan yang nuansanya bertolak belakang, dan hingga kini, bekerja di bidang yang sama sekali tidak berhubungan. Seperti kata Kahitna dalam lagu Mantan Terindah—engkau di sana, aku di sini.

Kalau saja saya berkuliah di kota yang sama dengannya, mungkin sulit bagi saya untuk pindah hati alias move on. Akan sangat menyakitkan menjalani hubungan dengan orang yang, kalau dipikir dengan nalar, ternyata mendewakan hal-hal bersifat akademis semacam itu. Ya, setelah tak lagi cinta dengannya dan setelah berteman dengan ibunya, saya baru berpikir kalau mantan kekasih saya ini tipikal orang yang menilai orang lain hanya dari kampusnya, jurusannya, nilai rapornya, dan kalau perlu nilai NEM.

Dan saya tidak menyesal sih, putus dengan dia. Karena sebagai manusia, kok saya merasa kesal apabila nilai diri saya cuma diasosiasikan dengan kelulusan di kampus negeri. Ini lebih menyakitkan daripada tidak diterima sama sekali, bukan?

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: diputusinkampus negeriMantan KekasihPengumuman SBMPTNsbmptn
Yasa Ekadanta

Yasa Ekadanta

ArtikelTerkait

Pengumuman SBMPTN 2021 di Depan Mata, Berikut Etika yang Perlu Kamu Jaga Jika Dinyatakan Lolos SBMPTN terminal mojok

Pengumuman SBMPTN di Depan Mata, Berikut Etika yang Perlu Kamu Jaga Jika Dinyatakan Lolos SBMPTN

14 Juni 2021
FBS UNY Berubah Menjadi FBSB Adalah Kesalahan Besar (Unsplash)

Perubahan FBS UNY Menjadi FBSB Menghilangkan Banyak Hal yang Membuat Kampus Terasa Asing dan Tidak Punya Jiwa

4 Maret 2024
Universitas Terbuka, Kampus Negeri yang UKT-nya Tidak Kenal Sistem Golongan, Banyak Beasiswa Pula! Mojok.co

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

9 Juli 2026
Salah Kaprah Masyarakat Terkait Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang Bikin Mahasiswa Menderita

Salah Kaprah Masyarakat Terkait Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang Bikin Mahasiswa Menderita

16 Februari 2024
Untidar, Kampus Negeri Nggak Terkenal di Magelang yang Layak Diperhitungkan

Untidar, Kampus Negeri Nggak Terkenal di Magelang yang Layak Diperhitungkan

11 Juni 2025
Perubahan Sistem Seleksi Masuk PTN: Niat Baik yang Keliru

Perubahan Sistem Seleksi Masuk PTN: Niat Baik yang Keliru

9 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Madura, Biaya Oleh-oleh Haji Hampir Sama Besarnya dengan Biaya Keberangkatannya, Bikin Orang Jadi Enggan Berangkat  

Banyak Orang Madura Mampu Berangkat Haji tapi Nggak Berani karena Harus Beli Oleh-oleh buat Tetangga, Bisa Habis Puluhan Juta!

10 Juli 2026
Pelajaran mahal bisnis rumahan di Surabaya biar cepet balik modal (Unsplash)

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

13 Juli 2026
Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

12 Juli 2026
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

13 Juli 2026
Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia Mojok.co

Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia

12 Juli 2026
Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.