Saya kira jalan di Lamongan itu udah buruk banget. Tapi begitu melintasi Jombang, saya malah bersyukur
Sebagai warga yang tumbuh dan besar dengan kepungan jalur Pantura Lamongan, saya punya daftar panjang keluhan soal infrastruktur jalan raya. Saban hari, kami warga Lamongan disuguhi atraksi jalan berlubang, aspal bergelombang bekas gilasan truk tronton, hingga proyek tambal sulam yang sangat mengganggu perjalanan.
Mengkritik jalanan Lamongan sudah seperti “bernapas” saja bagi kami. Rasanya, tidak ada kabupaten lain yang kondisi jalannya lebih bikin cenut-cenut dibanding daerah saya sendiri. Sampai akhirnya, saya berkendara menyusuri wilayah Jombang. Mulai dari perbatasan Mojokerto, daerah kota, sampai perbatasan Kediri.
Pengalaman melintasi jalanan di kabupaten tetangga itu seketika memberikan benturan realitas yang cukup hebat. Begitu roda kendaraan melindas beberapa ruas jalan di Jombang, terutama jalur-jalur penghubung antar-kecamatan dan akses pinggirannya, pikiran saya langsung mengalami pergeseran paradigma yang cukup radikal.
Iya, ternyata, jalanan di Lamongan rasanya jadi tidak buruk-buruk amat gara-gara melihat kondisi jalanan di Jombang.
Momen suudzon yang berpindah kabupaten
Selama ini, saya memang sering terjebak dalam bias domestik. Sering mengira jalan Lamongan adalah yang paling merana sejagad raya. Tapi ketika meluangkan waktu untuk motoran ke area Jombang, saya bahkan tidak menemukan jalan mulus sama sekali.
Kalau di Lamongan lubang jalannya masih punya pola yang “agak tertebak” karena mayoritas efek beban truk barang, jalanan di beberapa titik Jombang menyajikan kejutan tak terduga, aspalnya seperti terkelupas secara acak, meninggalkan permukaan tanah kasar dan batu akik yang mencuat liar.
Saya bahkan kaget ketika shockbreaker yang biasanya santai, di Jombang malah dipaksa bekerja ekstra keras sampai sering mengeluarkan bunyi “jedug” selama perjalanan. Benar-benar aneh pikir saya.
Jika dibandingkan, kalau di Lamongan kamu masih bisa bermanuver menghindari lubang karena jarak antar-lubang masih agak manusiawi, di beberapa ruas Jombang, kamu tidak punya opsi untuk menghindar. Sebab, seluruh permukaan jalan itu sendiri adalah lubang yang kebetulan diberi sisa-sisa aspal. Edan memang.
Standar jalan rusak yang berubah
Pengalaman pahit di jalanan Jombang itu sukses menampar ego saya secara drastis. Dan ketika akhirnya kendaraan saya kembali melintasi tugu batas wilayah dan memasuki gerbang Kabupaten Lamongan, ada rasa lega yang aneh melingkupi dada. Jalanan Lamongan yang biasanya saya maki-maki setiap pagi, hari itu mendadak terasa sedikit lebih bersahabat.
Memang, jalan di Lamongan tetap saja tidak bisa dibilang mulus banget. Di depan rumah saya juga masih bergelombang, beberapa titik masih rawan lubang, dan kalau hujan deras ya tetap ada genangan.
Tapi setidaknya, struktur jalannya masih terasa lebih konsisten. Artinya apa? Keburukan itu ternyata sangat relatif. Kualitas jalanan Lamongan yang selama ini berada di kasta rendah dalam benak saya, mendadak naik kelas satu tingkat hanya gara-gara saya baru saja merasakan penderitaan yang lebih ekstrem di kabupaten tetangga. Ajabi banget nggak sih?
Bukan berarti Lamongan berhak jumawa
Tentu saja, tulisan ini bukan bertujuan untuk membela dinas PU Lamongan atau membuat pemerintah daerah berpuas diri lalu menunda perbaikan jalan. Jalanan yang layak dan aman tetaplah hak mutlak bagi setiap warga yang rajin bayar pajak kendaraan.
Namun, perjalanan melintasi Jombang ini memberikan saya sebuah pelajaran berharga tentang perspektif hidup dan rasa syukur yang agak getir. Kadang-kadang, untuk bisa sedikit menghargai apa yang ada di rumah sendiri, kita memang perlu main agak jauh dan merasakan sendiri betapa remuknya tulang belakang orang lain saat berkendara di daerahnya.
Meski demikian, jalan Lamongan hanya lebih baik dari Jombang. Jika dibandingkan dengan Tuban atau Mojokerto, tentu saja jauh tertinggal. Jadi, teruslah bekerja wahai pemerintah daerah Lamongan, rakyatmu masih belum puas dengan seluruh kondisi jalanan Lamongan.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
