Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pemilihan Gubernur Jogja Tak Akan Memberi Dampak Signifikan, Justru Bisa Jadi Masalah Baru!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
29 Juni 2023
A A
Harapan untuk 'Gubernur Baru' Jogja yang Akan Dilantik pemilihan gubernur jogja

Harapan untuk 'Gubernur Baru' Jogja yang Akan Dilantik (Bangoland via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jujur, memikirkan skenario satu ini bikin ketar-ketir. Bikin hati kecil saya berbisik, “ga bahaya ta?” Bagaimana tidak, saya sedang memikirkan skenario paling mindblowing untuk rakyat Jogja (baca: Daerah Istimewa Yogyakarta). Sebuah kemungkinan yang realistis, tapi terkesan ndakik-ndakik. Sebuah situasi yang jelas asing dan tabu: pemilihan gubernur Jogja!

Tapi skenario ini memang menarik. Di satu sisi, banyak yang menjadikan pilgub sebagai olok-olok kepada Jogja. Tapi di sisi lain, banyak yang penasaran dengan kemungkinan ada pemilihan gubernur. Apalagi setiap ada masalah di Jogja, selalu ada yang berseru ada pemilihan gubernur. Seolah-olah masalah Jogja hanya karena ada penetapan gubernur saja.

Tapi apa benar pemilihan gubernur membawa dampak yang sangat besar? Apakah Jogja mendadak baik-baik saja dengan pemilihan gubernur? Apa UMR Jogja mendadak naik? Atau Jogja tetap seperti biasa, istimewa di atas ketimpangan?

Bisakah Kraton Jogja digulung gerakan radikal?

Membayangkan Jogja ada pilgub memang nakal. Tapi yang sering terlewat adalah: bagaimana Jogja bisa mengadakan pemilihan gubernur? Banyak orang membahas gerakan anti-swapraja yang terjadi di Kasunanan Solo pada 1945-1946. Apakah Jogja akan mengalami kejadian serupa? Saya pikir tidak. Situasinya berbeda, apalagi di masa sekarang.

Gerakan anti-swapraja yang digawangi Tan Malaka ini erat dengan komunisme. Sebuah gerakan untuk mencegah para monarki menguasai lahan kembali setelah Indonesia merdeka. Gerakan ini sukses menghancurkan mimpi Daerah Istimewa Surakarta dan Daerah Istimewa Mangkunegaran. Sedangkan Kasultanan Yogyakarta sukses menghalau gerakan ini dan bertahan sebagai DIY. Kalau perkara detail, akan sangat panjang untuk ditulis.

Akan lebih sulit untuk memunculkan gerakan anti-swapraja baru. Pertama, pelarangan ideologi komunisme dan pembredelan ideologi lain membuat gerakan yang ada sulit untuk jadi radikal. Kedua, Indonesia lebih stabil daripada awal kemerdekaan. Yang berarti sudah tidak mengakomodir praktik uji coba politik macam gerakan anti-swapraja.

Terakhir dan paling penting, monarki telah menjadi identitas masyarakat Jogja. Maka segala gerakan anti-monarki akan dipukul oleh para pendukung. Penanaman identitas sejak Indonesia merdeka sukses membangun kekuatan organik untuk mempertahankan kedaulatan monarki Jogja. Terbukti saat geger pencabutan status keistimewaan Jogja di era SBY.

Kecuali ada gerakan yang sangat radikal, status penetapan gubernur Jogja tidak akan tergoyahkan. Dan kemunculan gerakan ultra radikal ini tidak bisa hanya sepercik api saja. Untuk memunculkan gerakan yang didukung massa besar, maka ide atau akarnya harus dalam taraf nasional. Isu UMR bahkan ketimpangan sosial tidak cukup untuk melahirkan gerakan radikal dalam waktu cepat.

Baca Juga:

Panduan Singkat Memahami Keraton Solo, Biar Nggak Nanya “Kenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja?”

Stop Kagum Berlebihan dengan Konten Romantisasi Abdi Dalem Kraton Jogja yang Melarat!

Menuju pemilihan gubernur Provinsi Yogyakarta

Maka yang paling mungkin adalah keputusan pihak Kraton Jogja untuk menarik diri dari panggung politik. Dan situasi akan berbeda dengan Kraton Surakarta pasca gerakan anti-swapraja. Kraton Jogja tidak akan kehilangan kekuatan politik. Bahkan jika mundur karena desakan rakyat, Kraton Jogja masih punya “muka” secara politis. Dan sudah pasti, Kraton Jogja punya pengaruh dalam pemilihan gubernur berikutnya.

Pengaruh macam ini sebenarnya sudah terlihat. Baik secara lokal maupun nasional. Tidak ada tokoh politik, apalagi calon bupati dan walikota, yang berani berseberangan dengan Kraton Jogja. Di tingkat nasional, lihat saja siapa juara bertahan DPD dari Jogja. Dalam skenario ini, pengaruh Kraton Jogja akan terus terjaga. Setiap calon gubernur baru pasti akan merapat ke Kraton. Entah meminta restu, atau menunjukkan sebagai wakil dari Kraton Jogja.

Model politik macam ini juga tidak eksklusif bagi Jogja semata. Tiap daerah punya “sosok” yang akan didekati ketika tahun politik. Sosok yang dihormati rakyat ini, entah dari lini budaya maupun agama, sering menjadi kingmaker. Dan siapa lagi entitas paling dihormati rakyat Jogja sebagai penjaga budaya dan sayidin panatagama? Apalagi penyandang mandat spiritual Jawa.

Para tokoh politik tentu akan memelihara kekuatan sosial ini, karena jelas lebih menguntungkan untuk kampanye. Melawan Kraton Jogja berarti melawan budaya turun temurun yang jelas dinilai berbahaya.

Cycle of power tanpa political will

Apa akibat dari relasi kuasa antara tokoh politik dan Kraton Jogja? Yang terjadi akan mirip dengan siklus Cycle of Power di Eropa abad pertengahan. Ketika raja-raja Eropa dimahkotai Paus, dan Paus masih menjadi produk politik sebelum adanya skema pemilihan conclave. Rumit ya?

Begini gampangnya. Kraton Jogja kan terus dipelihara oleh tokoh politik sebagai pemelihara budaya. Tapi tokoh politik yang terpilih juga berdasarkan restu Kraton Jogja. Masih susah memahami? Coba lihat kultur “petugas partai” di panggung politik nasional. Tidak hanya satu dua partai ya, tapi semua.

Rakyat Jogja tetap akan menaruh rasa hormat pada Kraton. Sehingga segala keputusan politis juga harus senada dengan wejangan dari Kraton Jogja. Jika tidak, tentu rakyat Jogja akan geram dan merasa budaya mereka dilecehkan. Pada akhirnya, keputusan politis daerah akan tetap terikat dengan wejangan tadi. Dan gubernur terpilih akan menjadi sosok rentan ketika mengambil manuver radikal. Yang berarti, tidak adanya political will.

Salah satu sumber masalah Jogja adalah rendahnya political will. Para wakil rakyat tidak berlomba memenuhi aspirasi rakyat sebagai aksi kampanye. Karena rakyat Jogja memang tidak memilih wakil rakyat berdasarkan gebrakan dan tawaran politis. Dan ini memang kental dengan nuansa feodal yang terus terpelihara.

Dalam skenario ini, tidak ada perubahan besar dalam political will tadi. Apalagi gubernur baru akan mempertahankan posisi tanpa gebrakan. Yang terjadi, status quo alias situasi ra cetho ini akan terpelihara. Selama mendapat restu Kraton, sama saja mendapat restu rakyat.

Kraton Jogja menjadi kekuatan ekonomi raksasa

Apakah Kraton Jogja seperti kerajaan di film kolosal. Tentu saja tidak. Kraton Jogja ikut berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Hari ini, Kraton Jogja bukan hanya “penerima mandat” kepemimpinan provinsi, tapi juga kekuatan ekonomi besar. Dan kalau bicara Kraton Jogja, sudah pasti tidak bicara kekuatan ekonomi remeh temeh.

Minimal, Kraton Jogja akan jadi pemilik lahan swasta terbesar di Provinsi Yogyakarta. Apalagi setelah status Sultan Ground (SG) dan Pakualaman Ground (PG) kini legal. Menurut data 1993 saja, luas SG dan PG di Jogja sekitar 3.675 hektare. Ini berarti sekitar 1,15 persen dari total wilayah DIY. Bayangkan 1,15 persen lahan sebuah provinsi dengan pertumbuhan properti positif dimiliki satu keluarga. Padahal, luas SG dan PG terus bertambah dengan masifnya sertifikasi lahan yang terus diklaim pihak Kraton. Entah berapa luas SG ketika skenario pemilihan gubernur ini terjadi.

Selain menguasai lahan, Kraton Jogja juga memiliki 10 perusahaan besar. Dari tambang pasir besi, mal, pabrik rokok, sampai pabrik gula. Dengan aset ini, sudah pasti Kraton Jogja memegang kekuatan ekonomi Jogja. Bahkan dari lahan yang dimiliki, Kraton Jogja bisa mengembangkan sayap lebih luas dengan sistem sewa. Apalagi setelah tidak ada undang-undang keistimewaan. Lahan yang dimiliki lebih bebas dimanfaatkan sebagai kekuatan swasta.

Kenapa ini penting untuk dibahas? Jujur saja, keputusan politis sering dipengaruhi kekuatan ekonomi kan? Isu oligarki memang nyata, dan kekuatan ekonomi sering jadi pondasi keputusan politis. Nah, bayangkan ketika sebuah daerah memiliki raksasa ekonomi. Dan kebetulan, raksasa itu juga memiliki legitimasi historis bahkan metafisis.

Satu orang tidak akan mampu memperbaiki Jogja

Dari skenario ini, apakah Anda bisa menangkap maksud saya? Sekuat apa pun seseorang dalam politik, ia tidak akan mampu mengubah sebuah daerah sendirian. Karena masalah yang dihadapi tidak sesederhana masalahmu dengan pasangan. Jogja juga demikian. Masalah seperti klitih sampai ketimpangan sosial tidak akan bisa diselesaikan satu orang saja! Masalah Jogja tidak akan selesai dengan pemilihan gubernur saja!

Intermezzo, ini juga berlaku untuk skala nasional. Masyarakat sering memandang presiden terpilih bisa membawa perubahan besar. Jika memang demikian, mungkin kita tidak perlu kementerian dan DPR. Realitanya, perubahan tidak hanya hadir dari kemauan satu orang semata. Meskipun Aldi Taher, Boger Boginov atau Lord Takin Garitel jadi presiden, tidak akan ada perubahan besar kalau akarnya masih semrawut!

Jogja juga tidak akan berubah signifikan dengan pemilihan gubernur semata. Perubahan besar terjadi karena kemauan dan keberanian masyarakat untuk memilih langkah radikal. Jika hanya bermodal kotak suara, ya akan sama saja. UMR tidak akan naik dari kotak suara. Begitu pula masalah ekonomi, sosial dan budaya yang lain.

Jadi mending Anda cuci muka dan sikat gigi. Sehingga sadar bahwa mimpi pemilihan gubernur di Provinsi Yogyakarta tidak akan membawa perubahan besar. Pilihannya sederhana, tetap tidur dan memimpikan perubahan, atau……

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mati Tua di Jalanan Yogyakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2023 oleh

Tags: gubernur jogjakraton jogjapemilihan gubernurpemilu 2024
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

5 Alasan Survei Elektabilitas Capres Udah Dibahas H-3 Tahun Pemilu terminal mojok.co

5 Alasan Survei Elektabilitas Capres Udah Dibahas H-3 Tahun Pemilu

24 Oktober 2021
Sudah Waktunya Susi Pudjiastuti Diperhitungkan sebagai Capres

Sebagai Orang yang Nggak Paham Politik, Saya Bingung Mau Pilih Capres yang Mana

16 Januari 2023
Kraton Jogja Ingin Terbuka bagi Kaum Muda dengan Sibuk Renovasi? Nice! terminal mojok.co

Kraton Jogja Ingin Terbuka bagi Kaum Muda dengan Sibuk Renovasi? Nice!

2 Oktober 2021
Memilih Prabowo Subianto karena Gemoy Itu Sesat, Prestasinya Banyak, Masak Milih karena Tren TikTok doang

Memilih Prabowo Subianto karena Gemoy Itu Sesat, Prestasinya Banyak, Masak Milih karena Tren TikTok doang

5 November 2023
Larangan Gaya Foto ASN Jelang Pemilu 2024 Bawa Berkah bagi Saya

Larangan Gaya Foto ASN Jelang Pemilu 2024 Bawa Berkah bagi Saya

9 Desember 2023
Tiang listrik

5 Alasan Tiang Listrik Media Kampanye yang Lebih Efektik ketimbang Baliho

29 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.