Hobi kalian kini jadi pekerjaan?
Dihitung-hitung, sudah lima tahun lebih saya bekerja sebagai penulis. Selama kurun waktu itu, sudah banyak hal yang saya alami dan rasakan. Dari bagaimana rasanya memulai karir sebagai penulis lepas yang tulisannya berserakan di berbagai media, lalu sempat jadi penulis di media nggak jelas yang gajinya sama sekali nggak kelihatan. Sempat juga saya jadi sports writer di salah satu media olahraga baru, hingga saat ini kembali lagi menjadi penulis lepas.
Dari pengalaman kerja yang sebenarnya nggak banyak itu, saya akhirnya punya kesimpulan tentang semesta ini. Selain bahwa dunia media dan penulisan ini medannya berat, saya juga sadar bahwa sampai kapan pun, sepertinya saya nggak akan mendapatkan kebahagiaan dari menulis. Saya mungkin hanya akan dapat materi, nama, popularitas, dan jejaring, bukan kebahagiaan.
Ketika saya ngomong seperti ini, pasti akan ada saja orang yang nggak terima. Apalagi orang-orang terdekat saya, yang tahu bagaimana hubungan saya dengan dunia tulis-menulis. Mereka pasti akan bilang bahwa nggak mungkin saya nggak bahagia dengan menjadi penulis. “Padahal kamu seneng banget kalau disuruh nulis,” kata mereka. Memang, tapi masalahnya bukan itu.
Di balik kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar”
Saya memulai semuanya dari hobi. Sejak SMA, saya sudah mulai menulis. Bukan tulisan yang gimana-gimana, hanya semacam diary saja. Seperti tulisan ini. Saya belum mampu dan belum berani untuk menulis tulisan opini, esai, atau bahkan puisi dan prosa. Terlalu berat, dan saya masih merasa belum punya ilmunya. Belum pede.
Barulah ketika saya kuliah, semua ilmu itu bisa saya dapatkan. Soal gimana caranya menulis esai, menulis opini yang baik, hingga menulis puisi dan prosa yang cantik. Lalu saya tekuni itu semua, dan memberanikan diri mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media-media.
Ada beberapa yang dimuat, tapi juga banyak banget yang ditolak. Tapi ya nggak apa-apa, yang penting saya sudah bisa menulis dan itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Lalu saya kepikiran, sepertinya menarik kalau hobi ini bisa jadi pekerjaan. Seperti kata banyak orang, bahwa pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Saya yang hobinya menulis akan lebih enak kalau pekerjaannya jadi penulis. Akhirnya, saya memutuskan mau berkarier jadi penulis saja.
Eh, ternyata saya banyak salahnya. Saya salah memahami bahwa pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Nggak! Omong kosong itu. Hobi ya hobi, pekerjaan ya pekerjaan. Di kasus saya, dua hal ini nggak seharusnya dijadikan satu. Sebab, jika hobi sudah jadi pekerjaan, tujuannya adalah hasil, bukan kesenangan atau kebahagiaan. Dan, itu nggak enak.
