Gaji telat, bahkan nggak dibayar, hingga nasib penulis di era AI
Pengalaman lima tahun lebih menjalani hobi sebagai pekerjaan (menjadi penulis) rasanya sudah cukup bagi saya untuk mengharapkan kebahagiaan dari menjadi penulis. Saya memang sudah dapat banyak keuntungan, tapi dapat juga banyak sekali kekecewaan.
Saya sudah merasakan gimana nggak sehatnya kerja jadi penulis di media nggak jelas. Merasakan pula gimana rasanya kerja di media yang saya sukai (baik orang-orangnya dan sistem kerjanya), tapi gaji nggak dibayar berbulan-bulan tanpa kejelasan sampai sekarang.
Dan, selama jadi penulis lepas (jadi content writer dan copywriter), saya sudah merasakan gimana capeknya dapat klien yang rewelnya minta ampun, tapi soal fee masih minta negosiasi.
Apalagi di era AI seperti sekarang, nasib penulis seperti saya ini kayaknya makin tersingkir. Orang-orang seperti saya jadi semakin nggak ada guna. Sebagai contoh, pekerjaan content writing dan copywriting yang dulu beberapa kali masuk ke saya, sekarang sudah sangat jarang.
Daripada pakai jasa penulis seperti saya, orang-orang lebih memilih pakai AI, pakai ChatGPT atau Gemini saja. Gratis, nggak keluar biaya.
Situasi seperti ini yang jadi alasan mengapa saya berhenti berharap bahwa dengan menjadi penulis, saya akan menemukan atau mendapatkan kebahagiaan. Rasanya kayak nggak mungkin ada kebahagiaan yang bisa didapat dari kondisi seperti itu. Saya sudah berhenti mengejar ilusi itu.
Karena ungkapan “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong dan situasi yang sedang saya hadapi ini lagi berat-beratnya, saya harus tetap mikir gimana cara mengatasinya.
Mencoba mencari kesibukan lain
Akhirnya, saya memutuskan bahwa menulis sudah seharusnya nggak jadi hobi. Menulis harus saya jadikan sebagai pekerjaan saja, sebagai sebuah tanggung jawab. Apapun situasinya. Sempat kepikiran untuk mencari pekerjaan baru selain menulis. Tapi kayaknya kurang bijak saja di umur saya yang hampir kepala tiga untuk memulai sesuatu dari nol lagi. Mending menekuni dan mengeksplor dunia menulis lebih luas dan lebih dalam lagi.
Selain itu, saya juga akhirnya menemukan aktivitas lain yang bisa menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Dalam beberapa waktu terakhir ini, saya gabung jadi tim live production band teman saya. Intinya membantu mengurus produksi mereka ketika di panggung, lah. Selain itu, saya dan teman-teman lain juga sedang membangun sebuah community media dan community hub di Kota Batu yang akan mulai jalan bulan September besok.
Secara hasil (khususnya materi) memang belum besar bahkan belum kelihatan. Tapi nggak apa-apa, toh, bukan itu tujuan utamanya. Soal materi, biarlah saya cari dari menulis. Tapi, soal kebahagiaan atau kepuasan, kalau memang sudah nggak bisa didapat dari menulis, ya semoga saya bisa menemukannya dari aktivitas lain di luar menulis. Selama ini juga sudah terbukti kok.
Akan tetapi, saya tetap akan menulis kok. Selamanya saya akan menulis. Saya akan tetap menyebut diri sebagai penulis. Apapun yang terjadi. Nggak peduli bakal dapat bahagia atau nggak. Ini jalan yang sudah saya ambil, jalan yang sudah saya mulai. Harus saya tuntaskan. Sampai kapan? Ya sampai saya nggak mampu lagi, atau mungkin sampai saya mati.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
