Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pekalongan Masuk Jawa Tengah, tapi Secara Budaya Lebih Dekat dengan Atlantis

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq oleh Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
28 Februari 2026
A A
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku (Nararya Danuwijaya via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini saya menemukan satu celetukan yang cukup menggelitik di media sosial. Kalimatnya sederhana, tapi nadanya seperti candaan yang terlalu jujur untuk diabaikan: “Pekalongan memang masuk wilayah Jawa Tengah, tapi secara budaya lebih dekat dengan Atlantis.”

Sekilas terdengar seperti guyonan receh khas internet. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada semacam realitas pahit yang tersembunyi di baliknya. Bukan soal budaya batik, bukan soal kuliner, apalagi soal sejarah kota. Candaan itu muncul karena satu hal yang hampir semua orang tahu, Pekalongan adalah kota yang akrab dengan air. Dan kadang, justru terlalu akrab.

Pekalongan, Kota Pesisir yang sudah terlalu biasa dengan genangan

Pekalongan adalah kota pesisir di pantai utara Jawa. Secara geografis, ini bukan hal yang aneh. Banyak kota pesisir punya karakter yang mirip: udara panas, angin laut, dan tentu saja potensi banjir. Masalahnya, di Pekalongan banjir bukan lagi peristiwa musiman yang mengejutkan. Ia sudah seperti tamu lama yang datang tanpa perlu diundang. Musim hujan datang? Air naik. Air laut pasang? Genangan bertambah. Hujan sebentar saja? Beberapa wilayah langsung berubah jadi kolam dadakan.

Dalam situasi seperti ini, warga Pekalongan sering menghadapi kondisi yang bagi orang luar mungkin terasa ekstrem, tapi bagi warga lokal sudah menjadi bagian dari keseharian. Jalan yang tergenang. Rumah yang harus ditinggikan berkali-kali. Pompa air yang bekerja hampir tanpa henti. Dan dari sinilah candaan “Atlantis” itu mulai terasa masuk akal.

Atlantis: mitos yang terasa terlalu dekat

Atlantis dalam cerita legenda dikenal sebagai kota atau benua yang hilang karena tenggelam di bawah laut. Sebuah peradaban besar yang pada akhirnya hanya tinggal cerita. Tentu saja Pekalongan bukan Atlantis sungguhan. Kota ini tetap hidup, aktivitas ekonomi tetap berjalan, dan masyarakatnya tetap bertahan. Tapi metafora itu muncul karena satu hal, di mana air seolah tidak pernah benar-benar pergi.

Di beberapa kawasan pesisir Pekalongan, rob atau banjir air laut bisa datang bahkan tanpa hujan. Air perlahan naik, menggenangi jalan, halaman rumah, hingga fasilitas umum. Akibatnya, banyak warga yang harus beradaptasi dengan cara-cara yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang luar. Ada yang meninggikan rumah berkali-kali. Ada juga yang hidup berdampingan dengan genangan yang seolah sudah menjadi bagian dari lanskap kota.

Ketika kondisi seperti ini terus berlangsung bertahun-tahun, candaan soal “kota Atlantis” akhirnya muncul sebagai bentuk humor sekaligus sindiran. Karena kadang, humor adalah cara paling sederhana untuk menghadapi kenyataan yang sulit.

BACA JUGA: Pekalongan Itu Nggak Cocok Dijadiin Kota Wisata, Pemerintah Jangan Ngeyel

Baca Juga:

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Candaan yang sebenarnya sindiran

Kalimat tentang Pekalongan dan Atlantis muncul dengan nada bercanda disertai komentar santai. Tapi kalau dilihat lebih dalam, candaan itu sebenarnya membawa pesan yang cukup serius. Ia seperti pengingat bahwa ada persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap remeh. Kenaikan muka air laut, penurunan tanah, dan sistem drainase yang tidak selalu mampu mengimbangi kondisi alam membuat kota pesisir seperti Pekalongan menghadapi tantangan besar.

Masalahnya bukan sekadar genangan sesaat. Ini soal bagaimana sebuah kota bertahan dalam jangka panjang. Apalagi Pekalongan bukan kota kecil tanpa aktivitas. Ia dikenal sebagai Kota Batik, pusat industri kreatif yang punya nilai budaya dan ekonomi penting. Bayangkan jika kota dengan identitas sekuat itu terus-menerus harus berjuang melawan air. Candaan “Atlantis” mungkin membuat orang tertawa. Tapi di balik tawa itu ada pertanyaan yang sebenarnya cukup serius, sampai kapan kondisi ini akan dibiarkan seperti ini?

Yang paling menarik dari cerita Pekalongan sebenarnya bukan hanya soal banjirnya. Tapi soal bagaimana warganya menghadapi kondisi tersebut. Banyak orang luar mungkin akan menganggap situasi itu berat. Tapi bagi warga Pekalongan, ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Air datang dan pergi, tapi kehidupan tetap berjalan.

Namun, tidak semua hal harus dibiasakan. Sebab, kalau suatu kota sampai harus terbiasa hidup dengan genangan hampir setiap musim, mungkin yang perlu dibenahi bukan hanya cara bertahannya, tapi juga cara mengatasinya.

Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kota Kreatif, Pembangunan Terbaik, dan Kebohongan Lain tentang Kota Pekalongan yang Harus Diluruskan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Februari 2026 oleh

Tags: atlantisKabupaten Pekalonganpekalonganpekalongan banjir
Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Mahasiswa kabupaten yang sering pulang untuk mengamati rumah sendiri yang perlahan berubah. Menulis bareng AI, sambil terus berjuang membaca keadaan.

ArtikelTerkait

Rekomendasi Warung Sego Megono Pekalongan yang Low Budget untuk Menu Sarapan terminal mojok

Rekomendasi Warung Sego Megono Pekalongan yang Low Budget untuk Menu Sarapan

8 Juli 2021
Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

6 April 2025
Dosa Warga Pekalongan Bikin Bahaya Tenggelam Makin Dekat (Unsplash)

Dosa Warga Pekalongan Bikin Bahaya Tenggelam Makin Dekat

7 Februari 2023
Betapa Pentingnya Kehadiran McDonald’s di Pekalongan

Betapa Pentingnya Kehadiran McDonald’s di Pekalongan

16 September 2023
Warmindo di Pekalongan (Unsplash.com)

Beberapa Warmindo di Pekalongan Bukan Tempat yang Menyenangkan

19 Juni 2022
Tak Melulu Soal Batik, Pekalongan Harusnya Juga Bangga Memiliki Hutan Hujan Tropis Petungkriyono yang Menakjubkan

Tak Melulu Soal Batik, Pekalongan Harusnya Juga Bangga Memiliki Hutan Hujan Tropis Petungkriyono yang Menakjubkan

17 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

23 Februari 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.