Pasangan Hidup yang Beda Aliran atau Mazhab Itu Punya Keuntungan, Loh! – Terminal Mojok

Pasangan Hidup yang Beda Aliran atau Mazhab Itu Punya Keuntungan, Loh!

Featured

Nasrulloh Alif Suherman

Sebulan yang lalu saya menulis pengalaman saya yang pernah berpacaran dengan seorang jamaah, judul tulisannya, “Pengalaman Saya yang Pernah Pacaran dengan Seorang Jamaah atau Syarifah“. Kurang lebih isinya menceritakan bagaimana lika-liku dan “tantangan” yang saya alami saat itu. Nyatanya tidak cukup sampai di situ saja perbedaan yang pernah kami alami. Perbedaannya tidak sekadar nasab, tapi juga aliran atau mazhab. Saya seorang Sunni dan dia seorang Syiah. Percayalah, kadang beda aliran bagi pasangan hidup itu lebih susah dibandingkan dengan beda agama. Wqwqwq, sotoy banget, dah.

Memang, perbedaan dalam aliran tersebut membuat kami jadi sangat jauh berbeda dalam memandang satu hal. Namun, hal ini bukan berarti jadi penghalang yang gimana-gimana juga. Intinya kami saling respek, makanya santai saja. Tidak kepanasan seperti oknum-oknum yang teriak-teriak, “Sesat, sesat, dan sesat!” dan doyan mengkafirkan orang beda pendapat.

Kali ini saya akan menceritakan keuntungan punya pasangan hidup beda aliran, sebagian besar dari yang saya alami, dan tentu saja ini untuk siapa pun yang sedang, pernah atau ingin merasakan. Jadi, kira-kira pesannya saya buat seuniversal mungkin, lah. Tipis-tipis saya coba. Inilah keuntungan memiliki kekasih beda aliran/mazhab.

#1 Bisa langsung tabayun

Tak kenal maka tak sayang, kira-kira begitulah kebanyakan dari kita (hah, kita?) saat pertama kali mengenal sesuatu. Nggak kenal, maka tidak ada rasa sayang, dan gampang untuk ngegasss. Dalam beragama pun begitu. Nggak usah jauh-jauh beda agama, wong saat melihat aliran/mazhab yang berbeda saja kadang-kadang saling ngatain sesat.

Saat saya kecil, dulu sekali, yang sering saling menghina sesat adalah warga Nahdliyin dan Muhammadiyah. Perkara seperti tidak qunut, tidak tahlil, tidak ziarah sampai membuat orang tidak sungkan untuk ngatain sesat dan menyesatkan. Padahal, itu bukanlah hal yang harus sampai menghina orang sesat.

Nah, dengan memilih kekasih yang beda aliran maka kita bisa langsung bertanya langsung untuk menghindari kesalahpahaman. Pasti banyak tuh cerita dan kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, yang mana sangat menyudutkan aliran tertentu. Dengan memiliki kekasih yang beda aliran, apalagi yang alirannya sering dikabarkan simpang siur, maka kita bisa tabayun dan mencari jalan tengahnya.

#2  Menambah rasa toleransi

Ini lumayan penting, sih. Toleransi dalam beragama, khususnya dalam perbedaan aliran atau mazhab juga masih sangat perlu ditingkatkan. Terlepas dari perbedaan aliran yang misalkan sangat jauh berbeda, mereka tetap warga negara yang harus dihormati haknya sebagaimana warga negara lainnya.

Kalau punya kekasih beda aliran, otomatis rasa toleransi tersebut akan terus meningkat! Apalagi, landasannya adalah cinta. Woilah. Iya, insyaAllah jadi rasa toleransi yang dirasakan adalah tulus, bukan karena paksaan atau dipaksa. Bukankah indah kalau misalnya saling toleransi?

#3 Menambah pengetahuan, khususnya akademisi

Seorang akademisi memiliki tugas yang sangat berat, kira-kira mencerdaskan orang-orang, minimal di lingkungan atau sekitarnya. Dengan demikian, maka memiliki pasangan hidup yang beda aliran atau mazhab memberikan jalan untuk menambah pengetahuan tersebut. Sebab, dengan memiliki pasangan hidup yang beda aliran, maka akan ada pengetahuan baru yang akan masuk, kemudian bisa disebarluaskan.

#4 Membuka pintu ijtihad

Tentu saja hal ini menjadi salah satu kemungkinan dan keuntungan jika memiliki pasangan hidup yang beda aliran. Namun, tentunya kisanak haruslah menjadi orang yang ahli dan eksper dalam hukum agama. Baik itu masalah nasikh dan mansukh, ushul fiqih, pintar dalam bahasa Arab, dan sederet syarat berat lainnya. Jadi, untuk keuntungan yang terakhir ini agak eksklusif gitu, yhaaa.

Akan tetapi, di samping keuntungan di atas, tetap saja memiliki kekasih yang beda aliran atau mazhab lagi-lagi akan menuai banyak kesusahan. Mungkin dari diri sendiri atau pasangan hidup sudah saling mengerti, tapi kan tetap ada keluarga dan masyarakat yang pasti akan melihat sinis. Apalagi, kalau kamu hidup di lingkungan yang tidak heterogen, dipastikan akan sangat susah sekali. Sekalinya tembus, pasti tetap akan ada drama kecil-kecilan.

BACA JUGA Jangankan Cinta Beda Agama, Cinta yang Satu Agama Itu Tak Semudah yang Kamu Kira dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Baca Juga:  Ngaji Mazhab Khusyuk atau Mazhab Santuy, Pilih Mana?
Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
4


Komentar

Comments are closed.