Berlokasi di selatan Pulau Jawa, Daerah Istimewa Yogyakarta punya garis pantai yang cukup panjang. Tiga kabupaten di provinsi ini, yaitu Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul ini kebagian garis pantainya. Uniknya, meskipun sama-sama berasal dari Samudera Hindia, lanskap pantainya berbeda-beda.
Pantai di Kabupaten Bantul cenderung memiliki garis pantai yang panjang dengan ombak besar dan pasir hitam. Sementara itu, pantai di Kabupaten Gunungkidul lebih beragam dengan karakteristik berbeda-beda karena ada pantai yang pasirnya hitam maupun putih, bertebing karst, hingga pantai kecil dan tersembunyi.
Saya tinggal di Jogja Kota yang mana sama-sama jauh dan sama-sama harus effort jika pengin main ke pantai. Pantai Bantul mungkin tampak lebih boring dibandingkan pantai Gunungkidul yang sering berseliweran tampil di feeds Instagram. Tapi jika keduanya dibandingkan, sebagai warga lokal saya merasa pantai Bantul jauh lebih worth dibandingkan pantai Gunungkidul.
#1 Akses pantai Bantul jauh lebih mudah
Ibaratnya, kalau saya mau main ke pantai Bantul, saya nggak perlu mempersiapkan apa pun selain bensin untuk kendaraan saya. Soalnya, akses jalan menuju pantai Bantul itu sangat mudah. Jalan relatif datar, tikungan sedikit, nggak banyak tanjakan panjang, dan tentunya lebih nyaman untuk pengguna motor matic seperti saya.
Sementara untuk sampai ke pantai Gunungkidul, saya harus menyiapkan kendaraan dengan sangat prima, seakan-akan saya mau pergi touring ke luar kota. Sebelum bisa tiba di pantai yang estetik, kita harus menaklukkan banyak tanjakan dan turunan serta jalan yang berkelok di sepanjang Gunungkidul. Pemula maupun pengguna motor tua atau matic pasti akan merasa lebih capek.
#2 Pantai Bantul cocok untuk healing dadakan
Mengingat hampir nggak butuh persiapan apa pun menuju ke sana, pantai Bantul sangat cocok disambangi untuk healing dadakan. Semisal tiba-tiba jam 2 siang kita pengin mantai, bisa banget kok main ke pantai Bantul.
Perjalanan menuju pantai Bantul nggak begitu makan waktu dan tenaga. Pulang malam pun nggak perlu takut karena jalur lintas selatan tetap ramai meskipun sudah malam. Hal ini karena banyak perkampungan hingga penjual makanan di sepanjang jalur pulang.
Saya jadi ingat video TikTok yang pernah saya tonton. Pelancong pantai Gunungkidul pulang kemalaman lalu di perjalanan pulang harus melintasi hutan dan jalur sepi, sementara nggak ada penerangan yang memadai dan nggak ada pengendara lain yang menemani. Kan jadi horor.
#3 Lebih ramah di kantong
Mantai dengan suasana yang merakyat bisa kita rasakan di pantai Bantul. Nggak perlu takut harga makanan kemahalan, jajan di sekitar pantai Bantul harganya cenderung lebih terjangkau.
Misalnya, di Pantai Depok kita bisa mencicipi hidangan seafood dengan harga yang lebih murah dibandingkan di Pantai Indrayanti, lengkap dengan kelapa mudanya. Selain itu, pulang dari pantai kita juga bisa beli hasil panen langsung dari petani.
Beberapa waktu lalu bapak dan ibu saya main ke Pantai Goa Cemara, lalu pulang membawa oleh-oleh bawang merah yang dibeli dari petaninya langsung. Harganya Rp44 ribu per kilo, sementara harga di pasar di Jogja Rp60 ribu per kilo. Saya juga sering kali mampir beli ubi jika kebetulan lagi main di pantai tersebut. Terkadang harga yang ditawarkan di sekitar pantai Bantul ini jauh lebih bersahabat dibandingkan beli di pasar di Jogja.
#4 Cocok untuk menikmati suasana, bukan untuk berburu konten
Warga lokal main ke pantai belum tentu untuk berburu foto yang estetik untuk memperbarui feed Instagram. Pantai menjadi salah satu tempat bagi warlok untuk sekadar duduk, makan Pop Mie, minum kopi, sembari melihat matahari tenggelam. Terkadang juga pantai menjadi tempat makan bareng keluarga di atas tikar.
Oleh karena itu, warlok yang memang tinggal di situ dan punya banyak waktu untuk mengeksplorasi pantai yang berbeda lain waktu nggak butuh “tour de pantai”. Wisatawan dari luar Jogja yang main ke Gunungkidul umumnya sekalian main ke tiga pantai karena sayang sudah jauh-jauh datang. Di pantai Bantul, satu pantai cukup, tapi duduk melamunnya tiga jam.
Pantai Gunungkidul memang menawarkan aktivitas yang lebih beragam, seperti snorkeling, cliff view, hingga camping. Tapi sebagai warlok, saya masih merasa bahwa pantai Gunungkidul itu lebih cocok dikunjungi kalau ada teman atau saudara dari luar kota. Soalnya pantainya lebih “wah” dan lebih banyak hal yang bisa mereka cicipi langsung di pantai Gunungkidul.
Tapi bagi saya sebagai warlok, sekadar duduk diam sambil menikmati terpaan angin dan suara deburan ombak di pantai Bantul sudah sangat cukup. Mungkin sesekali saya main ke pantai Gunungkidul, tapi paling beberapa tahun sekali. Untuk tempat healing rutin, pantai Bantul lebih worth it.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
