Panjang Umur untuk Senior yang Nggak Baper saat Diledek Balik – Terminal Mojok

Panjang Umur untuk Senior yang Nggak Baper saat Diledek Balik

Artikel

Namanya pergaulan pasti akan selalu ada selama kita adalah makhluk sosial. Makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya, saling menyapa, berbicara, berteman, dan saling meminta bantuan. Selama masih butuh bicara dengan orang lain, kita akan selalu bergaul di mana pun kita berada. Mau di rumah, di sekolah, kampus, sampai di tempat bekerja selalu akan ada pergaulan.

Begitupun dengan saya sebagai manusia yang juga melakukan hubungan sosial. Bergaul adalah cara saya menunjukkan diri sebagai makhluk sosial. Setiap saya menapaki tempat bertemu orang baru, maka saya akan mencoba untuk melakukan interaksi sosial ke setiap orang yang saya ajak kenalan. Bergaul juga menjadi salah satu cara untuk menambah wawasan dan jaringan, loh. 

Namun, yang namanya bergaul itu tetap harus tahu batasan dan sekat-sekat yang mengaturnya. Kita mesti paham dan tahu kalau bergaul itu harus melihat siapa yang kita aja bergaul. Tentu cara bergaul dengan teman yang sebaya berbeda dengan orang yang lebih tua, apalagi yang tuanya seperti orang tua kita atau lebih. Harus lebih sopan, menggunakan kalimat yang tidak kasar, dan harus bertutur kata yang baik. Ada norma yang mengatur. 

Tetapi saya sendiri sering menemui ada beberapa orang yang santai, dan merasa bergaul dengan yang lebih muda tidak perlu terlalu kaku-kaku amat. Berbicara santai dan casual oke saja, tapi kita sebagai yang muda tetap harus paham posisi bagaimana memperlakukan yang lebih tua umurnya. Bukannya apa-apa, selain karena ini masalah sopan santun di sisi lain sopan ke orang lain tidak salah karena membuat orang lain pun segan ke kita.

Saya juga termasuk orang yang santai dan biasa saja masalah pergaulan, nggak mesti tuh kalau ada adik tingkat yang ketemu saya terus salim-salim dan nunduk. Mau ngomong gua-lu juga boleh, nggak mesti juga kalau kumpul duduk lebih rendah dari saya. Saya bukan orang feodal, masih manusia biasa. Yang penting, bebas tapi santun saja. Kepada senior pun demikian, saya walaupun merasa dekat kalau senior itu juga baik saya akan sungkan untuk songong, wqwqwq. 

Saat bercanda pun seadanya saja, atau mau meledek yang batas wajar saja. Tahu tempat, situasi, dan kepada siapa dulu kita meledek. Kalau memang teman dekat, silahkan saja karena biasanya bisa saling balas tanpa sakit hati. Kalau senior bagaimana? Tergantung, kalau senior meledek duluan ya ledek balik. Kalau tidak, ya diam saja dong. 

Masalahnya, mohon maaf ini mah untuk para senior yang suka meledek tapi diledek balik sakit hati alias baper. Kalian nggak asyik, tahu!

Saya tahu, sebagai junior yang baik memang harus sopan dan harus manut saat ada perintah dari senior (ampun senior). Namun, ya harus ada timpal balik yang setara atuh, Bang. Bukannya ngelunjak, kadang-kadang yang suka melakukan hal-hal yang nyebelin dan meledek itu saat dibalikin baper dan ngancem bawa-bawa angkatan. Mohon maaf, kok cemen sih kaya orang kurang kerjaan saja. Sudah besar, lagian angkatan sendiri juga males kalau begitu, Bro. 

Mendingan deh kalau senior macam itu suka jajanin, traktir rokok dan kopi, sama royal saat nongkrong bareng. Masih asyik kalau begitu. Ini mah sudah banyak gaya, banyak lagak, sok pintar dan merasa paling jago (ampun bang jago), ngeremehin saran orang, eh dianya jarang jajanin, atau saat junior butuh bantuan nggak bisa bantuin. Hasshhhh, ari maneh tong loba gaya kehed.

Untuk senior-senior di luar sana yang masih seperti itu, tolonglah baca tulisan ini dan mikir atuh geura! Capek hati melihat kelakuan, bukannya mikir udah gede masih aja ego ditinggiin. Orang-orang bukannya hormat, nanti wibawa ente yang hilang. Jadi senior yang baik-baik saja, boleh tengil asal santun dan baik juga ke junior. Jangan banyak gaya tapi nggak kongkrit, eling sia teh! 

Teruntuk senior-senior yang baik di luar sana, yang tidak banyak gaya dan konkret, serta tahu cara bergaul dan memperlakukan junior dengan baik, jempol untuk kalian. Panjang umur untuk senior yang meledek, saat diledek balik tidak baper. Intinya, kalau tahu risiko berarti siap dengan konsekuensi. Yang penting mah tahu diri dan etis, euy.

Ampun, Bang. Siap salah. Apa perintah?

BACA JUGA Maha Benar Senior dengan Segala Firmannya dan tulisan Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Baca Juga:  Jangan Hanya Demo Suarakan Hak Petani, Indonesia Juga Krisis Petani Muda!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.